GELANDANG: Gustavo Franca beberapa kali sempat mengancam gawang mantan timnya. Tapi sayang tidak mampu membawa Arema menang. Pertandingan pun berakhir 3-1 untuk Persija. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Pelatih Arema FC, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, mengakui penurunan kondisi fisik di babak kedua, menjadi pemicu utama kekalahan timnya atas Persija Jakarta, sembari menegaskan fokus Singo Edan kini langsung dialihkan menuju persiapan Liga 1.
Rasa kecewa tentu ada. Target menembus babak final Piala Presiden 2026 gagal digapai, dan predikat peringkat ketiga pun lepas dari genggaman. Setelah di laga terakhir kalah 1-3 dari Persija. Arema FC pun harus puas di peringkat keempat.
Tapi bagi jajaran pelatih Arema FC, panggung pramusim ini telah memberikan gambaran utuh, tentang modal dan celah Singo Edan, sebelum kick-off Liga 1 digelar.
Dalam sesi konferensi pers usai laga di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (6/8/2026), Pelatih Kepala Marcos Santos, hadir didampingi gelandang asing Gustavo Franca.
Marcos Santos terang-terangan menyebut anak asuhnya sebetulnya tampil digdaya di 45 menit pertama. Dominasi permainan ada di genggaman Singo Edan.
“Pada babak pertama, kami mampu mendominasi dan bermain dengan sangat baik. Kami mengendalikan jalannya pertandingan dan seharusnya bisa mengakhiri babak pertama dengan keunggulan,” papar pelatih asal Brasil itu.
Namun, cerita berubah drastis usai jeda. Badai kelelahan akibat padatnya jadwal turnamen mulai memakan korban. Tingkat fisik para pemain merosot tajam. Pemain pengganti yang dimasukkan pun, tak bisa berbuat banyak karena berada di titik lelah yang sama.
“Pada babak kedua, tingkat fisik kami mulai menurun—hal yang wajar terjadi. Pemain pengganti yang masuk juga sudah berada di titik lelah. Kami mengambil risiko terjadinya cedera. Meski demikian, seharusnya kami tidak kebobolan dua gol tersebut. Selamat untuk Persija,” tuturnya.
Meski begitu, pelatih 48 tahun itu enggan meratapi nasib. Bagi Marcos Santos, lima laga di Piala Presiden, adalah ajang seleksi alam yang sangat berharga untuk memetakan mentalitas skuad.
“Ini menjadi bahan evaluasi yang baik untuk melihat sikap para pemain: siapa yang siap membantu Arema dan siapa yang harus terus berkembang selama proses ini. Kami berada di jalur yang benar,” tegasnya.
Nada serupa disampaikan Gustavo Franca. Gelandang jangkung itu mengakui kelengahan di babak kedua berbuah fatal. Namun ia memilih menyikapi hasil ini secara dewasa.
“Seperti yang disampaikan Pelatih, kami tampil sangat baik pada babak pertama. Pada babak kedua, tingkat konsentrasi dan kewaspadaan kami sedikit menurun sehingga harus kebobolan dua gol. Tapi sekarang saatnya menegakkan kepala dan fokus menatap Liga 1,” kata Franca.
Menatap laga perdana Liga 1 melawan PSM Makassar pada 4 September mendatang, Marcos Santos sudah merancang langkah taktis.
Singo Edan berencana menggelar dua hingga tiga laga uji coba tambahan untuk mematangkan stamina dan skema permainan.
“Kami percaya pada proses dan kemampuan tim ini. Berbeda dari musim lalu, kali ini kami memiliki masa persiapan dan kompetisi pramusim yang lebih baik,” jelas Santos.
Di luar urusan taktik, Santos menitipkan pesan mendalam bagi seluruh penggawa Arema FC—khususnya para pemain anyar.
“Penting bagi setiap pemain untuk memahami besarnya nama Arema dan lambang singa yang mereka usung. Ketika semua pemain memahami hal tersebut, kami optimistis dapat meraih hasil terbaik di Liga 1,” pungkasnya. (Ra Indrata)




