MALANG POST – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjelaskan bahwa fenomena cuaca panas terik yang melanda kawasan Malang Raya, Selasa (22/9/2026), disebabkan oleh posisi gerak semu matahari di atas Pulau Jawa serta minimnya tutupan awan selama masa transisi menuju musim hujan.
Warga Malang Raya dalam beberapa hari terakhir mengeluhkan kondisi cuaca yang terasa sangat panas dan terik. Wilayah yang selama ini dikenal berudara sejuk dan nyaman tersebut mendadak terasa gerah, terutama pada siang hari.
Keluhan mengenai perubahan cuaca ini ramai diperbincangkan di media sosial. Penggunaan kipas angin hingga pendingin udara (air conditioner/AC) pun meningkat drastis, baik di kawasan pemukiman maupun perkantoran.
Menanggapi fenomena tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara ini terjadi akibat dinamika cuaca khas masa transisi (pancaroba) dari musim kemarau menuju musim hujan.
Terdapat tiga penyebab utama cuaca panas menyengat tersebut:
Posisi Gerak Semu Matahari
Pada periode September hingga Oktober, posisi semu matahari berada sangat dekat dengan garis khatulistiwa dan melintas tepat di atas Pulau Jawa, termasuk kawasan Malang Raya. Hal ini menyebabkan intensitas radiasi sinar matahari yang diterima permukaan bumi mencapai level maksimal.
Minimnya Tutupan Awan
Tutupan awan di langit Malang Raya saat ini masih tergolong tipis. Tanpa hambatan awan hujan, sinar matahari dan paparan sinar ultraviolet (UV) langsung menembus daratan secara optimal sejak pagi hingga sore hari.
Udara Kering dan Tingginya Suhu Nyata (Real Feel)
Meskipun suhu udara terukur pada termometer berkisar antara 30 °C hingga 32 °C, kombinasi kelembapan udara dan radiasi langsung membuat suhu yang dirasakan oleh kulit (real feel) terasa jauh lebih terik dan menyengat, khususnya di kawasan perkotaan (urban heat island).
Sementara itu, BMKG juga menyampaikan prakiraan jadwal periode pancaroba di Malang Raya:
Awal Musim Hujan: Wilayah Malang Raya diprakirakan mulai memasuki awal musim hujan secara bertahap pada pertengahan hingga akhir Oktober.
Puncak Musim Hujan: Hujan diprediksi mulai merata dan intensif pada November hingga Desember.
Kondisi Saat Ini: Selama masa transisi (akhir September hingga pertengahan Oktober), cuaca panas terik masih berpotensi terjadi pada pagi hingga siang hari, yang kerap disusul oleh potensi hujan lokal atau angin kencang berdurasi singkat pada sore hingga malam hari.
Menghadapi cuaca ekstrem dan masa pancaroba ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah-langkah antisipasi sebagai berikut:
Perlindungan Kesehatan Fisik
Cukupi Konsumsi Air Putih: Minum air minimal 2 hingga 2,5 liter per hari untuk mencegah dehidrasi dan serangan panas (heat stroke).
Gunakan Tabir Surya (Sunscreen): Aplikasikan tabir surya dengan SPF minimal 30 saat beraktivitas di luar ruangan untuk melindungi kulit dari bahaya radiasi UV.
Perlengkapan Pelindung: Gunakan topi, payung, kacamata hitam, atau pakaian berbahan sejuk dan longgar saat bepergian pada siang hari.
Kewaspadaan Cuaca Ekstrem Pancaroba
Waspadai Perubahan Cuaca Mendadak: Cuaca yang terik pada pagi hari dapat berubah menjadi hujan deras disertai angin kencang atau petir pada sore hari.
Jauhi Pohon Rindang dan Baliho: Saat terjadi angin kencang berdurasi singkat, hindari berteduh di bawah pohon tua atau papan reklame (baliho) besar yang rawan tumbang.
Menjaga Daya Tahan Tubuh: Perubahan suhu yang drastis antara siang dan malam hari rentan memicu penyakit seperti flu, batuk, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




