MALANG POST – Tim Relawan Bencana Universitas Negeri Malang, memberikan pelayanan medis darurat, dukungan psikososial, dan bantuan tenda pengungsian, bagi warga terdampak gempa bumi di Desa Watunggong, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/8/2026), guna mendukung percepatan pemulihan serta ketahanan masyarakat pascabencana.
Universitas Negeri Malang (UM) melalui Tim Relawan Bencana melanjutkan respons tanggap darurat bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Desa Watunggong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (30/8/2026). Kegiatan meliputi pelayanan medis darurat, dukungan kesehatan mental dan psikososial (DKMPS), edukasi kebencanaan, serta pendirian tenda darurat untuk mendukung kebutuhan kesehatan dan keselamatan warga.
Tim Relawan Bencana UM membagi personel ke dalam dua kelompok. Tim pertama memberikan pelayanan medis di Posko Kesehatan Desa Satar Nawang, sedangkan tim kedua memberikan DKMPS di Posko Utama Watunggong, Gereja Katolik Paroki Santo Eduardus, serta wilayah sekitarnya. Pada sore hari, relawan juga membantu mendirikan tenda darurat di Puskesmas Watunggong dan sejumlah rumah warga yang terdampak.

Dalam pelayanan medis yang berlangsung pukul 08.00–16.00 WITA, tim menangani ratusan penerima manfaat. Pemeriksaan mencakup registrasi, anamnesis, pemeriksaan fisik dasar, pemeriksaan tanda-tanda vital, pemberian tata laksana medis, distribusi obat, serta edukasi kesehatan. Dari 186 pasien yang ditangani, terdapat 12 balita, 21 anak-anak, 101 orang dewasa, dan 52 lansia.
Hasil pemeriksaan menunjukkan empat keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan, yakni infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebanyak 54 kasus, gastritis atau dispepsia 25 kasus, hipertensi primer 17 kasus, serta nyeri pinggang 14 kasus. Tim juga menangani berbagai keluhan lain, seperti nyeri sendi dan otot, luka ringan, alergi kulit, serta demam.

Selain layanan medis, UM memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis warga. Melalui DKMPS, tim melakukan skrining psikososial, asesmen, Psychological First Aid (PFA), konseling suportif, latihan pernapasan, dan teknik grounding. Dari 112 peserta, sebanyak 96 orang mengalami distres atau kecemasan ringan, sedangkan 15 orang menunjukkan reaksi stres tingkat sedang.
Pendampingan juga diarahkan kepada kelompok anak dan remaja. Sebanyak 104 peserta mengikuti intervensi berbasis Art Therapy dan Play Therapy melalui kegiatan melipat kertas (origami) dan permainan visual. Pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu mengurangi kecemasan, memulihkan trauma, dan membangun kembali rasa aman setelah bencana.
Respons UM tidak berhenti pada layanan kesehatan. Pada sore hari, relawan membantu mendirikan tenda darurat di Puskesmas Watunggong yang mengalami kerusakan akibat gempa. Relawan juga membantu warga mendirikan tenda pengungsian di rumah yang rusak atau dinilai tidak aman untuk ditempati.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemulihan masyarakat pascabencana. Upaya penyediaan layanan kesehatan, dukungan psikososial, dan tempat perlindungan sementara sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, khususnya dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Masyarakat terdampak juga menunjukkan partisipasi aktif dalam mengikuti layanan medis maupun dukungan psikososial. Selanjutnya, Tim Relawan Bencana UM akan melanjutkan pemantauan kondisi kesehatan fisik dan psikososial warga serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk kebutuhan rujukan medis dan psikososial. (*/M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




