Oleh: Dahlan Iskan
Begitu pesawat mendarat di bandara Vladivostok, saya langsung meng-on-kan HP. Sebelum berangkat, saya sebenarnya sudah meminta tolong kepada Nicky di Surabaya untuk menguruskan paket roaming internasional Telkomsel khusus untuk negara Rusia.
“Bisa,” katanya saat itu, setelah berkomunikasi dengan GraPARI Telkomsel. Nicky memang orang yang selalu setia mengurus paket roaming saya untuk berbagai negara.
Ternyata, sesampainya di sini, paket itu tidak bisa digunakan. Saya sudah mematikan HP untuk kemudian dihidupkan kembali, tetapi hasilnya nihil: tetap tidak ada sinyal. Saya mulai merasa gelisah. Di zaman sekarang, tanpa HP rasanya kita seperti tidak bisa hidup.
Untunglah proses pemeriksaan di bagian imigrasi berjalan sangat lancar. Tanpa perlu mengisi formulir imigrasi yang rumit, dan tanpa ditanya apa-apa oleh petugas. Kurang dari dua menit, paspor saya sudah selesai distempel. Petugas imigrasi Rusia ternyata tidak menakutkan seperti yang dibayangkan banyak orang.
“Beli saja kartu telepon lokal,” kata saya menghibur diri dalam hati. Namun, saat itu waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. Konter penjualan kartu SIM lokal masih tutup total. Beruntung, loket “Informasi” sudah buka.
Seorang petugas tampak siap melayani di balik meja. Kelihatannya ia adalah petugas pengganti karena berjaga tanpa seragam resmi. Wajahnya terlihat lesu seperti orang yang baru bangun tidur.
Melihat wajahnya yang berorientasi Tionghoa, saya mencoba mengajjaknya berbicara menggunakan bahasa Mandarin. Ternyata bisa! Bahkan kemampuan bahasa Mandarinnya jauh lebih bagus daripada Mandarin saya. Saya pun langsung bertanya di mana lokasi untuk membeli kartu telepon lokal Rusia.
“Kalau Anda mau, saya punya,” jawabnya instan.
“Harganya berapa?” tanya saya.
“300 renminbi,” jawabnya tenang.
Hah? Saya terkejut. Di Vladivostok, Rusia, transaksi justru diminta membayar menggunakan mata uang Tiongkok?
Namun, karena butuh, saya tidak ambil pusing lagi. Langsung saja saya bayar. Saya kemudian meminta tolong kepadanya untuk memasangkan kartu tersebut ke dalam HP saya—tepat di slot yang sebelumnya berisi kartu telepon Madinah yang sudah mati. Begitu dinyalakan, sinyal langsung penuh. Rasanya lega sekali. Saya akhirnya bisa berkomunikasi lagi dengan dunia luar.
“Saya sudah tiba di Vladivostok,” itulah pesan WhatsApp pertama yang saya kirimkan menggunakan kartu lokal tersebut.
“Syukurlah. 很辛苦你 (Sangat merepotkanmu)…,” balas Jannet yang berada di Beijing.
Di Vladivostok, saya mendadak merasa seperti orang yang “buta huruf”. Semua petunjuk jalan dan papan nama toko ditulis menggunakan alfabet Kiril Rusia. Namun, insting saya tahu mana bangunan yang berfungsi sebagai kafe—tidak peduli apa pun huruf Rusia yang dipajang di depannya. Di kafe itulah saya berhenti untuk sarapan. Menu yang disajikan adalah ubi goreng yang irisannya dibuat menyerupai french fries alias kentang goreng.

Monumen kapal selam di Vladivostok, Rusia. (Foto: Disway)
Rasa makanannya tidak terlalu penting bagi saya saat itu. Yang paling penting, saya bisa duduk dengan tenang untuk berpikir bagaimana cara memilih hotel. Saya mulai membuka internet. Daftar nama hotel pun bermunculan di layar. Saya periksa klasifikasi bintangnya, lalu saya lihat harganya. Huraaaa…!!! Harganya mahal sekali. Tingkat kemahalannya mirip tarif hotel di New York di saat sedang ada gelaran Piala Dunia.
