MALANG POST – Staf UMM Adjar Yusrandi Akbar, menjadi satu-satunya wakil kampus yang lolos ikuti Erasmus+ Training Mobility di Lublin University of Technology, Polandia, guna mendalami pemanfaatan AI dan tata kelola digital kampus.
Adjar Yusrandi Akbar, S.Pd., M.Sc., menjadi satu-satunya peserta dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang lolos mengikuti Erasmus+ International Credit Mobility (ICM) KA171 Project Training Mobility di Lublin University of Technology, Polandia, pada pertengahan Juni lalu. Program ini difokuskan untuk mempelajari praktik terbaik terkait pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital guna mempercepat tata kelola kampus.
Pria yang menjabat sebagai Kepala Urusan (Kaur) Pengelolaan Data dan Informasi Sumber Daya Manusia (SDM) UMM ini harus melalui proses seleksi ketat. Ia menyingkirkan sekitar 20 pendaftar lainnya dengan melampirkan motivation letter, rekam jejak pekerjaan, hingga sertifikasi kemampuan bahasa Inggris.
Ia menjelaskan bahwa Erasmus+ merupakan program pendanaan Uni Eropa yang dirancang untuk memperkuat kolaborasi internasional melalui skema student, teaching, dan training mobility. Ia secara khusus mengikuti training mobility yang ditujukan bagi tenaga kependidikan untuk memperluas wawasan sekaligus mempelajari praktik pengelolaan sistem informasi dan infrastruktur digital di Benua Eropa.
“Program Erasmus memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar langsung dari praktik yang diterapkan di perguruan tinggi luar negeri. Selain mengikuti pelatihan, kami juga membangun jejaring, bertukar pengalaman, dan melihat berbagai inovasi yang bisa menjadi inspirasi untuk dikembangkan di UMM,” ujarnya.

Selama di Polandia, Adjar berinteraksi lintas budaya dengan delegasi dari Prancis, Italia, Portugal, Jepang, Turki, Slovenia, hingga Maroko. Peserta mendapatkan paparan komprehensif mengenai penerapan kecerdasan buatan dalam riset, industri, robotika, serta optimalisasi sistem informasi perguruan tinggi.
Ia menyadari bahwa ekosistem riset dan teknologi di negara maju berkembang sangat pesat berkat dukungan infrastruktur yang mumpuni.
“Kami memang belum bisa menerapkan seluruh teknologi yang mereka miliki karena konteks dan sumber daya yang berbeda. Namun, budaya belajar, kolaborasi di laboratorium, literasi digital, serta semangat berinovasi merupakan hal yang sangat mungkin diadaptasi di UMM,” jelasnya.
Menurut Adjar, keikutsertaannya ini sangat relevan dengan kebutuhan UMM untuk mengakselerasi digitalisasi sistem informasi SDM. Ia memaparkan bahwa internasionalisasi kampus bukan sekadar mengirim civitas academica ke luar negeri, melainkan upaya membangun perspektif global yang terbuka terhadap perkembangan dunia—sebuah langkah yang sejalan dengan komitmen kemitraan internasional UMM.
“UMM memiliki modal yang besar untuk bersaing di tingkat internasional. Yang perlu dilakukan adalah terus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, membangun mental yang siap belajar, dan berani mengambil kesempatan ketika peluang itu datang,” tegasnya.
Terakhir, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan agar terus mengasah kompetensi bahasa, membuka diri terhadap kolaborasi global, dan berani bersaing.
Pengalaman internasional, menurutnya, bukan hanya untuk pengembangan karier individu, melainkan investasi penting untuk membawa nama institusi semakin unggul di kancah global. (*/M. Abd. Rachman Rozzi/Januar Triwahyudi)




