MALANG POST – Momen perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di bulan Agustus, selalu diidentikkan dengan lonjakan arus wisatawan yang datang berlibur ke kawasan Malang Raya.
Namun, di balik semaraknya euforia liburan dan tingginya angka statistik kunjungan, tersimpan cerita pahit yang dirasakan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal—khususnya sektor non-kuliner dan pusat oleh-oleh di Kota Malang.
Fenomena Kota Malang yang hanya dijadikan tempat transit sejenak, minimnya lama tinggal (length of stay), hingga penurunan daya beli masyarakat menjadi isu sentral yang dibedah tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Selasa (18/8/2026) hari ini.
Owner SOAK Ngalam, Tjandra Purnama Edhi, membeberkan realitas pahit di mana peningkatan jumlah wisatawan yang digaungkan pemerintah daerah tidak berbanding lurus dengan angka penjualan di pusat oleh-oleh dan cenderamata khas Malang.
“Euforia Agustusan ini sejujurnya belum terasa bagi kami para pelaku usaha non-kuliner. Perilaku wisatawan saat ini telah bergeser. Kota Malang seolah-olah hanya dijadikan tempat transit atau sekadar ‘menumpang tidur’.”
“Mereka masuk ke Kota Malang, check-in hotel, lalu langsung berangkat mengeksplorasi destinasi wisata di Kota Batu atau Kabupaten Malang. Setelah itu mereka kembali ke hotel hanya untuk check-out dan pulang. Masa menginap mereka sangat singkat, paling banyak hanya satu hari,” ungkap Tjandra.
Pemkot Diminta Jangan Terjebak Angka Kunjungan
Tjandra menyoroti bahwa uang wisatawan, sebagian besar tersedot di sektor kuliner dan destinasi daerah tetangga, sehingga perputaran ekonomi yang tertinggal di Kota Malang sangat minim.
Menurutnya, promosi diskon maupun perhelatan event musiman, saja tidak cukup untuk mendongkrak penjualan tanpa didukung oleh keselarasan kebijakan (mix and match) yang kokoh antara Pemkot Malang dan asosiasi pelaku usaha.
“Pemerintah Daerah seharusnya tidak hanya membaca data dari banyaknya angka kunjungan fisik wisatawan yang datang. Yang jauh lebih krusial untuk dievaluasi adalah seberapa besar pengeluaran (spending money) uang mereka untuk berbelanja produk lokal di Kota Malang. Harus ada terobosan event dan daya tarik baru yang kreatif agar wisatawan betah bertahan lebih lama,” desak Tjandra.
Dorong UMKM Menembus Pasar Luar Daerah
Merespons jeritan pelaku usaha, Kepala Bidang Usaha Mikro Diskopindag Kota Malang, Faried Suaidi, mengakui bahwa penurunan daya beli masyarakat akibat tekanan ekonomi, memang menjadi tantangan terberat bagi sektor UMKM saat ini.
Meski demikian, Diskopindag mencatat momen perayaan Kemerdekaan di tingkat RT/RW hingga kelurahan, memberikan angin segar dan suntikan omzet bagi UMKM sektor kuliner dan jajanan lokal.
“Untuk mengantisipasi kelesuan di pasar lokal, kami terus mendorong produk-produk UMKM Kota Malang agar tidak hanya jago kandang, tetapi mampu merambah ke Kota Batu, Kabupaten Malang, hingga pasar luar daerah.”
“Kami juga rutin menjalin kolaborasi dengan stakeholder perbankan dan swasta untuk melibatkan UMKM dalam berbagai pameran skala besar,” jelas Faried.
Kenaikan angka kunjungan turis seharusnya memberikan berkah yang merata bagi seluruh ekosistem pariwisata. Kota Malang harus segera melepaskan predikatnya dari sekadar ‘kota transit’ dengan menghadirkan destinasi dan narasi wisata baru yang mampu menahan wisatawan untuk tinggal dan berbelanja lebih lama. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)