Saya pun mulai menghitung-hitung sisa uang hasil pinjaman di Beijing kemarin: cukup atau tidak untuk menutup biaya ini. Alhamdulillah, ternyata cukup.
Langkah berikutnya tinggal menuju ke konter taksi bandara. Petugas wanita di konter tersebut langsung menyodorkan HP-nya ke arah saya. Oh… maksudnya agar saya berbicara langsung ke HP-nya untuk memberi tahu apa lokasi tujuan saya. Melalui aplikasi digital, dia bisa langsung membaca terjemahan dari apa yang saya ucapkan dalam bahasa Inggris.
Begitulah indahnya zaman digital ini. Dua orang yang saling tidak tahu bahasa masing-masing, tetap bisa lancar berkomunikasi berkat bantuan HP yang menjelma sebagai penerjemah gratis.
Namun, saya sempat kaget saat melihat tarif taksi menuju hotel yang saya pilih: mencapai Rp900.000. Emosi saya yang sempat naik segera reda setelah melihat unit mobil penjemputnya: Toyota Alphard. Meskipun bukan tipe edisi yang paling mewah, tetap saja itu sebuah Alphard. Lagipula, bandara ini ternyata terletak jauh di luar kota—memakan waktu sekitar satu jam perjalanan.
Rupanya, sempat terjadi salah informasi di awal. Saya sempat dibawa ke sebuah hotel yang jika dilihat dari luar kondisinya sama sekali tidak setara dengan harganya yang selangit. Saya pun mencoba berbicara kembali dengan pak sopir Alphard tersebut lewat bantuan aplikasi penerjemah gratis. Ia akhirnya mafhum dengan apa yang saya maksud. Diantarkanlah saya menuju hotel terbaik di Vladivostok. Lokasinya sangat strategis di pusat kota dan berada tepat di pinggir laut.
Di sebelah hotel ini, melintang tinggi sebuah jembatan baru yang melintas di atas permukaan laut—kemegahannya mirip seperti Jembatan Suramadu di Jawa Timur. Di seberang laut, terlihat jelas belahan keindahan Kota Vladivostok.
Sepanjang perjalanan dari bandara tadi, saya terus mencari tahu lokasi apa saja yang menarik dan wajib dikunjungi di kota ini. Nomor satu: Monumen Perang Dunia II. Nomor dua: Jembatan Baru. Kebetulan sekali, dua objek wisata tersebut berada tepat di sebelah hotel tempat saya menginap. Jembatan baru berada di sebelah kanan hotel, sedangkan monumen berada di sebelah kiri.
Pukul 09.00 pagi, saya sudah tiba di lobi hotel. Saya memutuskan untuk langsung go show. Saya percaya diri saja pasti ada kamar yang tersedia. “Saya belum melakukan booking. Kami di luar negeri tidak tahu bagaimana cara mem-booking hotel Anda ini dari luar negeri,” kata saya kepada petugas resepsionis.
Kamarnya ternyata tersedia. Hanya saja, jangan tanya berapa harganya. Tentu saja saya langsung dikenakan tarif “mendadak” alias tarif go show yang lumayan menguras kantong. Sudahlah, uang masih bisa dicari, meskipun saya tetap harus mulai berhemat. Petugas hotel menawarkan opsi: saat itu juga saya bisa langsung masuk ke dalam kamar tanpa harus menunggu waktu check-in resmi pada pukul 14.00. Namun ada syaratnya, saya harus membayar biaya tambahan setara dengan tarif setengah hari.
Saya akhirnya memilih untuk menitipkan tas saja di lobi. Setelah itu, saya berjalan kaki menuju ke area seberang hotel untuk menghabiskan waktu di Monumen Perang Dunia II. Kebetulan udara di luar sangat sejuk, sekitar 23 derajat Celsius. Untuk ukuran musim panas pada tanggal 8 Juli 2026, suhu seperti itu rasanya “nyaman sekali”. Namun bagi orang asli Vladivostok, suhu itu terhitung hangat, karena saat musim dingin melanda, udara di sini bisa drop hingga minus 35 derajat Celsius.
