NAIK PANGKAT: Head of Youth Development Arema FC, Doni Suherman, kini resmi menjadi staf kepelatihan tim senior. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen Arema FC mengambil langkah strategis, menjelang bergulirnya Super League 2026/2027, dengan mempromosikan Head of Youth Development Arema FC, Doni Suherman, masuk ke dalam jajaran staf kepelatihan tim senior, mendampingi Pelatih Kepala Marcos Santos.
Membangun klub sepak bola profesional yang sehat, tak hanya diukur dari seberapa dalam kantong manajemen, untuk membeli pemain bintang di bursa transfer. Jauh lebih fundamental dari itu, adalah bagaimana klub merawat rantai pembinaan usia dini, agar talenta-talenta lokal terbaiknya tak putus di tengah jalan.
Kesadaran itulah yang melandasi langkah taktis Arema FC, menjelang kickoff kompetisi Super League 2026/2027. Manajemen tim Singo Edan, secara resmi menaikkan kelas Doni Suherman—yang sebelumnya menjabat sebagai Head of Youth Development Arema FC—ke dalam jajaran staf kepelatihan tim senior.
Keputusan ini ibarat sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui.
Di satu sisi, promosi ini merupakan jawaban konkrit atas regulasi anyar yang diterbitkan oleh operator kompetisi i.League untuk musim 2026/2027. Dalam aturan main yang baru, setiap klub yang memercayakan posisi juru taktik utamanya kepada pelatih asing, wajib mendampingkan sedikitnya dua asisten pelatih lokal yang mengantongi Lisensi A AFC.
Lantaran Arema FC tetap memercayakan kemudi tim kepada juru taktik asal Brasil, Marcos Santos, kriteria tersebut langsung klop dengan kualifikasi yang dimiliki Doni Suherman.
Namun, manajemen Arema FC menegaskan, penunjukan pria berdomisili di Gadang, Kota Malang itu bukan sekadar formalitas ganjal regulasi di atas kertas.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, membeberkan alasan utama di balik penunjukan mantan pemain nasional itu, adalah rekam jejak panjangnya dalam menggembleng talenta muda Malang.
Belasan tahun Doni berkeringat di Akademi Arema, paham luar-dalam karakter dasar hingga grafik perkembangan para pemain muda dari waktu ke waktu.
“Memang ada regulasi, ketika kita menggunakan pelatih kepala asing, harus ada dua asisten pelatih lokal yang memiliki Lisensi A AFC. Coach Doni memenuhi kriteria tersebut. Tetapi tentu bukan hanya karena regulasi itu kami memilih Coach Doni,” ujar pria yang akrab disapa Inal tersebut.
Pria yang bertahun-tahun berkutat dengan fondasi pembinaan pemain muda tentu memiliki kacamata berbeda ketimbang pemandu bakat biasa.
Doni tahu persis mana pemain yang sekadar menonjol di satu-dua pertandingan, dan mana pemain yang benar-benar tempaan fisiknya siap, ketika dilempar ke kerasnya panggung kompetisi kasta tertinggi.
Kehadiran Doni di samping Marcos Santos, diharapkan mampu memangkas sekat birokrasi dan komunikasi antara tim akademi dengan tim utama. Selama ini, banyak talenta muda potensial terlambat terpantau hanya karena saluran informasi antara pelatih akademi dan pelatih kepala tim senior kurang intensif.
“Kami melihat Coach Doni sudah cukup lama bersama Akademi Arema. Dia memahami proses pembinaan, tahu karakter pemain-pemain muda kita, dan tahu bagaimana perkembangan mereka dari waktu ke waktu. Ini yang kami harapkan bisa dibawa ke tim senior,” lanjut Inal.
Manajemen Arema FC menginginkan mata rantai yang jelas. Ketika ada junior di akademi yang menunjukkan grafik performa menanjak dalam latihan harian, Doni bisa langsung memasok data presisi kepada Marcos Santos. Tim pelatih tak perlu lagi meraba-raba kemampuan sang pemain saat promosi ke tim utama.
Dalam beberapa musim terakhir, rekomendasi Doni terbukti ampuh membimbing anak-anak muda Akademi Arema, menembus skuad utama. Pengalaman panjang pasca-pensiun sebagai pemain profesional, menjadikannya sosok ideal sebagai “jembatan” dua generasi.
Inal memungkasi bahwa target jangka panjang Arema FC, adalah menciptakan ekosistem berkelanjutan. Skuad senior membutuhkan kucuran darah segar pemain lokal yang lapar prestasi, sementara akademi bertugas memproduksinya secara konsisten.
“Pada akhirnya kami ingin tim senior dan akademi ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada kesinambungan. Akademi menghasilkan pemain, tim senior membutuhkan pemain, dan staf pelatih bisa mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai pemain-pemain tersebut. Coach Doni kami harapkan menjadi salah satu jembatan dalam proses itu,” pungkas Inal optimistis. (Ra Indrata)




