KECEWA: Ekspresi tidak percaya ditunjukkan Marcos Vinicius Gaspar, yang masuk menit ke-64, usai Arema FC kalah 0-1 dari Persebaya di babak semifinal Piala Presiden. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Pelatih Kepala Arema FC, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, bersama pemainnya Matheus Blade, menyampaikan permohonan maaf kepada Aremania, dalam sesi konfrensi pers usai ditekuk Persebaya Surabaya 0-1, pada semifinal Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (4/8/2026) malam.
Di depan mikrofon ruang jumpa pers Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Selasa (4/8/2026) malam, raut wajah Marcos Santos campur aduk. Kecewa lantaran papan skor mencatat Arema FC kalah 0-1 dari Persebaya Surabaya. Tapi ada juga rasa bangga yang meletup-letup.
Gol tunggal Yuran Fernandes di menit 45+6, memupus langkah Singo Edan ke babak final. Persebaya berhak melenggang meladeni Persib Bandung. Sementara Arema terlempar ke perebutan tempat ketiga melawan Persija Jakarta.
Kalimat pertama yang meluncur dari mulut pelatih asal Brasil itu, adalah rasa bersalah.
“Pertama-tama, saya ingin meminta maaf kepada pendukung Arema, Aremania. Namun, tidak ada kekurangan dalam hal kerja keras dan komitmen.”
“Saya pikir pendukung melihat tim yang berkomitmen, tim yang terus berkembang dari pertandingan pertama hingga laga ini,” tutur Marcos Santos.
Di balik kekalahan itu, pelatih 48 tahun itu memegang satu keyakinan kokoh: Singo Edan sudah menemukan kembali taringnya.
“Saya memiliki kepastian dan keyakinan, Arema telah mengambil langkah besar untuk kembali menjadi tim sebagaimana mestinya: tim besar yang berjuang untuk hal-hal besar di kompetisi dan musim ini,” tegasnya.
Nada serupa ditiupkan gelandang nomor punggung 25, Matheus Blade. Bagi Blade, permainan Arema di lapangan malam itu, jauh lebih hidup dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya melawan Green Force.
“Pertama, mohon maaf kepada Aremania, tetapi dibanding laga sebelumnya melawan Persebaya, kami melakukan pekerjaan yang cukup baik hari ini. Kami bermain sangat baik dan membangun tim yang lebih baik setiap hari. Kami sangat percaya diri menatap Liga 1,” kata Blade.
Lantas, bagaimana analisa mereka mengenai jalannya laga yang berakhir pahit itu?
Di sinilah Marcos Santos bicara blak-blakan. Papan skor memang menunjukkan Persebaya menang. Tapi di matanya, Arema tidak kalah kelas. Singo Edan justru menguasai panggung.
“Saya rasa kalian semua melihat pertandingannya. Saya percaya, meskipun mereka menang, mereka tidak lebih unggul dari kami. Saya yakin kami lebih unggul dalam pertandingan ini,” cetus pelatih berlisensi Pro Conmebol ini.
Satu-satunya perbedaan hanyalah efektivitas memanfaat peluang.
“Sayangnya, ada satu bola di mana mereka berhasil mencetak gol. Namun, saya tetap yakin, kami jauh lebih unggul dari mereka di laga ini.”
“Sayangnya, gol-lah yang dihitung, bukan? Sayangnya mereka mencetak gol dan berhasil mempertahankan hasil tersebut,” lanjut Marcos Santos pasrah.
Matheus Blade mengamini pandangan sang pelatih. Sepak bola terkadang kejam: yang tampil rancak belum tentu keluar sebagai pemenang.
“Arema adalah tim yang bermain lebih baik daripada Persebaya. Namun pada akhirnya, sepak bola itu siapa yang mencetak gol dialah yang menang, bukan? Kami kebobolan satu gol yang membuat kami kalah di akhir laga,” ujar Blade menutup perbincangan. (Ra Indrata)




