DUET: Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi, bersama Deputi KPwBI Malang, Siti Nurfalinda, dalam momen bincang bersama media beberapa waktu lalu. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, secara resmi merilis hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) periode Mei 2026, yang menunjukkan adanya kontraksi atau penurunan omzet penjualan bulanan sebesar -2,53 persen (month-to-month/mtm). Indikator penurunan daya beli masyarakat yang lebih rendah dari realisasi April 2026 sebesar 0,66 persen (mtm) ini, dipaparkan langsung oleh Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi, di Malang, Jumat (12/6/2026), sebagai sinyal terjadinya normalisasi konsumsi dan kecenderungan sikap wait and see konsumen di wilayah Malang Raya.
Membaca gerak-gerik ekonomi itu, tidak perlu menunggu laporan akhir tahun yang tebal. Cukup tengok isi dompet dan setir belanja emak-emak setiap bulan. Dari sana, kita bisa tahu apakah ekonomi sedang berlari kencang, atau justru sedang mengerem mendadak.
Di wilayah kerja Bank Indonesia Malang, urusan intip-mengintip denyut belanja itu punya nama resmi: Survei Penjualan Eceran. Populer disebut SPE.
Ini bukan survei main-main. BI merilisnya secara bulanan sebagai kompas utama. Gunanya untuk mendeteksi dari mana arah tekanan inflasi dari sisi permintaan, sekaligus memotret ke mana arah kecenderungan konsumsi riil masyarakat di pasar.
Hasil jepretan SPE terbaru untuk bulan Mei 2026 sudah keluar. Hasilnya agak kurang bergairah.
Prakiraan penjualan eceran di Malang Raya kedapatan mengalami kontraksi sebesar -2,53 persen (mtm). Angka ini jeblok jika dibandingkan dengan realisasi bulan April 2026 yang masih mencatatkan pertumbuhan positif di level 0,66 persen (mtm). Warga rupanya mulai menahan belanja.
Kepala Kantor Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi, membeberkan dinamika data tersebut secara gamblang.
“Berdasarkan hasil pelaksanaan SPE, ada tiga kelompok komoditas yang mengalami penurunan omzet penjualan paling dalam secara bulanan. Ini menjadi perhatian kami dalam memetakan sumber tekanan ekonomi,” ujar Indra Kuspriyadi, Jumat (12/6/2026), dalam rilis yang diterima Malang Post.
Tiga kelompok penanggung dosa penurunan terdalam itu adalah kelompok barang budaya dan rekreasi yang terkontraksi hingga -12,95 persen (mtm). Padahal pada April lalu kelompok ini sempat terbang tinggi tumbuh 21,98 persen (mtm). Di urutan kedua ada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang minus -3,89 persen (mtm), disusul kelompok kendaraan yang melorot di level -3,59 persen (mtm).
Mengapa kelompok barang budaya dan rekreasi bisa anjlok sedalam itu?
Indra Kuspriyadi menguliti dapurnya. Biang keladinya datang dari subsektor alat tulis yang mencatatkan kontraksi sebesar -17,44 persen (mtm).
“Penurunan di sektor alat tulis ini sangat dipengaruhi oleh belum optimalnya aktivitas pendidikan dan perkantoran pada periode Mei kemarin.”
“Kebutuhan pembelian barang administrasi relatif terbatas, sebab konsumen sengaja memilih menunda pembelian hingga memasuki periode tahun ajaran baru atau saat kebutuhan kerja kembali intensif nanti,” jelas Indra.
Lalu bagaimana dengan urusan perut di kelompok makanan, minuman, dan tembakau? Meski minus -3,89 persen (mtm), angka ini sebenarnya menunjukkan perbaikan dibanding realisasi April yang sempat hancur terkontraksi hingga -19.90 persen (mtm).
Menurut data para responden SPE, penurunan di bulan Mei ini murni dipicu oleh subsektor minuman yang terkontraksi sebesar -22,78 persen (mtm).
“Untuk sektor minuman, ini murni karena faktor normalisasi konsumsi pasca-momen besar sebelumnya. Permintaan minuman mulai mereda di pasar dan konsumen mulai mengurangi pembelian dalam jumlah besar secara bertahap,” tambah Indra Kuspriyadi.
Terakhir, mari kita bedah kelompok kendaraan yang parkir di zona minus -3,59 persen (mtm). Nasibnya mirip sektor minuman, angka minus ini sebenarnya membaik dibanding April yang sempat minus -8,22 persen (mtm). Pemicu utamanya ada pada subsektor mobil yang turun -3,94 persen (mtm).
Logika konsumen mobil saat ini rupanya sedang penuh kalkulasi. Pengusaha diler harus gigit jari.
“Berdasarkan informasi dari para responden di lapangan, penurunan penjualan mobil terjadi karena konsumen cenderung menunda keputusan pembelian. Penyebabnya ada dua: belum adanya program promosi atau diskon yang menarik dari diler, serta adanya sikap wait and see dari konsumen yang memilih menunggu peluncuran model-model mobil baru tahun ini,” urai Indra.
Namun, di tengah mendungnya tiga sektor raksasa itu, lampu hijau masih menyala di beberapa komoditas. Ekonomi Malang tidak sepenuhnya lesu.
Tercatat, kelompok barang lainnya masih mampu tumbuh positif sebesar 3,16 persen (mtm). Disusul oleh kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang naik 2,17 persen (mtm), serta sektor suku cadang dan aksesori yang merayap naik sebesar 0,23 persen (mtm).
Bagi BI Malang, moncernya beberapa komoditas tertentu ini menjadi bukti berharga. Ini indikasi kuat bahwa daya beli warga tidak sepenuhnya hilang. Konsumen di Malang Raya hanya sedang bergeser menjadi lebih cerdas: mereka lebih selektif dalam berbelanja dan memilih mengutamakan pemenuhan kebutuhan yang sifatnya jauh lebih prioritas.
Menutup penjelasannya, Indra Kuspriyadi menegaskan bahwa otoritas moneter tertinggi di Malang ini tidak akan tinggal diam melihat dinamika pasar yang fluktuatif ini. Langkah sinergi akan terus dipompa.
“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Pusat dan Daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Malang,” pungkas Indra.
Pasar memang punya hukum alamnya sendiri. Kadang ramai, kadang sepi. Angka kontraksi -2,53 persen di bulan Mei ini adalah alarm pengingat bagi para pelaku usaha eceran di Malang agar tidak malas berinovasi membuat promo-promo menarik.
Menunggu konsumen datang sendiri di tengah sikap wait and see jelas bukan pilihan bijak. Kita lihat saja apakah tahun ajaran baru nanti bisa mendongkrak kembali grafik penjualan di bumi Arema. (*/Ra Indrata)




