MALANG POST – Manajemen Arema FC secara resmi mengumumkan berakhirnya kerja sama dengan winger kiri muda asal Tulehu, Iksan Lestaluhu (22), pada Jumat (5/6/2026), setelah kedua belah pihak sepakat untuk tidak memperpanjang kontrak kerja sama dua tahun yang telah membuahkan 30 penampilan dan trofi Piala Presiden 2024 bagi Singo Edan.
Dua tahun itu waktu yang cukup. Tidak sebentar, tidak juga terlalu lama. Tapi bagi Iksan Lestaluhu, dua tahun di Malang pasti akan selalu membekas di dadanya.
Mulai Jumat, 5 Juni 2026 hari ini, pemuda 22 tahun itu resmi bukan lagi bagian dari skuad Singo Edan. Manajemen Arema FC memutuskan: kontrak kerja samanya tidak dilanjutkan. Kebersamaan itu harus berakhir.
Iksan harus mengemas kopornya. Meninggalkan Mess Arema.
Padahal, Iksan ini punya modal hebat. Dia lahir di Tulehu, Maluku. Anda sudah tahu: Tulehu adalah kampungnya para pesepak bola jempolan di Indonesia. Semacam “pabrik” bakat alam yang tidak pernah kehabisan stok pemain berbakat.
Selama dua musim berseragam Arema FC, Iksan sebenarnya tidak mengecewakan. Dia anak yang penurut. Kerja kerasnya di lapangan selalu terlihat. Komitmennya tinggi.
Catatan statistiknya pun lumayan untuk pemain seusianya. Dia tampil sebanyak 30 kali bersama tim senior. Menyumbang 2 gol. Di sela-sela itu, dia juga tidak gengsi ketika diminta turun membantu Tim Arema U-20. Di sana dia mencatatkan 4 penampilan.
Dan jangan lupa, Iksan adalah bagian dari skuad emas yang ikut membawa Arema FC menjuarai Piala Presiden 2024 lalu.
Kenangan mengangkat piala itu tentu tidak akan bisa dibeli dengan apa pun.
Tapi, itulah sepak bola profesional. Ada saatnya datang, ada saatnya berganti.
General Manager Arema FC, Yusrinal, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. Manajemen tahu betul, Iksan sudah memberikan segalanya, baik di dalam maupun di luar lapangan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Iksan Lestaluhu atas dedikasi, kerja keras, dan semangat yang telah ditunjukkan selama menjadi bagian dari Arema FC. Kami sangat menghargai setiap perjuangannya untuk klub ini,” kata Yusrinal.
Inal—sapaan akrab Yusrinal—melihat perpisahan ini dari sudut pandang yang positif. Sisi baiknya: Iksan masih sangat muda. Jalan kariernya masih membentang panjang di depan sana.
Di usianya yang baru 22 tahun, Iksan justru butuh satu hal yang paling krusial bagi pemain muda: menit bermain. Jam terbang. Sesuatu yang mungkin agak sulit didapatkan secara reguler di tengah ketatnya persaingan skuad utama Singo Edan saat ini.
“Iksan masih berada pada usia yang sangat baik untuk terus berkembang. Kami mendoakan agar ia meraih kesuksesan di klub barunya nanti, mendapatkan lebih banyak kesempatan bermain, dan mampu mengembangkan seluruh potensinya,” tambah Inal.
Manajemen berharap, tempaan mental selama dua tahun di Malang bisa menjadi modal berharga bagi Iksan. Malang dikenal keras. Suporternya menuntut ekspektasi tinggi. Kalau sudah lulus dari ujian mental di Malang, harusnya Iksan bisa lebih mudah beradaptasi di klub mana pun nanti.
Atas nama keluarga besar Arema FC, manajemen pun melepasnya dengan kepala tegak. Diiringi doa terbaik untuk setiap langkah karier sang pemain di masa depan.
Matur nuwun, Iksan. Sukses di tempat baru! (Ra Indrata)




