AKSI SOSIAL: Bupati Sanusi saat menyerahkan bantuan beras kepada salah seorang warga Pakis, dalam momen Suling di Majis Jami’ Raudlotul Muttaqin. (Foto: Prokopim Sekda Kab. Malang)
MALANG POST – Bupati Malang, HM Sanusi, secara resmi melanjutkan konsistensi gerakan spiritual-birokrasi, melalui agenda Safari Shalat Subuh Keliling berjemaah di Masjid Jami’ Raudlotul Muttaqin, Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Jumat (12/6/2026) pagi. Dalam kegiatan subuh berjemaah yang dihadiri jajaran Forkopimda dan tokoh agama tersebut, Abah Sanusi tidak hanya melepas imbauan moral keagamaan bagi para pelajar, tetapi juga menggandeng pihak swasta Waroeng Bebek Gombres X Sego Babat Gembres, untuk membagikan paket beras gratis sekaligus membuka posko pelayanan administrasi dinas langsung di area masjid.
Menggerakkan birokrasi di siang hari itu biasa. Sangat normatif. Tapi menggerakkan gerbong besar pemerintahan saat azan subuh berkumandang, itu baru luar biasa. Butuh energi ekstra.
Dan Kabupaten Malang konsisten merawat tradisi subuh itu.
Jumat pagi buta hari ini, udara dingin Kecamatan Pakis mendadak hangat. Halaman Masjid Jami’ Raudlotul Muttaqin di Desa Asrikaton mendadak ramai oleh deretan kendaraan dinas.
Bupati Malang, HM. Sanusi, kembali turun ke lapangan. Agendanya: Safari Shalat Subuh Keliling. Biasa disingkat Suling.
Abah Sanusi tidak datang sendirian. Dia membawa rombongan inti pertahanan daerah. Tengok saja daftarnya: ada Sekretaris Daerah Budiar Anwar, Kepala Kemenag H. Sahid, hingga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Malang.
Belum cukup. Jajaran kepala perangkat daerah, Ketua MUI, Ketua Baznas, Ketua DMI Kabupaten Malang, hingga Forkopimcam Pakis beserta tokoh agama lokal juga ikut terjaga sejak fajar. Menyemut di dalam barisan saf shalat.
Usai salam, acara formal dimulai. Tapi ada yang unik kali ini. Ada urusan perut rakyat yang ikut disentuh.
Selesai shalat, Abah Sanusi langsung membagikan bantuan paket beras untuk masyarakat wilayah Kecamatan Pakis.
Menariknya, bantuan sosial ini datang dari kolaborasi sektor swasta: Waroeng Bebek Gombres X Sego Babat Gembres. Sebuah kombinasi yang pas: mengenyangkan rohani dengan shalat, menenangkan jasmani dengan beras.

SULING: Bupati Sanusi saat memberikan sambutan dalam momen Safari Shalat Subuh Keliling berjemaah di Masjid Jami’ Raudlotul Muttaqin. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
Dalam sambutannya, Sanusi mengingatkan esensi penting dari bersyukur. Bisa bangun subuh dan melangkah ke masjid itu adalah nikmat besar. Politisi PDI Perjuangan ini meminta warga Pakis menjadi teladan: taat pada aturan agama, sekaligus patuh pada aturan pemerintah. Dua hal itu tidak boleh dipisahkan.
“Shalat subuh keliling berjemaah ini bersifat mengingatkan dan mengajak kepada masyarakat untuk memakmurkan masjid. Kita ingin ini bisa menjadi budaya baik, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, sampai ke pelosok desa,” harap Sanusi.
Setir pembicaraan bupati kemudian menukik pada masa depan daerah: anak sekolah.
Bagi Sanusi, kebaikan dan kesalehan itu bukan barang instan. Harus dibiasakan sejak dini. Targetnya jelas: menciptakan pelajar yang saleh dan melahirkan generasi muda terbaik yang memiliki akhlakul karimah, beriman, serta bertakwa kepada Allah.
Maka, dalam konteks subuh berjemaah ini, para penggerak mulai menyasar segmen sekolah. Anak-anak muda diajak, dirangkul agar terbiasa mendatangi masjid sebelum matahari terbit.
Di sinilah Sanusi menekankan pentingnya peran kepala sekolah dan guru. Mereka adalah pendamping taktis di lapangan. Guru tidak boleh hanya mengajar di dalam kelas pada jam tujuh pagi, tapi juga harus ikut mengawal moral anak didiknya sejak subuh.
Sebab, urusan melangkah ke masjid itu bukan soal jarak rumah. Ini soal mental. Soal kebiasaan.
Logika pembiasaan Abah Sanusi ini sangat menarik dipikirkan:
“Dalam rangka membiasakan dan melaksanakan shalat subuh berjemaah di masjid, membutuhkan proses pembiasaan. Sebab masyarakat yang rumahnya dekat dengan masjid pun, apabila tidak terbiasa, akan menjadi kendala.”
“Sebaliknya, masyarakat yang rumahnya jauh dari masjid, tapi apabila sudah terbiasa, pasti akan melangkah melaksanakan shalat subuh berjemaah,” urai Sanusi panjang lebar.
Kalimat yang sangat logis. Ini bukan soal kedekatan geografis, ini soal ketukan hati.
Karena itulah, bupati berharap besar kepada seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari warga biasa, para pelajar, kepala sekolah, hingga guru, mari dukung bareng-bareng gerakan subuh berjemaah ini. Suparuh napas gerakan ini bisa terus meningkat dan berkembang. Ini sejalan dengan visi besar Kabupaten Malang: mewujudkan masyarakat yang agamis.
Hebatnya lagi, safari subuh di Kabupaten Malang ini tidak melulu soal ceramah agama. Manajemen pemerintahannya jalan terus.
Di luar area masjid, berjejer meja-meja pelayanan dari berbagai dinas Pemkab Malang. Mulai dari urusan administrasi kependudukan seperti KTP, KK, hingga urusan perizinan lainnya. Rakyat yang datang shalat subuh bisa sekalian pulang membawa dokumen negara yang mereka butuhkan. Efektif. Tidak perlu repot antre ke kantor kabupaten di Kepanjen yang jauh.
“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat Kabupaten Malang setiap ada kegiatan shalat subuh berjemaah sangatlah patut diapresiasi. Selain itu, pada kegiatan ini juga dilaksanakan pelayanan sehingga memudahkan masyarakat untuk mengurus apa yang dibutuhkan,” tandas Abah Sanusi usai menyapu pandangan meninjau langsung posko pelayanan dinas. (PKP/Ra Indrata/Malang Post)




