MALANG POST – Sebuah pabrik manufaktur di Jalan Semeru II Nomor 9, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, hangus dilalap kobaran api hebat pada Kamis (11/6/2026) malam. Amukan si jago merah yang diduga kuat dipicu oleh kegagalan fungsi mesin produksi sirup pemanis buatan ini, untungnya berhasil diisolasi secara cepat oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Batu. Sehingga tidak sampai merembet luas ke area pemukiman padat penduduk di kanan-kirinya.
Urusan menjinakkan api itu bukan cuma soal adu nyali. Ini soal hitungan detik. Telat sedikit saja mengambil keputusan, taruhannya adalah abu. Habis semua.
Kamis malam lalu, ketangkasan itu diuji.
Langit Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, mendadak merah membara. Sebuah pabrik yang berlokasi di Jalan Semeru II Nomor 9 terbakar hebat. Waktunya pas saat warga bersiap istirahat.
Laporan darurat pertama kali masuk ke Mako Damkarmat Kota Batu tepat pukul 19.45 WIB. Di sinilah profesionalisme itu terlihat. Hanya butuh waktu selang dua menit, sirene armada pemadam sudah melolong membelah jalanan menuju lokasi.

BERJIBAKU: Personel Damkarmat Kota Batu saat berjibaku memadamkan api yang melahap sebuah pabrik di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kepala Damkarmat Kota Batu, Agung Sedayu, menceritakan detail waktu itu, Jumat (12/6/2026) hari ini. Pasukannya tiba di titik api pukul 19.57 WIB. Artinya, response time petugas hanya 12 menit. Sangat cepat.
“Begitu sampai di lokasi, tim langsung melakukan pemadaman sekaligus isolasi area agar api tidak menjalar ke bangunan di sisi kanan dan kiri,” ujar Agung.
Malam itu, operasi dipimpin langsung oleh para perwira lapangan. Ada Regu Jaya, Regu Yudha, hingga Kasi Pemadaman. Mesin penjinak api yang diterjunkan tidak main-main: Unit Gajah 3, Unit Gajah 4, ditambah dua unit tangki suplai air. Mereka langsung mengepung pabrik.
Tapi menjinakkan isi pabrik ini tidak mudah. Menantang. Banyak material di dalam bangunan yang sifatnya gampang menyulut api.
Petugas tidak kehilangan akal. Siasat taktis diambil: mereka emoh memakai air biasa. Bahaya. Metode utama diganti menggunakan cairan foam alias busa pemadam khusus. Cairan ini ampuh menyelimuti material panas agar oksigen terputus.
Siasat busa itu manjur. Setelah dua jam lebih berjibaku melawan asap pekat, api akhirnya menyerah kalah pada pukul 22.25 WIB. Petugas tidak langsung pulang. Proses pendinginan dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api susulan yang bersembunyi di balik reruntuhan. Pukul 22.50 WIB, seluruh pasukan baru bisa kembali ke mako.
Lalu, apa pemicu petaka malam itu?
Investigasi awal tim lapangan langsung menunjuk ke area produksi. Sumber petaka diduga berasal dari mesin pembuat sirup pemanis buatan.
“Dugaan sementara berasal dari mesin produksi sirup, lalu merembet cepat ke ruang produksi sablon kaos,” jelas Agung. Kombinasi cairan manis panas dan kain sablon jelas jadi santapan empuk api.
Untungnya, kerja keras malam itu digarap keroyokan. Gotong royong khas Arema keluar. Damkarmat dibantu oleh PSC Kota Batu, Polres Batu, Arhanud, Relawan Bams, Tagana, perangkat Desa Pendem, Redkar, hingga warga sekitar yang bahu-membahu mengulurkan selang.
Kini, kemarau sudah datang. Hawa panas dan udara kering adalah sahabat karib bagi kelalaian kita.
Agung Sedayu pun menitipkan alarm peringatan bagi kita semua. “Pastikan instalasi listrik, mesin produksi, maupun sumber panas lainnya selalu dalam kondisi aman agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.
Musibah memang tidak pernah mengetuk pintu. Tapi dari kecepatan 12 menit petugas Damkar Batu di Pendem malam itu, kita belajar satu hal: bahwa kesiapsiagaan yang matang adalah satu-satunya benteng terbaik untuk menyelamatkan harta benda dan nyawa sesama. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




