PETIK JERUK: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama cucunya saat melakukan petik jeruk di Desa Wisata Punten. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Usung tagline “Desa Wisata Ramah Sejuta Pesona”, Desa Wisata Punten Kecamatan Bumiaji tawarkan paket live in, wisata petik jeruk keprok, dan studi banding berbasis pemberdayaan warga.
Tak perlu jauh-jauh mencari destinasi wisata yang menawarkan pengalaman berbeda di Kota Batu. Desa Wisata Punten di Kecamatan Bumiaji menjadi salah satu pilihan yang mulai banyak dilirik wisatawan. Mengusung tagline “Desa Wisata Ramah Sejuta Pesona”, desa ini tidak hanya mengandalkan panorama alam, melainkan juga merangkai berbagai potensi warga menjadi paket wisata yang menarik.
Lokasinya pun cukup mudah dijangkau. Desa Wisata Punten berjarak sekitar 7,9 kilometer dari pusat Kota Batu. Setibanya di kawasan desa, wisatawan disuguhi lanskap pegunungan, hamparan awan, udara sejuk, serta suasana pedesaan yang masih asri.
Pengelola Desa Wisata Punten Yayuk Murniwati mengatakan, wisatawan bisa memilih sejumlah aktivitas sesuai minat, mulai paket ATV, jip offroad, studi banding, live in, hingga petik jeruk keprok Punten.
Salah satu yang menjadi unggulan adalah paket studi banding. Paket tersebut banyak menyasar dinas pemerintahan maupun desa dari luar daerah yang ingin belajar mengenai pengelolaan dan manajemen desa wisata.
“Kalau dinas atau desa dari luar daerah mau studi tiru dalam hal pengelolaan desa wisata dan manajemen desa wisata, mereka bisa belajar ke sini,” kata Yayuk, Kamis (13/8/2026).
Rangkaian studi banding dikemas lengkap. Peserta terlebih dahulu disambut tari-tarian. Setelah itu, mereka mendapat pemaparan mengenai potensi wisata sebelum diajak mengikuti wisata edukasi.
Materinya beragam. Peserta bisa belajar pengolahan keripik apel, peternakan sapi dan kelinci, pembibitan serta budidaya jamur tiram, pertanian jeruk dan jambu merah, hingga pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
Tak berhenti di sektor pertanian dan lingkungan, peserta juga dikenalkan dengan budaya lokal. “Jadi bukan hanya melihat potensi wisatanya, melainkan juga belajar bagaimana potensi yang ada di masyarakat bisa dikembangkan menjadi bagian dari desa wisata,” jelasnya.
Paket lain yang cukup diminati adalah live in. Bahkan, menurut Yayuk, paket tersebut menjadi salah satu yang paling banyak dicari, khususnya oleh sekolah-sekolah internasional.

NAIK ATV: Wisatawan saat menaiki ATV untuk berkeliling menikmati keindahan alam di Desa Wisata Punten. (Foto: Istimewa)
Konsepnya sederhana, tetapi memberikan pengalaman yang berbeda. Peserta tinggal di rumah warga selama dua hari satu malam atau tiga hari dua malam. Selama menginap, mereka diajak membaur dan mengikuti aktivitas keseharian masyarakat, mulai memasak bersama, pergi ke kebun, hingga mengikuti kegiatan warga lainnya. Pengalaman tersebut membuat wisatawan tidak sekadar menjadi pengunjung, melainkan ikut merasakan kehidupan masyarakat desa.
“Peserta kami ajak membaur bersama warga, melakukan berbagai aktivitas. Seperti memasak dan pergi ke kebun. Sehingga mereka merasa mendapatkan keluarga baru,” ungkap Yayuk.
Sementara itu, saat musim panen tiba, giliran petik jeruk keprok Punten yang menjadi magnet utama. Musim panen biasanya berlangsung April hingga Juli/Agustus. Paket musiman tersebut menjadi salah satu aktivitas yang paling ditunggu wisatawan.
Yayuk menyebut, wisatawan yang pernah mengikuti petik jeruk tidak sedikit yang kembali pada musim panen berikutnya. Salah satunya adalah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. “Banyak wisatawan yang menanti musim panen jeruk. Yang pernah mencoba biasanya datang lagi pada panen berikutnya. Salah satunya Ibu Khofifah,” ujarnya.
Semakin beragamnya paket wisata membuat kunjungan ke Desa Wisata Punten terus bergerak. Dampaknya tidak hanya dirasakan pengelola. Perputaran ekonomi juga ikut menyentuh masyarakat yang terlibat dalam aktivitas desa wisata.
Sebab, konsep yang diterapkan Desa Wisata Punten memang bertumpu pada pemberdayaan masyarakat. Paket wisata yang ditawarkan bukan sepenuhnya milik pemerintah desa, melainkan dirangkai dari berbagai potensi yang dimiliki warga.
“Di Desa Wisata Punten sistem pengelolaannya pemberdayaan masyarakat. Paket wisata ini bukan sepenuhnya milik desa, melainkan milik masyarakat. Manajemennya menjahit potensi lokal yang ada, sehingga semua masyarakat bisa terlibat,” papar Yayuk.
Konsep tersebut membuat desa wisata tidak berdiri sebagai satu destinasi tunggal. Ada petani, peternak, pelaku UMKM, pengelola lingkungan, seniman, hingga pemilik rumah yang menjadi bagian dari rantai wisata.
Pengembangan Desa Wisata Punten mendapat dukungan dari Pemkot Batu melalui Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu. Dukungan diberikan melalui pembinaan dan pendampingan agar pengelolaan desa wisata semakin profesional.
Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto mengatakan, pembinaan tidak hanya menyasar atraksi wisata, melainkan juga peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), kelembagaan, pemasaran, hingga infrastruktur.
“Salah satunya melalui bimbingan teknis dan peningkatan kapasitas SDM. Pengelola, termasuk Pokdarwis dan BUMDes, didorong memiliki kemampuan pelayanan wisata atau hospitality, bahasa asing, storytelling, hingga mitigasi bencana pariwisata,” ujarnya.
Menurut Onny, tata kelola kelembagaan juga menjadi perhatian. Pengelola didorong memiliki manajemen yang transparan, Standard Operating Procedure (SOP) yang jelas, serta regulasi desa yang mendukung pengembangan destinasi.
“Kami mendorong desa wisata agar tidak hanya memiliki atraksi, melainkan juga mempunyai tata kelola yang baik, SDM yang siap, serta produk wisata yang mampu memberikan pengalaman bagi pengunjung,” jelas Onny.
Dari sisi pemasaran, Disparta juga mendorong setiap desa wisata memiliki Unique Selling Proposition (USP) atau keunggulan yang menjadi pembeda. Potensi lokal kemudian dikemas melalui identitas yang kuat dan promosi digital.
Promosi juga dilakukan melalui fun trip maupun familiarization trip (famtrip) dengan mengundang pelaku industri dan media untuk mengenal langsung potensi desa wisata. Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kategori desa wisata, mulai dari Rintisan, Berkembang, Maju, hingga Mandiri.
“Penguatan infrastruktur turut menjadi bagian dari dukungan tersebut. Mulai akses jalan, penunjuk arah, hingga amenitas publik seperti toilet, balai pertemuan, serta fasilitas pendukung atraksi wisata,” tutup Onny. (Adv/Ananto Wibowo)




