MALANG POST – Ditimpa tulisan ‘Malang Menyala Bersama’ lalu dilapisi cat biru di Kauman Klojen, penghapusan mural ‘Malang The Glory Land’ karya almarhum Sam Nyek tuai kekecewaan Aremania.
Penghapusan mural “Malang The Glory Land” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang dan diganti “Malang Menyala Bersama” berujung kekecewaan sejumlah komunitas, termasuk komunitas suporter Arema.
“Malang Menyala Bersama” diketahui tertulis di dinding luar hotel itu, Rabu (19/8/2026). Diduga dibuat oleh panitia Festival Mbois 11 yang akan digelar pada 21–23 Agustus 2026.
Sehari kemudian, Kamis (20/8/2026), area mural telah diblok menggunakan cat berwarna biru. Tulisan “Malang Menyala Bersama” pun tidak lagi terlihat karena tertutup lapisan cat tersebut.
Kenapa bisa menjadi polemik? Lantaran tulisan “Malang The Glory Land” bukan sekadar mural. Bukan pula sebatas promosi sebuah acara. Bukan pula milik komunitas tertentu atau milik klub sepak bola.
Namun, kalimat ini mengandung makna semangat jiwa masyarakat asli Malang, berdasarkan sejarah panjang nenek moyang dan para pendahulu. Bahkan memiliki makna perjalanan panjang peradaban manusia di Jawa Timur, bahkan Indonesia.
Begitu juga bagi Okoj, salah satu Aremania. Ia mengaku memahami kekecewaan yang muncul di tengah komunitas. “Ya, saya sangat memaklumi kalau sampai sekarang banyak pihak, terutama Aremania, yang sangat menyayangkan kejadian ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya rasa kehilangan yang dirasakan komunitas pecinta Arema atas hilangnya salah satu simbol kebanggaan mereka. Lantaran mural “Malang The Glory Land” ini dibuat oleh almarhum Sam Nyek dkk. tahun 2016.
Sam Nyek ini adalah salah satu tokoh Arek Malang. Maka mural karyanya bukan sekadar tulisan yang menghiasi tembok di sudut Kota Malang. Mural itu merupakan sebuah manifesto visual tentang persatuan, identitas, dan harapan untuk mengembalikan kejayaan Kota Malang.
Lebih dalam lagi jika mengacu pada berbagai literatur sejarah, Malang Raya bukan sekadar kawasan pegunungan yang dikenal karena udara sejuk dan lanskap alamnya. Wilayah ini merupakan salah satu kawasan penting dalam perjalanan peradaban Jawa Timur.

SEJARAH: Berbagai media sosial mengupload kondisi mural Malang The Glory Land di Jl Arif Rahman Hakim (dinding luar sebuah hotel) sebelum dan sesudah ditutup cat biru. (Foto: Istimewa)
Dari lereng Gunung Kawi hingga lembah Sungai Brantas, bumi Malang menyimpan jejak kekuasaan dan kebudayaan kerajaan-kerajaan besar yang turut membentuk sejarah politik dan budaya Jawa. Dua di antaranya adalah Kerajaan Kanjuruhan dan Kerajaan Singasari.
Kerajaan Kanjuruhan, bahkan disebut sebagai Fajar Peradaban Jawa Timur. Kerajaan Kanjuruhan dikenal sebagai salah satu kerajaan bercorak Hindu yang berkembang di Jawa Timur pada sekitar abad ke-8 Masehi dan berpusat di kawasan Malang.
Pada masa pemerintahan Raja Gajayana, Kanjuruhan disebut mengalami perkembangan dalam berbagai bidang, termasuk kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan keagamaan. Jejaknya masih dapat ditelusuri melalui sejumlah peninggalan sejarah.
Stabilitas dan Kehidupan Masyarakat: Kanjuruhan meninggalkan gambaran mengenai sebuah pemerintahan yang berkembang di tengah masyarakat agraris. Kehidupan masyarakat ditopang oleh aktivitas pertanian dan pemanfaatan sumber daya alam di kawasan Malang.
