MALANG POST- Di tengah gempuran hustle culture dan rentannya mahasiswa Generasi Z mengalami burnout atau kelelahan mental, menjaga kesehatan mental tidak cukup hanya dengan sekadar berlibur.
Fenomena kelelahan batin ini direspons taktis oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) dengan menggelar Kuliah Sabtu Subuh pada Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari praktikum mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) II ini, dirancang secara khusus sebagai wadah pengisian ulang atau recharge energi spiritual mahasiswa.
Menghadirkan Guru Besar Fakultas Agama Islam (FAI) sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., kajian keislaman ini mengangkat tema yang lekat dengan keseharian sivitas akademika, yakni “Energi Positif dari Ibadah, Charger Spiritual di Tengah Kesibukan Mahasiswa.”
Ratusan mahasiswa yang hadir sejak pukul 03.00 WIB diajak untuk melaksanakan qiyamul lail dan salat Subuh berjamaah, sebelum mendalami refleksi sosiologis tentang makna ibadah yang mulai tergeser oleh padatnya aktivitas akademik.
Syamsul menganalogikan kondisi mahasiswa yang sering merasa kelelahan, stres, dan overthinking layaknya baterai gawai pintar yang kehabisan daya.
Ia menyoroti bagaimana ritme kehidupan komunikasi manusia modern yang serba digital kerap kali kehilangan arah karena bergerak terlalu cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa jeda.
“Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama kita mengalami kelelahan batin,” tegas Syamsul mengutip gagasan dari buku The Power of Full Engagement.
Lebih lanjut, Syamsul memaparkan bahwa kesuksesan sejati manusia dibangun di atas relasi tiga modal utama, yakni spiritual, sosial, dan material. Modal material dinilai akan kehilangan arah jika tidak ditopang oleh modal spiritual sebagai fondasi penentu makna hidup.
Dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, ibadah sejatinya adalah sarana bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah yang berfungsi krusial sebagai relaksasi mental di tengah penatnya perkuliahan.
“Ibadah itu adalah satu konsep yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa perbuatan maupun perkataan, yang tampak maupun yang tersembunyi dalam batin,” jelas Syamsul.
Ia juga menekankan pentingnya mindfulness atau kesadaran penuh dalam beribadah, bukan sekadar rutinitas jasmani belaka. Menurutnya, banyak orang di era modern yang terjebak pada sekadar gerakan fisik demi menggugurkan kewajiban agama, tanpa menghadirkan hati dan jiwa di dalamnya.
“Sering kali tubuh kita berada di tempat salat, tetapi pikiran kita berada di mana-mana. Padahal hakikat ibadah adalah menghadirkan seluruh diri kita di hadapan Allah,” paparnya, mengingatkan kembali esensi syair Ibnu Arabi tentang orang yang salat namun hanya mendapatkan kelelahan fisik.
Pada akhirnya, kesuksesan sejati seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari tingginya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) atau jabatan mentereng di organisasi, melainkan kemampuannya menjadikan seluruh interaksi sosial dan aktivitasnya bernilai ibadah.
Setiap langkah di bangku perkuliahan sepatutnya dilandasi dengan ikhlas (niat karena Allah), ihsan (menghadirkan kebaikan), dan itqan (kesungguhan).
Melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual inilah, mahasiswa UMM diharapkan mampu terus bertumbuh menjadi insan yang tangguh, berilmu, sekaligus berakhlak mulia di era yang kian kompleks. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




