MALANG POST – Sebanyak 57 satuan pendidikan di wilayah Malang Raya, mengadopsi ruang terbuka hijau dan halaman sekolah menjadi kebun produktif, melalui program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengonfirmasi pada Jumat (17/7/2026), program akselerasi lingkungan belajar yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini, bertujuan menanamkan karakter kemandirian pangan sejak dini, dengan menempatkan Kota Batu sebagai daerah pelaksana terbanyak yang mencakup 32 sekolah.
Konsep belajar di sekolah kini tidak lagi melulu berkutat di dalam ruang kelas. Puluhan sekolah di Malang Raya (Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang) mulai mengubah halaman dan ruang terbuka hijau mereka menjadi kebun produktif melalui program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) yang digagas oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.
Hingga pertengahan Juli 2026, sedikitnya terdapat 57 satuan pendidikan di wilayah Malang Raya yang telah aktif menjalankan program tersebut. Kota Batu sukses menjadi daerah dengan jumlah sekolah pelaksana terbanyak di tingkat regional.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menjelaskan bahwa program SIKAP merupakan langkah strategis dari Pemprov Jatim untuk menanamkan pendidikan ketahanan pangan sejak dini kepada para peserta didik.
“Program ini membuat proses pembelajaran tidak hanya berlangsung kaku di dalam ruang kelas. Sekolah kini memiliki ruang publik terbuka yang bisa dimanfaatkan secara optimal sebagai media interaksi positif antara guru dan siswa, sekaligus menjadi sarana praktis pendidikan ketahanan pangan,” ujar Aries, Jumat (17/7/2026).
Dari total 57 sekolah pelaksana di Malang Raya tersebut, sebanyak 32 satuan pendidikan berada di Kota Batu, kemudian disusul 17 sekolah di Kota Malang, dan delapan sekolah di wilayah Kabupaten Malang.
Meski demikian, Aries menegaskan bahwa angka sebaran tersebut masih bersifat sementara dan diperkirakan akan terus bertambah. Apalagi, program SIKAP sendiri tergolong gerakan baru setelah resmi diluncurkan secara massal di SMKN 1 Plosoklaten, Kabupaten Kediri, pada Januari lalu.

PANEN: Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai saat memanen jagung melaui program sekolah inovatif ketahanan pangan (SIKAP). (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
Menurutnya, seluruh sekolah di Jawa Timur memiliki potensi besar untuk mengembangkan program serupa. Faktor keterbatasan lahan pun dipastikan bukan menjadi hambatan utama bagi sekolah perkotaan. “Semua sekolah yang punya komitmen untuk program itu pasti kita dorong. Bahkan, sekolah yang tidak memiliki lahan tanah luas pun tetap bisa menjalankannya melalui pemanfaatan sistem hidroponik,” katanya.
Aries menilai, saat ini masih banyak sekolah yang memiliki aset ruang terbuka, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, area kosong tersebut dapat disulap menjadi kebun sayur produktif sekaligus laboratorium pembelajaran lintas disiplin ilmu.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan ketahanan pangan tidak hanya berbicara soal teknis bercocok tanam semata. Banyak mata pelajaran formal yang dapat diintegrasikan secara langsung dalam program lapangan ini, mulai dari biologi, fisika, matematika, hingga statistika.
“Anak-anak bisa belajar mempraktikkan teori langsung dari lingkungan sekitar mereka. Jadi, proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual, aplikatif, dan menyenangkan, tidak hanya mendengarkan teori di dalam ruang kelas,” imbuhnya.
Melalui program SIKAP ini, Pemprov Jatim berharap lembaga sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga mampu membangun karakter siswa yang produktif, memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan, serta memperkuat kesadaran generasi muda mengenai pentingnya ketahanan pangan nasional di masa depan.
Di Malang Raya sendiri, tingginya antusiasme sekolah—terutama di Kota Batu yang dikenal sebagai basis daerah pertanian dan hortikultura—menjadi sinyal positif bahwa model pendidikan berbasis praktik lapangan mulai mendapat tempat utama di lingkungan pendidikan modern.
Halaman sekolah yang sebelumnya kosong atau gersang, kini perlahan berubah menjadi hamparan kebun sayur subur, area instalasi hidroponik, hingga ruang belajar terbuka (outdoor) yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses menanam, merawat, hingga memanen tanaman. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