Perkembangan Ekonomi dan Budaya: Posisi Malang yang berada di kawasan strategis turut mendukung perkembangan aktivitas ekonomi dan kebudayaan. Aliran Sungai Brantas dan jaringan sungai di sekitarnya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pada masa itu.
Salah satu peninggalan penting dari periode Kanjuruhan adalah Candi Badut, yang dikenal sebagai salah satu candi tertua di Jawa Timur. Selain itu, terdapat Prasasti Dinoyo yang bertarikh 760 Masehi dan menjadi salah satu sumber penting untuk mengetahui keberadaan Kanjuruhan.
Kerajaan Singasari, dari Malang Menatap Nusantara: Beberapa abad setelah Kanjuruhan, kawasan Malang kembali menjadi pusat kekuasaan besar melalui Kerajaan Singasari.
Kerajaan ini berdiri pada abad ke-13 dan mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Kertanegara. Di bawah Kertanegara, Singasari tidak hanya berkembang sebagai kekuatan politik di Jawa, tetapi juga memainkan peran penting dalam percaturan kekuasaan di Nusantara.
Salah satu kebijakan paling terkenal adalah Ekspedisi Pamalayu pada 1275 Masehi, yang menjadi bagian dari strategi Singasari untuk memperluas pengaruh politik sekaligus menghadapi kekuatan dari luar Jawa.
Pusat Spiritual dan Seni: Kejayaan Singasari meninggalkan warisan arsitektur dan seni yang hingga kini masih dapat ditemukan di kawasan Malang dan sekitarnya. Candi Singosari, Candi Jago, dan Candi Kidal menjadi bukti perkembangan seni, keagamaan, serta kebudayaan pada masa tersebut.
Cikal Bakal Majapahit: Singasari juga memiliki hubungan erat dengan lahirnya Majapahit. Setelah runtuhnya Singasari, Raden Wijaya melanjutkan estafet kekuasaan dan mendirikan Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-13.
Dengan demikian, jejak sejarah tersebut menunjukkan bahwa kawasan Malang Raya telah menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban Jawa Timur selama berabad-abad.
Malang The Glory Land dan Identitas Kota: Pada gilirannya, frasa “Malang The Glory Land” tidak hanya dapat dibaca sebagai rangkaian kata yang terpampang di dinding.
Bagi sebagian masyarakat, khususnya mereka yang terlibat dalam komunitas Aremania, frasa tersebut merupakan simbol tentang identitas, kebanggaan, persatuan, sekaligus ingatan terhadap sejarah panjang Malang.
Karena itu, ketika mural tersebut dihapus dan digantikan oleh karya baru, yang muncul bukan sekadar persoalan perubahan visual ruang kota. Ada rasa kehilangan terhadap sebuah karya yang dianggap merepresentasikan semangat dan identitas kelompok masyarakat tertentu.
Di sisi lain, ruang publik memang terus berkembang dan membutuhkan ekspresi baru. Festival, seni, kreativitas, serta promosi kebudayaan juga merupakan bagian dari dinamika sebuah kota.
Namun, di tengah perubahan tersebut, pertanyaan pentingnya adalah bagaimana karya-karya baru dapat hadir tanpa menghapus begitu saja ingatan kolektif yang telah tumbuh sebelumnya.
Sebab, jika “Malang The Glory Land” dimaknai sebagai Malang Tanah Kejayaan, maka kejayaan itu bukan hanya tentang masa lalu. Ia juga tentang bagaimana masyarakat hari ini merawat sejarah, menghargai karya, dan menjaga ruang bersama sebagai tempat bertemunya berbagai identitas.
Malang boleh menyala bersama. Tetapi sejarah dan ingatan tentang bagaimana kota ini pernah berjaya semestinya tidak ikut dipadamkan. (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




