MALANG POST – Maestro seni keramik Muchlis Arif meluncurkan buku dan menggelar pameran bertajuk “Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian” di Matahati Ceramic, Kota Batu, Minggu (6/9/2026), guna mendokumentasikan rekam jejak serta pengetahuan 40 tahun perjalanannya membangun ekosistem seni rupa.
Menekuni seni keramik selama empat dekade bukan perkara mudah, terlebih ketika bidang tersebut kian sepi peminat dan proses berkaryanya penuh risiko. Namun, bagi maestro seni keramik Muchlis Arif, jalan panjang itu justru menjadi ruang untuk terus belajar, berkarya, sekaligus membangun ekosistem seni.
Perjalanan tersebut kini dituangkannya dalam sebuah buku dan pameran bertajuk Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian. Pameran yang digelar di Matahati Ceramic, Kota Batu, itu resmi dibuka dan berlangsung hingga 5 Oktober 2026.
Pembukaan pameran dihadiri oleh akademisi, seniman, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Kebudayaan RI bertajuk Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro.
Muchlis Arif mengatakan bahwa predikat maestro bukan sesuatu yang bisa diajukan sendiri. Pengusulan dilakukan oleh lembaga atau pihak lain untuk kemudian dinilai dan ditetapkan oleh kementerian.
“Maestro itu merupakan sebuah anugerah yang diusulkan oleh orang lain, tidak boleh sendiri. Ada lembaga yang mengusulkan ke kementerian dan diterima,” ujar Arif.
Setelah menerima predikat tersebut, Arif mendapat tanggung jawab untuk mendokumentasikan karya sekaligus pengetahuannya selama berkesenian. Dokumentasi karya dituangkan dalam bentuk katalog, sedangkan perjalanan dan pengetahuannya dibukukan dalam Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian.
Buku tersebut merekam perjalanan kesenimanannya sejak 1986 hingga 2026. Tidak hanya berisi karya, buku ini juga memuat arsip dan perjalanan panjang Arif dalam menekuni dunia keramik dan seni rupa.
Pameran pun tidak hanya berlangsung di Matahati Ceramic. Sejumlah karya instalasi dan lukisan dari rentang perjalanan 40 tahun tersebut juga dipamerkan di Sukahati Art Space. “Ini karya instalasi dan karya lukis saya sejak 1986 sampai 2026,” katanya.

LUNCURKAN: Maestro seni keramik, Muchlis Arif saat meluncurkan sebuah buku dan menggelar pameran bertajuk Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Bagi Arif, predikat maestro tidak lantas membuat dirinya berhenti berkarya. Ia justru memandang penghargaan tersebut sebagai bagian dari perjalanan yang harus terus dilanjutkan. “Saya biasa saja karena sudah setiap hari begini. Seperti yang diajarkan orang tua saya, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak,” tuturnya.
Prinsip tersebut pula yang membuatnya terus mengembangkan keramik. Berawal dari lempung, ia ingin menghasilkan karya yang tidak berhenti sebagai benda seni, melainkan juga memberi manfaat bagi masyarakat.
Selama ini, Matahati Ceramic juga dikembangkan sebagai ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan dunia seni. Tempat tersebut menjadi ruang pameran, pembelajaran, hingga residensi seniman.
Dalam rangkaian kegiatan kali ini, terdapat pula agenda internasional yang digelar secara paralel di Sukahati Art Space. Sebelumnya, selama dua bulan, lima seniman dari lima negara menjalani program residensi di Kota Batu. Karya mereka kemudian dipamerkan dalam agenda bertajuk Ada Rasa.
Arif mengakui bahwa menjadi seorang keramikus bukan jalan yang ramai. Ketika memulai perjalanan pada 1986, ia bahkan menyebutnya sebagai “jalan sunyi”. “Awalnya ini jalan sunyi, tidak punya teman,” kenangnya.
Namun, pesan sang kakak membuatnya bertahan. Arif diminta tidak khawatir ketika harus berjalan sendirian. “Jangan khawatir kalau kamu sendiri, berarti kamu yang pertama,” ujarnya menirukan pesan sang kakak.
Pesan itu kemudian ia pegang. Arif menghabiskan waktu berjam-jam di studio untuk menempa kemampuan. Bahkan, ia menyebut seorang seniman harus mampu menghabiskan waktu hingga 1.000 jam di studio jika diperlukan. “Kalau bekerja kan berangkat pukul 07.00, pulang pukul 16.00. Kalau seniman, di dalam studio sampai lupa waktu,” katanya.
Ketika mulai jenuh, ia memilih keluar dari studio untuk menemui seniman-seniman yang dianggapnya hebat. Perjalanan itu membawanya ke berbagai daerah, mulai dari Jawa Timur, Jakarta, Bali, hingga Yogyakarta. Tujuannya sederhana, yakni menimba pengalaman dan membawa pulang energi baru untuk kembali berkarya.
