Hernina Agustin Arifin, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang. (Foto: Eka Nurcahyo/Malang Post)
MALANG POST – BPJS Kesehatan Cabang Malang, mengajak masyarakat Malang Raya memanfaatkan fitur Skrining Riwayat Kesehatan JKN, untuk memetakan potensi penyakit jantung sejak dini di Malang, Selasa (29/9/2026), guna menekan tingginya alokasi pembiayaan medis penyakit katastropik pada penderita usia produktif.
Penyakit jantung masih menduduki posisi teratas sebagai salah satu penyakit katastropik dengan alokasi pembiayaan medis terbesar dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sepanjang kurun 2015 hingga 2025, BPJS Kesehatan telah menggelontorkan anggaran lebih dari Rp100 triliun untuk membiayai 172,3 juta kasus penyakit jantung. Khusus pada 2025 saja, tercatat sebanyak 29,8 juta kasus penyakit jantung menyedot biaya layanan hingga Rp17,4 triliun.
Memperingati Hari Jantung Sedunia, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang, Hernina Agustin Arifin, menggarisbawahi bahwa besarnya pemanfaatan anggaran JKN untuk perawatan jantung menjadi pengingat krusial akan pentingnya menjaga pola hidup sehat serta mendeteksi faktor risiko secara dini.
“Program JKN hadir memberikan jaminan kepastian ketika peserta membutuhkan perawatan medis. Namun, kami sangat berharap masyarakat tidak menunggu sakit untuk mulai peduli pada kesehatan tubuhnya. Penyakit jantung saat ini makin marak menyerang warga usia produktif. Oleh karena itu, gerakan promotif dan preventif harus terus kita perkuat bersama,” ujar pejabat yang akrab disapa Ina tersebut, Selasa (29/9/2026).
Menurut Ina, masyarakat dapat memulai langkah pencegahan primer dengan mengadopsi pola hidup sehat, menjaga asupan nutrisi seimbang, rutin berolahraga, menghentikan kebiasaan merokok, serta melakukan penapisan (skrining) kesehatan berkala. Seluruh peserta JKN yang telah berusia 15 tahun ke atas berhak memanfaatkan layanan Skrining Riwayat Kesehatan secara gratis satu kali dalam setahun.
Layanan digital tersebut dapat diakses dengan mudah melalui aplikasi Mobile JKN, obrolan WhatsApp PANDAWA di nomor 08118165165, maupun secara luring di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar. Dalam prosedur tersebut, peserta cukup mengisi kuesioner terstruktur terkait pola hidup, riwayat medis pribadi, serta riwayat penyakit keluarga.
“Makin dini risiko terdeteksi, makin besar peluang untuk melakukan modifikasi gaya hidup maupun mendapatkan intervensi medis yang tepat. Menjaga kesehatan jantung wajib dimulai sejak kondisi tubuh masih prima. Di samping itu, pastikan status kepesertaan JKN selalu dalam kondisi aktif agar dapat diandalkan sewaktu-waktu,” urai Ina.
Manfaat dan kenyamanan jaminan kesehatan ini dirasakan langsung oleh Hadi Susila (61), seorang peserta JKN yang tengah menjalani pemulihan intensif akibat serangan jantung di salah satu rumah sakit rujukan di Kota Malang. Saat ditemui di ruang perawatan dengan didampingi sang istri, Hadi mengaku tidak pernah menduga gejala awal yang dialaminya berujung pada diagnosis serangan jantung.
“Awalnya saya tidak menyangka akan menderita serangan jantung. Saat tim dokter mengonfirmasi diagnosis tersebut, tentu ada rasa syok dan khawatir. Alhamdulillah, saya segera mendapatkan penanganan gawat darurat yang cepat. Selama menjalani perawatan medis menggunakan kartu JKN, seluruh pelayanan fasilitas kesehatan berjalan sangat baik dan tanpa kendala biaya,” beber Hadi.
Sang istri yang setia mendampingi selama proses perawatan turut menjadi tumpuan kekuatan moral bagi pemulihan Hadi. Pengalaman spiritual dan medis tersebut menyadarkan mereka akan pentingnya kepekaan terhadap sinyal gangguan kesehatan organ jantung.
“Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa gejala penyakit tidak boleh dianggap remeh. Begitu ada keluhan dada, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter. Kami sangat bersyukur kepesertaan JKN kami selalu aktif sehingga saat kondisi darurat ini terjadi, keluarga bisa fokus penuh pada pemulihan fisik tanpa terbeban biaya,” pungkas Hadi. (Eka Nurcahyo)




