MALANG POST – Menyambut peringatan HUT RI, Disparta Kota Batu mengimbau seluruh panitia dan peserta pawai budaya tingkat desa/kelurahan, untuk menonjolkan seni tradisi, serta produk unggulan daerah guna memperkuat citra kota wisata berbasis budaya.
Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, selalu identik dengan beragam kegiatan masyarakat. Salah satu yang paling dinanti adalah pawai budaya. Di Kota Batu, momentum tahunan tersebut, diminta tidak hanya menjadi tontonan yang meriah, melainkan juga panggung utama untuk mengenalkan identitas lokal daerah.
Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu mengimbau panitia maupun peserta pawai budaya di tingkat RT, RW, desa, hingga kelurahan, agar lebih banyak menampilkan seni tradisi, budaya lokal, serta produk unggulan khas Kota Batu.
Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat karakter Kota Batu, sebagai kota wisata berbasis budaya. Sekaligus memberi nilai edukasi kepada masyarakat dan wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto mengatakan, Kota Batu memiliki banyak potensi yang sangat layak diangkat, dalam setiap pawai budaya. Tidak hanya kesenian tradisional, melainkan juga produk unggulan yang selama ini menjadi identitas daerah.
“Yang khas dari Kota Batu itu kan ada seni tari, tempe, dan produk unggulan lain. Nah, itu akan lebih elegan atau lebih bagus lagi, ketika diangkat dalam momentum pawai budaya ini,” ujarnya, Rabu (5/8/2026).

PAWAI BUDAYA: Pemkot Batu melalui Disparta mendorong desa/kelurahan di Kota Batu agar membuat pawai budaya tak sekedar meriah namun juga mengangkar seni tradisi. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menurut Onny, pawai budaya memiliki peran lebih dari sekadar hiburan tahunan. Kegiatan tersebut menjadi media promosi yang efektif, untuk mengenalkan kekayaan budaya dan potensi ekonomi kreatif Kota Batu, kepada wisatawan yang datang selama momentum libur Agustus.
Oleh karena itu, setiap wilayah didorong menghadirkan konsep kreatif, dengan tetap menonjolkan karakter lokal masing-masing. Misalnya melalui kostum bertema budaya, atraksi tari tradisional, hingga miniatur produk unggulan, maupun kuliner khas yang menjadi kebanggaan masyarakat Kota Batu.
Dengan konsep tersebut, pawai budaya diyakini tidak hanya menghadirkan kemeriahan di jalanan, melainkan juga meninggalkan kesan mendalam bagi wisatawan. Selain menjadi sarana pelestarian budaya, kegiatan tersebut berpotensi besar menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, terkait pelaksanaan pawai budaya tahun ini, Onny mengungkapkan sudah ada sejumlah panitia yang mengajukan jadwal kegiatan. Namun, seluruh agenda masih menunggu proses koordinasi, agar tidak berbenturan dengan kegiatan lain maupun rekayasa lalu lintas.
“Ada beberapa yang sudah mengajukan. Jadwalnya ada, tetapi koordinasinya nanti dipastikan juga bersama pihak kepolisian,” katanya.
Pemkot Batu berharap penyelenggaraan pawai budaya tahun ini, mampu menghadirkan wajah budaya lokal yang lebih kuat. Tidak sekadar parade hiburan, melainkan juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk melestarikan tradisi, mengenalkan produk unggulan daerah, sekaligus memperkuat citra Kota Batu sebagai destinasi wisata budaya. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




