MALANG POST – Mahasiswa Teknik Industri UMM, Ahmad Zaipan Rifa’i, menyerahkan mesin pencacah dan pelebur limbah botol plastik di Kampung Biru Arema, Kota Malang, Minggu (6/9/2026), guna mengolah sampah menjadi produk cenderamata sekaligus mengembangkan daya tarik wisata edukasi berbasis pemberdayaan masyarakat.
Limbah botol plastik di Kampung Biru Arema (KBA), Kota Malang, kini diolah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi. Inovasi berupa mesin pencacah dan pelebur plastik ini dikembangkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahmad Zaipan Rifa’i.
Alat tersebut diharapkan tidak hanya membantu pengelolaan sampah, melainkan juga mendorong pengembangan wisata edukasi di kawasan tersebut.
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UMM angkatan 2023 itu menggagas inovasi tersebut setelah melihat perkembangan pariwisata Kota Malang yang masih banyak mengandalkan daya tarik visual.
Pria yang juga seorang Duta Wisata Kota Malang itu menilai kampung tematik memiliki peluang untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih interaktif dan edukatif.
“Kami ingin menciptakan wisata tambahan berupa edukasi yang menjadi salah satu syarat pengembangan pariwisata. Ini menjadi langkah mengubah visual tourism menjadi education tourism melalui pemanfaatan mesin pencacah plastik, yaitu memutar ulang sampah menjadi karya,” ungkapnya.

Menurutnya, Kota Malang memiliki potensi besar dengan keberadaan 23 kampung tematik. Kecamatan Klojen menjadi salah satu kawasan yang memiliki sejumlah destinasi tematik dengan lokasi berdekatan. Kondisi tersebut dinilai potensial untuk dikembangkan melalui konsep wisata yang tidak hanya menawarkan visual, melainkan juga aktivitas edukasi bagi pengunjung.
Mesin tersebut dikembangkan melalui riset bersama dosen Teknik Industri UMM dengan melibatkan ketua program studi (kaprodi), mahasiswa, serta pihak ketiga dalam pengerjaan teknis. Proses pembuatannya berlangsung sekitar satu bulan, mulai 15 Juni hingga 15 Juli 2026, dengan biaya sekitar Rp7,15 juta.
Cara kerja mesin cukup sederhana. Botol plastik dimasukkan untuk dicacah menjadi serpihan kecil, kemudian dipanaskan dan dilebur menggunakan cetakan hingga menghasilkan lembaran atau bentuk tertentu. Material tersebut selanjutnya dapat dikreasikan oleh warga menjadi berbagai produk, seperti tatakan gelas dan gantungan kunci khas Kampung Biru Arema.
“Saya juga ingin inovasi ini menjadi peluang ekonomi baru bagi warga Kampung Biru Arema agar dapat mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomis,” ujarnya.
Mesin ini memiliki dua fungsi utama, yakni mencacah dan melebur plastik. Kehadirannya diharapkan mempercepat pengolahan limbah sekaligus membuka ruang bagi warga untuk terlibat dalam produksi dan penjualan cenderamata kepada wisatawan.
Pemilihan KBA sebagai lokasi penerapan menjadi langkah awal untuk menguji konsep pemberdayaan masyarakat berbasis pengelolaan sampah dan wisata edukasi.
Respons masyarakat pun positif. Warga berharap inovasi tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata sekaligus membuka peluang mata pencaharian baru.
Gagasan ini juga menjadi bagian dari program kerja Zaipan dalam ajang Pemilihan Duta Wisata Raka Raki Jawa Timur 2026. Ke depan, Zaipan berharap mesin tersebut memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan perekonomian warga.
Ia ingin inovasi itu menjadi contoh kolaborasi mahasiswa, kampus, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi sederhana yang mampu memberikan nilai tambah bagi pengelolaan sampah serta pariwisata, sekaligus dapat diterapkan di kampung wisata lain. (*/M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




