MALANG POST – Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru Universitas Muhammadiyah Malang, meluncurkan program Bonding in Action di SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Senin (7/9/2026), guna mengatasi krisis waktu berkualitas antara orang tua dan anak serta mencegah penurunan empati pada perkembangan anak.
Krisis waktu berkualitas (quality time) antara orang tua dan anak bukan sekadar persoalan kurangnya waktu berkumpul. Kesibukan pekerjaan dan aktivitas harian membuat interaksi keluarga semakin terbatas.
Padahal, dari ruang inilah anak belajar berkomunikasi, mengenali emosi, membangun empati, hingga memahami orang lain. Ketika interaksi tersebut semakin menyempit, fondasi hubungan sosial anak pun berisiko melemah.
Melihat persoalan tersebut, mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2026 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Bonding in Action. Sebuah program yang mengajak orang tua dan anak menghidupkan kembali quality time melalui aktivitas sederhana, menyenangkan, dan bermakna. Rangkaian kegiatan dilaksanakan secara bertahap mulai 17 Agustus hingga puncaknya pada 10 Oktober 2026.
Gagasan ini lahir setelah mahasiswa melakukan observasi di SD Muhammadiyah 4 Kota Malang saat kegiatan acara keluarga (family gathering). Mereka menemukan sejumlah orang tua masih disibukkan oleh aktivitas masing-masing sehingga kesempatan berinteraksi secara penuh dengan anak menjadi terbatas. Temuan tersebut mendorong mahasiswa menghadirkan alternatif kegiatan yang mudah diterapkan keluarga di tengah kesibukan.
Keluarga merupakan struktur sosial terkecil sekaligus fondasi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, renggangnya interaksi orang tua dan anak berpotensi merembet ke lingkungan yang lebih luas.

Minimnya pendampingan dan interaksi emosional dapat membuat anak mengalami kesulitan dalam membangun relasi, mengelola konflik, berempati, serta beradaptasi di sekolah maupun masyarakat. Jika berlangsung secara masif, persoalan di tingkat keluarga dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih besar dan memengaruhi kualitas generasi pada masa depan.
Ketua Pelaksana Bonding in Action, Adhista Dhevy Ichsannanda, mengatakan bahwa program tersebut dirancang agar keluarga memiliki ruang berinteraksi tanpa harus menyediakan waktu khusus yang panjang.
“Bonding in Action kami rancang agar quality time dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, menyenangkan, dan bermakna. Kami ingin orang tua dan anak memiliki ruang untuk berkomunikasi, bekerja sama, serta saling mendengarkan tanpa bergantung pada gawai,” jelasnya.
Bonding in Action dikemas melalui tiga aktivitas utama. Grow Together (Berkebun Bersama) mengajak orang tua dan anak menanam serta merawat tanaman. Letters for Tomorrow (Surat Masa Depan) menjadi ruang untuk menuliskan pesan, harapan, dan doa satu sama lain. Sementara itu, Jar of Joy berisi tantangan quality time yang dapat dilakukan keluarga di rumah.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, mahasiswa menyiapkan Family Bonding Toolkit yang berisi buku panduan, templat (template) surat, bibit dan media tanam, perlengkapan Jar of Joy, kartu tantangan, serta kode QR (QR Code) yang terhubung dengan dasbor (dashboard) dan Google Form.
“Hal yang terpenting bukan apakah aktivitasnya dilakukan secara sempurna, melainkan proses ketika orang tua dan anak hadir bersama. Dari berkebun, menulis surat, sampai tantangan quality time, semuanya menjadi kesempatan membangun komunikasi dan kebiasaan positif dalam keluarga,” urainya.
Dosen pembimbing Projek Kepemimpinan PPG, Aninda Nidhommil Himma, M.Pd., menilai bahwa program tersebut menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa sebagai calon pendidik. Mereka belajar mengidentifikasi kebutuhan, merancang solusi, melaksanakan, mengevaluasi, hingga menyiapkan keberlanjutan program.
“Projek ini melatih mahasiswa menjalankan proses identify, plan, act, evaluate, and sustain. Mereka tidak hanya belajar mengajar, melainkan juga belajar memimpin, berkolaborasi, menyelesaikan masalah, dan mengambil peran di tengah masyarakat,” tegasnya.
Melalui Bonding in Action, mahasiswa PPG UMM berharap quality time tumbuh menjadi kebiasaan melalui aktivitas sederhana. Kehadiran, perhatian, dan komunikasi yang konsisten diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan orang tua dan anak, melainkan juga membantu membentuk individu yang mampu membangun relasi sosial secara sehat. Penguatan keluarga pun menjadi langkah awal dalam membangun masyarakat dan generasi yang lebih kuat. (*/M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




