MALANG POST – PT Amerta Indah Otsuka menggelar program pertukaran budaya (Culture Exchange Program) dengan mempertemukan siswa JOTO High School Tokushima Jepang dan Brawijaya Smart School (BSS) Malang di Kota Malang, Kamis (6/8/2026). Langkah ini dilakukan guna mendorong aksi nyata daur ulang sampah plastik dan penerapan ekonomi sirkular.
Botol plastik bekas minuman, biasanya berakhir mengenaskan di tempat pembuangan sampah. Namun, di tangan anak-anak muda dari Malang dan Tokushima, Jepang, sampah plastik tersebut justru disulap menjadi jembatan persahabatan antarnegara.
Inilah pemandangan menarik dalam Culture Exchange Program, yang diinisiasi PT Amerta Indah Otsuka di Malang. Acara tersebut dihadiri Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang Gamaliel Raymond H. M., Direktur Yayasan Brawijaya Smart School Dr. Binti Maksuda, serta perwakilan manajemen PT Amerta Indah Otsuka.
Kolaborasi ini sebetulnya merupakan garis sambung, dari keterlibatan kedua sekolah pada ajang World Kansai Expo 2025 lalu. Saat itu, mereka mengusung tema Resource Recycling, yang berfokus pada pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab.
Gagasan tersebut lantas diwujudkan secara konkret melalui pembuatan Circulating Giboshi. Di Jepang, Giboshi merupakan ornamen tradisional pelindung tiang jembatan, yang dipercaya sebagai penangkal marabahaya.
Di tangan para siswa BSS dan JOTO High School, Giboshi diberi ‘nyawa’ baru. Bahan bakunya diambil dari botol-botol plastik bekas, yang dikumpulkan dari sekolah di Jepang dan Indonesia, lalu didaur ulang bersama-sama. Setiap ornamen membawa selipan doa dan komitmen untuk menyelamatkan bumi dari kepungan sampah plastik.

TRADISI: Penyerahan giboshi dari Joto High School ke SMA Brawijaya Smart School. (Foto: Istimewa)
Perwakilan PT Amerta Indah Otsuka, Kozue Nakada, menegaskan bahwa edukasi dan kolaborasi, adalah fondasi penting untuk membentuk masyarakat yang lebih sehat. Apalagi, Prefektur Tokushima memiliki ikatan historis yang sangat kuat sebagai tempat kelahiran Otsuka Group.
“Di Otsuka, kami percaya bahwa keberlanjutan, bukan cuma soal bagaimana perusahaan menjalankan bisnis secara bertanggung jawab, melainkan bagaimana kami menginspirasi generasi berikutnya, untuk menjadi bagian dari solusi. Setiap tindakan kecil, seperti mendaur ulang satu botol plastik, memberi dampak besar bagi masa depan,” tutur Nakada.
Dukungan hangat mengalir dari Pemkot Malang. Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang Gamaliel Raymond mengapresiasi terobosan edukasi lingkungan, yang dikemas menarik tanpa kesan menggurui ini.
“Membangun kota yang berkelanjutan sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Program ini membuktikan bahwa edukasi lingkungan bisa dikemas kreatif lewat pertukaran budaya lintas negara,” ujar Gamaliel.
Sementara itu, Direktur Yayasan BSS Malang Dr. Binti Maksuda menilai interaksi ini memberi tempaan karakter yang mahal harganya bagi para siswa.
“Anak-anak tidak hanya belajar budaya Jepang, tetapi juga belajar kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, dan bagaimana menjadi warga dunia yang peduli pada isu global seperti perubahan iklim,” ungkap Binti.
Selama kegiatan, para siswa saling beradu gagasan dalam diskusi kelompok. Mereka membedah praktik pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, hingga membandingkan kondisi lingkungan di Indonesia dan Jepang.
Mengusung semangat “An Invisible Bridge Uniting Youth for a Sustainable Future“, aksi sederhana mendaur ulang botol ini membuktikan bahwa urusan menjaga bumi memang tidak mengenal batas negara. (Ra Indrata)




