MALANG POST – Tim mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya meraih Gold Medal dan Special Award pada ajang Japan Design, Idea and Invention Expo 2026 di Osaka, Jepang, (3–4/7/2026), melalui inovasi kapsul ekstrak daun sirsak “SUPER NOVA” untuk terapi kanker serviks.
Inovasi kapsul terapi kanker serviks berbahan dasar ekstrak daun sirsak liar bertajuk “SUPER NOVA” berhasil menyabet Gold Medal dan Special Award pada ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2026 yang berlangsung di Kansai Airport Conference Halls, Osaka, Jepang, 3–4 Juli 2026.
Produk unggulan tersebut dikembangkan oleh tim mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) yang diketuai oleh Rossi Imam Prasojo (Angkatan 2024), beranggotakan Fajar Mubarok Al Sya’bani, Adara Hulwa Fania, Aryo Jalu Megan Rahmawan, Quincy Esther Stephanie, dan Alika Maulidya (Angkatan 2025).
SUPER NOVA merupakan sebuah kapsul yang memanfaatkan acetogenin dari daun sirsak sebagai kandidat terapi yang menargetkan metabolisme sel kanker, khususnya pada kanker serviks.
“Kami memanfaatkan daun sirsak liar yang memiliki kandungan acetogenin karena berpotensi mendorong kematian sel kanker,” ujar Rossi. Tingginya kasus kanker serviks di dunia menjadi alasan tim memilih jenis kanker tersebut sebagai fokus penelitian.

“Jika dilihat dari latar belakang dan data yang ada, kasus kanker serviks di dunia masih cukup tinggi,” kata Rossi. Meskipun penelitian difokuskan pada kanker serviks, Rossi menyebut pendekatan yang digunakan masih berpotensi dikembangkan untuk jenis kanker lainnya.
“Sebenarnya inovasi ini dapat dikembangkan untuk jenis kanker lain juga, tetapi penelitian kami saat ini memang difokuskan pada kanker serviks,” jelasnya.
Secara umum, proses pembuatan ekstrak SUPER NOVA dimulai dengan mengeringkan daun sirsak liar dan menghaluskannya menjadi serbuk. Serbuk tersebut kemudian diekstraksi menggunakan pelarut untuk menarik senyawa bioaktif. Hasil ekstraksi selanjutnya disaring dan dipekatkan hingga diperoleh ekstrak yang kemudian dianalisis untuk mengetahui kandungan senyawa aktif dan potensi biologisnya.
Selanjutnya, Rossi menjelaskan bahwa proses penyusunan produk dilakukan selama enam bulan, dimulai dengan menentukan ide dan permasalahan yang ingin diangkat, dilanjutkan dengan studi literatur, identifikasi senyawa, serta pengembangan dan analisis awal SUPER NOVA melalui pendekatan in silico.
“Hasil penelitian tersebut kemudian kami bawa ke kompetisi JDIE 2026 di Jepang dan berhasil meraih Gold Medal serta Special Award. Saat ini, penelitian masih terus kami kembangkan melalui penyempurnaan analisis, molecular dynamics, dan penyusunan proposal penelitian. Target kami pada September 2026 adalah mulai menyusun dan mengajukan hasil penelitian ini untuk publikasi jurnal ilmiah,” katanya.
Pencapaian ini tidak terlepas dari peran dosen pembimbing, dr. Bayu Lestari, M.Biomed., Ph.D., yang memberikan pengarahan terhadap penelitian setelah tim melakukan pengamatan awal melalui prediksi berbasis komputer. Bayu menilai proses bimbingan telah berjalan baik dengan pembagian tugas yang efisien.
“Masing-masing anggota merupakan pekerja tim dan saya melihat mereka memiliki pembagian tugas yang cukup efisien. Rasa ingin tahu mereka cukup baik dan mereka ingin terus melanjutkan proyek ini,” tuturnya.
Namun, Bayu menjelaskan bahwa SUPER NOVA masih berada pada tahap in silico melalui molecular docking sehingga perlu dilanjutkan dengan pengujian in vitro menggunakan sel kanker serviks dan tahap in vivo menggunakan hewan model sebelum dapat dikembangkan untuk pemanfaatan lebih lanjut kepada masyarakat.
Dalam proses pengembangannya, tim juga menghadapi kendala pendanaan sehingga penelitian masih menggunakan dana pribadi. Bayu menyebut pendanaan menjadi salah satu hal yang perlu diupayakan untuk melanjutkan penelitian ke tahap berikutnya.
Meskipun demikian, Bayu mengaku bangga atas prestasi yang diraih karena mahasiswa telah memiliki ketertarikan terhadap penelitian sejak tahun pertama perkuliahan.
“Sebagai pembimbing, jujur saya merasa bangga dengan prestasi adik-adik mahasiswa. Apalagi mereka sebenarnya masih semester dua saat penelitian dilakukan, masih tahun pertama di Fakultas Kedokteran,” ujar Bayu. (*/M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




