MALANG POST – Antisipasi tren loncatan karhutla dua tahunan jelang 2027, BPBD Kota Batu imbau pendaki dan masyarakat tak buang puntung rokok sembarangan di kawasan Hutan Gunung Panderman.
Musim kemarau membuat kawasan hutan di Kota Batu mulai menghadapi ancaman kebakaran. Vegetasi yang mengering, hembusan angin, serta tingginya aktivitas masyarakat di kawasan hutan menjadi kombinasi yang perlu diwaspadai.
Namun, berdasarkan pemetaan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, faktor kelalaian manusia masih menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho menyampaikan, sumber api bisa muncul dari aktivitas yang terlihat sepele: mulai dari pembakaran lahan yang tidak terkendali, api unggun yang tidak dipadamkan secara sempurna, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan.
“Kalau kita lihat persentasenya, rata-rata kejadian itu disebabkan oleh kelalaian manusia. Bisa karena aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkontrol, kegiatan api unggun yang tidak dipadamkan dengan benar, sampai pembuangan puntung rokok di area yang kering,” ujar Gatot, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, puntung rokok tidak boleh dianggap remeh. Bara yang terlihat kecil dapat kembali menyala saat tertiup angin, terlebih jika jatuh di antara rumput, daun, atau ranting yang mengering.
Dalam kondisi tersebut, api bisa dengan cepat membesar dan merambat mengikuti vegetasi kering. Oleh karena itu, masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan diminta lebih berhati-hati terhadap segala aktivitas yang berpotensi memicu timbulnya api.
Selain aktivitas pembakaran dan pendakian, BPBD juga mencatat kegiatan perburuan liar pernah dikaitkan dengan munculnya kebakaran di kawasan hutan. “Mungkin pernah terjadi juga karena ulah para pemburu yang mencari buruannya, hingga akhirnya menimbulkan kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.

PEMADAMAN: Personel BPBD Kota Batu saat melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kota Batu beberapa tahun kemarin. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Salah satu kawasan yang mendapat perhatian ekstra adalah Gunung Panderman. Aktivitas masyarakat di kawasan tersebut masih cukup tinggi, mulai dari pendakian tek-tok (naik-turun langsung tanpa menginap) hingga berkemah (camping). BPBD mengingatkan para pendaki dan pengunjung agar tidak sembarangan membawa atau meninggalkan sumber api.
“Kami mengimbau kepada teman-teman yang melakukan aktivitas pendakian atau camping, kalau memang merokok, pastikan puntung rokok benar-benar padam dan dibuang pada tempatnya. Jangan dibuang sembarangan karena bisa menimbulkan percikan api,” tegas Gatot.
Begitu pula dengan penggunaan api unggun. Pembuatan api harus berjarak aman dari material yang mudah terbakar. Setelah kegiatan selesai, bara api wajib dipastikan benar-benar padam. Gatot menyarankan bara api ditimbun menggunakan tanah agar tidak kembali menyala atau memercik ke daun dan rumput kering di sekitarnya.
“Usahakan setelah selesai, api benar-benar padam. Kalau bisa ditimbun dengan tanah supaya tidak ada bara yang keluar dan memercik ke daun-daun kering atau rumput di sekitarnya,” imbuhnya.
BPBD Kota Batu juga meningkatkan langkah antisipasi dengan menggandeng sejumlah pihak yang memiliki wilayah kerja di kawasan hutan, seperti Perhutani, Tahura R. Soerjo, serta lintas sektor terkait.
Edukasi kepada masyarakat, patroli bersama, serta pengawasan di sejumlah titik rawan menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Langkah tersebut dinilai krusial karena ancaman karhutla tidak selalu bermula dari dalam wilayah Kota Batu. Api dari wilayah sekitar juga berpotensi merembet ketika kondisi cuaca kering dan hembusan angin cukup kuat.
Catatan BPBD menunjukkan, pada 2023 luas lahan yang terbakar di Kota Batu mencapai sekitar 237 hektare. Sementara sepanjang 2024 tidak tercatat kejadian karhutla di wilayah Kota Batu. Gatot menyebut, berdasarkan catatan historis, kejadian karhutla di Kota Batu memiliki pola tren loncatan yang perlu diwaspadai.
“Kalau kita lihat historisnya, kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kota Batu ini seperti ada loncatan dua tahunan. Pada 2018 ada kejadian. Kemudian 2020–2021 tidak ada, sampai 2022 juga aman, lalu 2023 ada lagi,” ungkapnya.
Pada kejadian 2023, titik api bahkan tidak seluruhnya bermula dari wilayah Kota Batu. Api dari wilayah Pasuruan dan Kabupaten Malang tercatat merembet hingga masuk ke wilayah Kota Batu akibat kondisi lahan yang kering dan pengaruh angin kencang.
Oleh karena itu, BPBD mulai menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi peningkatan risiko pada 2027 mendatang. “Nah, 2027 ini yang kami persiapkan betul-betul karena melihat catatan historisnya. Apalagi penyebab utamanya dominan karena faktor kelalaian manusia,” katanya.
Gatot menegaskan, upaya mencegah karhutla tidak bisa hanya mengandalkan petugas di lapangan. Masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan memiliki peran besar dalam memastikan tidak ada sumber api yang tertinggal.
“Intinya, sedikit kelalaian bisa berakibat besar. Mari kita jaga hutan Kota Batu bersama-sama karena hutan ini milik kita semua,” pungkasnya. (*/Ananto Wibowo/Ra Indrata)