Begitu melangkah tiba di area Monumen Perang Dunia II, ups…. kok pemandangannya terasa seperti di Surabaya: ada monkasel—monumen kapal selam. Jangan-jangan keberadaan Monkasel di Surabaya dulunya terinspirasi dari tata kota di Vladivostok ini.
Surabaya dan Vladivostok memang memiliki ikatan hubungan sejarah yang khusus: kedua kota ini sama-sama menjadi basis utama pasukan Angkatan Laut. Di masa lalu, banyak anggota TNI-AL yang dikirim ke Vladivostok untuk menempuh sekolah, kursus, hingga pelatihan militer. Monkasel yang dipajang di bantaran Kalimas Surabaya itu pun merupakan kapal selam asli buatan Rusia—diproduksi langsung dari galangan kapal yang ada di Vladivostok ini.
Bedanya, kapal selam yang dipajang di Vladivostok ini merupakan kapal selam pensiunan era Perang Dunia II. Sementara yang dipajang di Surabaya usianya jauh lebih muda, yakni eks unit tempur angkatan operasi Trikora untuk perebutan Papua pada tahun 1950-an.
Saya kemudian membeli karcis untuk masuk ke dalam Monkasel Rusia tersebut.
“Beberapa waktu yang lalu ada rombongan orang Indonesia yang berkunjung ke sini. Mereka dari Angkatan Laut, pangkatnya tinggi-tinggi,” ujar petugas wanita yang menjaga pintu masuk monumen. Ia pun membuka HP-nya untuk mencari-cari dokumen foto. “Saya sempat berfoto bersama dengan mereka,” tambahnya.
Foto yang dicari akhirnya ketemu. Dua orang di dalam foto itu tampak mengenakan seragam jas resmi TNI-AL. Mereka masih muda, gagah, dan ganteng. Begitu saya baca nama yang tertera di papan nama dada mereka, saya pun langsung tahu siapa sosok mereka sebenarnya.
Kian siang, suasana di monumen terpantau kian ramai. Banyak rombongan turis yang baru tiba menggunakan bus wisata besar. Uniknya, 90 persen dari mereka berwajah Tionghoa. Tour leader-nya juga berwajah Tionghoa, dan seluruh penjelasannya disampaikan menggunakan bahasa Mandarin.
Saya mencoba mendekati beberapa orang dari rombongan tersebut dan mengajak mereka mengobrol menggunakan bahasa Mandarin. Ada sepasang suami-istri yang datang jauh-jauh dari Provinsi Shandong. Mereka bercerita bahwa mereka berangkat naik kereta api selama dua hari dua malam menuju ke kota terakhir di Tiongkok yang berbatasan langsung dengan Vladivostok. Dari sana, mereka baru ganti naik bus umum untuk melintasi pos perbatasan negara.
“Saya seorang TikToker,” katanya memperkenalkan diri dengan bangga sambil menunjuk ke arah kamera khusus yang menempel di dadanya.
“Apakah bisa menghasilkan uang dari TikTok?” tanya saya penasaran.
“Hahaa…. Tidak. Namun, saya senang melakukannya,” jawabnya sembari tertawa. Ia pun kemudian memberikan nama akun TikTok-nya kepada saya: 804471982.
Suami-istri tersebut ternyata merupakan pensiunan dari salah satu perusahaan BUMN di Tiongkok. Mereka berencana menghabiskan waktu selama tiga hari di Vladivostok. “Wilayah ini dulunya merupakan milik Tiongkok,” katanya dengan nada suara yang merendah. “Sedih rasanya,” tambahnya.
Rupanya, ia berniat untuk membuat sebuah konten laporan perjalanan video untuk diperlihatkan kepada rakyat Tiongkok mengenai kondisi terkini Vladivostok—sebuah wilayah bersejarah yang dulunya pernah menjadi bagian dari tanah air mereka. (Dahlan Iskan)



