JAWARA: Castindo FA mengangkat tropi juara dalam Festival Sepak Bola Arema FC Grassroot 2026 di ARG Soccerfield. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Festival Sepak Bola Arema FC Grassroot 2026 resmi berakhir di ARG Soccerfield Lawang usai menyajikan 221 pertandingan, menghasilkan 572 gol, dan mengantarkan Castindo FA sebagai juara KU-14 pada Minggu (30/8/2026) sore.
Panggung pembinaan sepak bola usia dini di bumi Malang Raya menuntaskan dahaganya. Selama tiga pekan penuh, keceriaan anak-anak berseragam bola mewarnai lapangan hijau.
Festival Sepak Bola Arema FC Grassroot 2026 resmi memungkasi seluruh rangkaian acaranya.
Pekan ketiga yang berlangsung dari Jumat hingga Minggu (28–30 Agustus 2026) menjadi arena pemungkas.
Pertandingan untuk Kelompok Umur (KU) 14 tahun tuntas dipertandingkan di ARG Soccerfield, Lawang, Kabupaten Malang.
Partai puncak KU-14 menyajikan laga berkelas. Tim Castindo FA tampil sangat dominan di atas lapangan.
Castindo FA sukses menggulung perlawanan Karlos FC dengan skor telak 3-0 pada Minggu (30/8/2026) sore.
Piala juara utama pun resmi diboyong Castindo FA. Sementara gelar peringkat ketiga bersama diamankan oleh RSI Macan Putih dan Gama FA.
Panitia penyelenggara menyegel deretan penghargaan individu dan tim terbaik.
Gelar Best Team diraih Gama FA atas kedisiplinan administrasi, kelengkapan tim, serta etika luhur pelatih dan pemain.
Penghargaan Best Coach disabet pelatih Karlos FC, Davit Sitanggang.
Sepatu emas Top Scorer diraih penyerang Gama FA, Mulya Febri Andika, yang melesakkan tujuh gol.
Gelar Best Goalkeeper jatuh kepada Husnul Abdillah dari Castindo FA.
Sedangkan predikat pemain terbaik (Best Player) disabet kapten Castindo FA, Abiyyu Satria Brahmantya.
Secara keseluruhan, statistik turnamen pembinaan ini bergerak luar biasa.

TOKOH: Ovan Tobing dan Manajer Operasional Arema FC, Sudarmaji, saat hadir dalam penutupan Festival Sepak Bola Arema FC Grassroot 2026 di ARG Soccerfield. (Foto: Arema Official)
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Arema FC Grassroot 2026, Denny Herlambang, merinci data rekapitulasi pelaksanaan festival.
Ajang ini mempertandingkan tiga kelompok umur: KU-10, KU-12, dan KU-14.
| Kategori Data | Rincian Angka |
| Total Tim Peserta | 96 Tim (KU-10: 40, KU-12: 40, KU-14: 16) |
| Total Pemain Terdaftar | 1.760 Pemain |
| Total Pertandingan | 221 Laga (KU-10: 95, KU-12: 95, KU-14: 31) |
| Total Gol Tercipta | 572 Gol |
| Total Menit Bermain | 5.350 Menit |
| Total Kartu Merah | 1 Kartu |
| Jumlah Pengunjung | 5.808 Orang |
| Dampak Ekonomi | 14 UMKM & 97 Tenaga Kerja |
Denny menegaskan bahwa mahkota utama turnamen ini terletak pada tingginya nilai sportivitas.
“Sejak awal Bang Ovan Tobing berpesan agar di level grassroots ini kita menjaga sportivitas. Dari rekapitulasi, selama pelaksanaan hanya keluar satu kartu merah. Ini bukti festival ini berjalan di jalur yang benar,” ujar Denny.
Perangkat pertandingan dari Askab PSSI Kabupaten Malang dan tim medis BPJS Kesehatan bekerja solid. Tidak ada insiden cedera berat yang dialami peserta.
Dapur ekonomi warga ikut berputar kencang. Sebanyak 5.808 pengunjung memadati lokasi festival, menyuntik omzet 14 UMKM lokal, serta menyerap 97 tenaga kerja lapangan.
Manajer Operasional Arema FC, Sudarmaji, melayangkan apresiasi setinggi langit kepada seluruh elemen pelaksana.
Melihat dampak positifnya yang masif, Sudarmaji mendorong agar agenda ini tidak sekadar menjadi ritual tahunan.
“Semoga event ini bisa tergelar rutin, kalau bisa setahun dua kali. Harapan terbesar kami, dari ajang ini lahir talenta luar biasa yang membela Tim Nasional Indonesia di masa depan,” kata Sudarmaji.
Suasana penutupan kian sakral saat tokoh pendiri (founding father) Arema, Ovan Tobing, mengambil alih pengeras suara.
Ovan melecut semangat para pemain muda agar tidak cepat berpuas diri. Disiplin diri di luar lapangan harus dijaga ketat, termasuk menjauhi pergaulan bebas dan balap liar.
Pesan edukasi kemandirian disampaikan Ovan dengan sentuhan hangat khas Arema.
“Sepatu bola itu senjata kalian. Belajarlah mandiri: semir sepatumu sendiri, cuci bajumu sendiri, dan jangan biasakan bergantung pada orang tua,” tegas Ovan.
Ia mengingatkan bahwa persaingan hanya ada selama 90 menit di lapangan.
“Di lapangan lawanmu adalah mereka yang beda kostum, tapi begitu peluit akhir berbunyi, kalian semua adalah sahabat dan saudara,” serunya.
Gemuruh penutupan dipungkas dengan pekikan jargon khas pimpinan Ovan Tobing: “Salam Satu Jiwa! Arema! Salam Satu Bangsa! Indonesia! Dari Grassroot! Untuk Indonesia!”. (Ra Indrata)




