MALANG POST – Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu, resmi membuka pendaftaran peserta didik baru angkatan kedua dengan kuota terbatas sebanyak 90 siswa prasejahtera di Kota Batu, Kamis (25/6/2026). Program pendidikan boarding school gratis total yang diintervensi langsung oleh pemerintah pusat ini sedang memasuki tahapan verifikasi ketat oleh tim Dinas Sosial guna memastikan seluruh calon murid baru benar-benar berasal dari keluarga miskin kategori desil 1 dan desil 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Memutus rantai kemiskinan itu tidak bisa instan. Senjata paling ampuhnya cuma satu: pendidikan. Tapi bukan sekadar sekolah biasa yang kaku, melainkan sekolah gratis berkualitas yang mampu mengubah mental dan karakter anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Di Kota Batu, jembatan perubahan nasib itu bernama Sekolah Rakyat.
Kabar baiknya, kesempatan emas itu kini kembali dibuka. Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu resmi memulai perburuan siswa baru untuk angkatan kedua. Kuotanya tidak banyak. Terbatas. Hanya menyediakan 90 kursi.
Program pendidikan berasrama yang merupakan program prioritas pemerintah pusat ini terus diperluas cakupannya. Tujuannya mulia: memastikan anak-anak kurang mampu tidak putus sekolah di tengah jalan.
Kepala SRMP 14 Kota Batu, Yulianah Suharyono, membeberkan proses penjaringan yang sedang berjalan. Tim dari Dinas Sosial sudah sebulan terakhir blusukan ke lapangan. Tugas mereka berat tapi vital: memverifikasi dan mendata calon peserta didik secara objektif.
Sebagai pembanding, pada tahun pertama lalu, sekolah ini sudah menampung 148 siswa. “Untuk penjaringan siswa angkatan kedua saat ini sudah berlangsung sekitar sebulan,” kata Yulianah, Kamis (25/6/2026).

KETERAMPILAN: Siswa SRMP 14 Kota Batu saat melatih keterampilan mereka dalam bidang karya seni batik cap. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Aturan main seleksinya ketat. Berbasis data kesejahteraan sosial. Pemerintah mengunci prioritas utama untuk anak-anak desil 1 dan desil 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Itu adalah kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi paling bawah. Paling membutuhkan pertolongan negara.
Sistem belajarnya menarik. SRMP 14 mengadopsi konsep boarding school alias sekolah berasrama. Kurikulum yang dipakai tetap Kurikulum Nasional. Mata pelajarannya sama persis dengan sekolah reguler biasa. Yang membedakan adalah porsinya: ada suntikan tebal untuk penguatan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian melalui aktivitas harian di dalam asrama.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, ikut memasang atensi tinggi pada tahapan verifikasi ini. Heli tidak ingin fasilitas mewah gratisan ini bocor atau salah sasaran ke tangan keluarga yang pura-pura miskin.
“Ini masih proses pendaftaran dan penjangkauan. Jangkauannya di desil 1 dan 2,” tegas Heli.
Menariknya, rekrutmen tahun ini terbantu oleh promosi getuk tular. Anak-anak angkatan pertama menjadi agen informasi paling efektif. Mereka mengajak teman-teman sekampungnya yang putus sekolah karena kendala biaya untuk ikut mendaftar.
Bagaimana dengan fasilitasnya? Cukupan. Heli menyebut sarana pendukung utama sudah memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Namun, birokrasi jujur mengakui masih ada kekurangan.
“Fasilitas penunjang saat ini sudah tercukupi. Tetapi memang belum tersedia laboratorium bahasa maupun laboratorium kimia,” ungkap Heli blak-blakan.
Meski minus laboratorium, daya tarik sekolah ini tetap raksasa. Sebab, seluruh urusan hajat hidup siswa ditanggung penuh oleh negara. Mulai dari biaya pendidikan, seragam, tempat tinggal asrama, hingga urusan makan minum sehari-hari. Nol rupiah.
Heli mengaku puas dengan performa awal sekolah rakyat ini. Dia sudah melihat langsung karya dan aktivitas ekstrakurikuler para siswa angkatan pertama. Hasilnya luar biasa.
Negara sudah modal besar menyiapkan asrama dan biaya hidup, sekarang tinggal tim verifikator ditantang: bisa tidak mengawal 90 kursi kosong ini dengan jujur agar benar-benar diisi oleh anak miskin yang berhak? (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




