Oleh: Dahlan Iskan
Cerita dari Vladivostok terpotong lagi. Oleh Febrie.
Saya amati apa yang terjadi dua hari terakhir ini: mulai ada arus balik. Mulai ada yang membela Febrie Adriansyah.
Sudah ada dua tokoh yang muncul ke permukaan: pengacaranya yang hot, Hotman Paris, dan aktivis pembela rakyat tertindas, Said Didu.
Hotman mempersoalkan keabsahan status tersangka Febrie. Status itu dikenakan saat Febrie masih menjabat Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus)—instansi pemberantas korupsi tertinggi di republik ini. Harusnya, kata Hotman, Polisi meminta izin Presiden terlebih dahulu. Mengapa sekadar konsultasi pun tidak. Padahal, Febrie adalah orang yang menjadi andalan Presiden.
Said Didu melangkah lebih dalam lagi: menganggap langkah memperkarakan Febrie itu sebagai serangan balik atas ketegasan Febrie dalam melawan oligarki. Termasuk dalam melakukan penyitaan lahan dan kebun sawit yang dikuasai mereka: 4,1 juta hektare.
Pernyataan Hotman itu telah menimbulkan diskusi publik yang sangat luas. Namun, karena ia menempatkan diri sebagai pengacara Febrie, anggap saja itu bagian dari taktiknya dalam melakukan pembelaan: agar timbul kesan bahwa Febrie sangat dekat dengan Presiden Prabowo. Kesan yang diharapkan berikutnya: mengganggu Febrie sama dengan mengganggu program Presiden.
Febrie pun mulai mengeluarkan kartu-kartunya. Tidak secara langsung, tetapi bisa dibaca dengan jelas.
Misalnya yang dibuka lewat pengacara Don Ritto, Handika Honggowoso. “Uang dan emas yang ditemukan saat penggeledahan itu adalah milik Idon,” kata Handika.
Idon adalah nama panggilan Don Ritto.
Rumah yang di Sentul itu pun, katanya, awalnya memang milik Febrie tetapi sudah dalam penguasaan Idon. Yakni, untuk kegiatan sebuah yayasan keluarga sejak tahun 2023. Artinya, Febrie tidak tahu-menahu soal ditemukannya uang ratusan miliar rupiah di situ.
Berarti sudah ada strategi yang disepakati: strategi bumi hangus. Yang dihanguskan adalah buminya Don Ritto.
Rupanya sudah ada kesepakatan internal: timpakan seluruh kesalahan pada Don Ritto. Bersihkan nama Febrie. Don Ritto-lah yang kotor, sedangkan Febrie itu bersih. Kita lihat saja seberapa lihai Handika menyelamatkan Febrie lewat strategi bumi hangus Idon ini.
Nama Handika memang sesekali muncul dalam perkara korupsi kakap. Ia ikut dalam tim pembela Anas Urbaningrum dalam perkara Hambalang. Ia juga ikut tampil dalam perkara Jiwasraya, perkara mantan Gubernur Jambi Zumi Zola, termasuk juga dalam perkara e-KTP.
Handika adalah orang Solo: alumnus Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS). Saat masih mahasiswa, ia sering ikut berdemonstrasi. Di masa itu, teman-temannya memanggilnya Acong.
Seniornya di Solo mengatakan, nama asli pengacara itu awalnya hanya satu kata: Handika. Setelah menjadi pengacara, ia pergi ke pengadilan untuk mendaftarkan nama baru: Handika Honggowoso. Terdengar lebih keren dan ningrat.
Zaman itu, mahasiswa radikal UNS kalah radikal dengan mahasiswa UMS—Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kalau pendemo dari UNS mendengar akan dikejar aparat, mereka biasanya bersembunyi di kampus UMS.
Kini, Handika berada di pusaran perkara yang sangat besar. Bukan lagi sebagai anggota tim, melainkan sebagai leader.
Si hot Hotman memang pengacara resmi Febrie, tetapi yang tampaknya akan menyelamatkan Febrie adalah pengacaranya Idon.
Don Ritto sendiri saat ini masih dalam tahanan Polisi. Idon adalah orang Jambi, sama seperti Febrie. Idon juga sesama alumnus Fakultas Hukum Universitas Jambi. Awalnya, Idon mendirikan kantor pengacara di Jambi, tetapi kemudian pindah ke Bandung setelah istri dan anaknya meninggal dunia.
Di Bandung, hubungan Idon pun menjadi sangat dekat dengan Febrie. Begitu Febrie menjadi pejabat teras di Kejaksaan Agung, Idon mendirikan banyak perusahaan. Awalnya, saya mengira seluruh harta yang ditemukan Polisi itu akan ”diakui” sebagai harta perusahaan milik Idon. Ternyata saya salah prediksi: harta itu diakui sebagai milik pribadi Idon.
Saya tidak tahu mana yang lebih membuat Polisi sulit mengungkap: diakui sebagai milik pribadi Idon atau sebagai milik perusahaan Idon.
Perkara Don Ritto sendiri kini masih di tangan Polisi, belum ikut dilimpahkan ke Kejaksaan. Berarti, Polisi masih memiliki kendali penuh atas nasib Febrie lewat pendalaman perkara Idon.
Idon memang akan membakar diri. Namun, apinya dipegang Polisi. (Dahlan Iskan)