Dari perjalanan seorang diri tersebut, Arif kemudian ingin membuka jalan agar semakin banyak orang mengenal keramik. Ia membangun ekosistem seni dari lingkup kecil hingga perlahan berkembang. Menurutnya, ketertarikan terhadap keramik bisa tumbuh setelah seseorang mencoba dan memahami prosesnya.
Kini, orang-orang datang ke Matahati Ceramic dengan latar belakang berbeda. Ada yang awalnya tidak memahami seni keramik, sekadar mengenal gelas atau benda-benda sehari-hari, kemudian mulai tertarik mempelajari proses di baliknya.
“Tidak hanya menumpuk karya, melainkan juga sebuah proses dari pengenalan itu sendiri. Akhirnya banyak orang belajar ke sini, senang mengajak keluarga dan teman-temannya,” katanya.
Empat dekade kemudian, jalan yang dahulu sunyi itu mulai dipenuhi orang. “Membangun ekosistem sendiri dari yang kecil. Konsisten, berkomitmen, bertanggung jawab selama bertahun-tahun. Alhamdulillah bisa jalan membangun ekosistem seni sendiri,” ujar Arif.
Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Joko Susilo, menilai bahwa pemberian predikat maestro kepada Muchlis Arif menjadi kebanggaan bagi Kota Batu dan Malang Raya.
Menurutnya, istilah maestro memiliki makna yang tidak sederhana. Dalam konteks budaya Jawa, maestro dapat dimaknai sebagai empu, yakni sosok yang memiliki kemampuan dan kepakaran tertentu hingga diakui.
“Maestro itu kalau dalam bahasa Jawa empu. Empu merupakan seseorang yang memiliki kemampuan tertentu dan itu sudah diakui kepakaran serta kepiawaiannya,” jelasnya.
Menurut Joko, perjalanan Arif hingga mendapatkan predikat tersebut juga memiliki dasar yang kuat. Selain memiliki latar belakang akademik dan menekuni pengetahuan keramik secara khusus serta seni rupa secara umum, karya-karyanya telah mendapatkan apresiasi hingga tingkat internasional.
“Dari sisi karya sudah jelas terbukti mendapatkan pengakuan tidak hanya skala regional dan nasional, melainkan juga internasional,” katanya.
Joko juga menilai judul buku Jatuh Cinta Totalitas Sebuah Pengabdian sangat menggambarkan perjalanan Arif selama 40 tahun berkesenian. Menurut dia, hal yang dilakukan Arif bukan sekadar pengabdian, melainkan ada komitmen, cita-cita, dan tanggung jawab yang terus dipertahankan hingga saat ini.
“Ini adalah bukti keinginan, cita-cita, dan tanggung jawab bisa menjadi seorang seniman yang baik serta akademisi yang mumpuni. Seni untuk seni itu sendiri, tetapi tidak hanya berhenti di situ, melainkan seni untuk kebermanfaatan masyarakat,” paparnya.
Sementara itu, akademisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Djuli Djatiprambudi, mengatakan bahwa profesi keramikus saat ini semakin jarang ditekuni. Bahkan, dalam konteks Indonesia, keramikus masih kerap dipandang sebatas “tukang keramik”. Padahal, proses berkarya dalam keramik membutuhkan pengetahuan, ketekunan, dan pengalaman panjang.
“Keramik itu kerja serius. Mengolah tanah, proses pembakaran, proses glasir, hingga proses pembentukannya, itu semua proses serius yang membutuhkan ketekunan dan pengalaman,” ujarnya.
Risiko kegagalan juga menjadi bagian dari proses. Karya yang sudah dibentuk bisa saja pecah ketika dibakar di dalam tungku. Oleh karena itu, seorang keramikus membutuhkan kesabaran dan pengalaman agar tingkat kegagalan dapat ditekan.
Perjalanan Arif selama 40 tahun, kata Djuli, menjadi bukti bahwa ketekunan mampu membawa seorang keramikus bertahan sekaligus menghasilkan karya yang diakui.
Menurut Djuli, judul pameran dan buku tersebut juga relevan dengan perjalanan Arif. Sebab, tanpa kecintaan dan komitmen terhadap bidang yang ditekuni, sulit bagi seseorang untuk bertahan selama puluhan tahun.
Predikat maestro yang diberikan pemerintah pun dinilainya bukan penghargaan yang muncul secara tiba-tiba. Ada rekam jejak panjang, reputasi, ketekunan, dan karya yang menjadi pertimbangan. “Ini bukti nyata bahwa menekuni bidang keramik itu harus totalitas. Sebab, totalitas itu membutuhkan kecintaan atau jatuh cinta itu sendiri,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)




