Oleh: Dahlan Iskan
Hari ini—tepat 20 tahun yang lalu—saya berada di antara hidup dan mati. Di bagian lain di bawah tulisan ini, ada tulisan Robert Lai untuk mengenang apa yang terjadi 20 tahun lalu itu.
Robert adalah sahabat yang menemani saya berobat di Singapura, Yantai, Beijing, hingga Tianjin. Robert, warga Singapura kelahiran Hong Kong, lebih tahu apa yang terjadi hari ini 20 tahun lalu: dialah yang menyaksikannya secara langsung. Sementara saya sendiri tidak ingat apa-apa setelah dibius total.
Robert-lah yang berangkat ke Tianjin lebih dulu: untuk melihat apakah rumah sakit yang dicalonkan akan mengoperasi saya itu layak atau tidak.
Di zaman itu, Tiongkok belum semodern sekarang. Banyak fasilitas umum yang masih kotor, kumuh, dan berbau toilet. Apalagi Kota Tianjin, termasuk wilayah yang belakangan dibenahi.
Robert pula yang harus memastikan apakah RS itu punya kemampuan melakukan transplantasi hati—sebuah tindakan medis yang masih jarang terdengar kala itu. Kalaupun ada berita tentang transplantasi hati, yang terbaca biasanya kisah kegagalan: pasien meninggal dunia setelah operasi.
Tulisan asli Robert dibuat dalam bahasa Inggris. Saya memasukkannya ke mesin penerjemah Google. Hasil terjemahannya sudah sangat bagus, meski tetap harus saya perbaiki sedikit-sedikit.
Rencananya, saya mengundang Robert untuk datang ke Surabaya hari ini. Kita bisa makan bersama dengan Melinda dan Alex Tedja. Juga bersama Galuh Banjar, anak-anak, menantu, dan cucu saya. Anggap saja itu reuni peringatan peristiwa 20 tahun lalu.

Robert, seorang corporate lawyer, nyaris dua tahun penuh menemani saya. Ups… bukan hanya menemani. Ia juga menjaga, merawat, dan mengelola organisasi kecil demi penyelamatan nyawa saya. Ia mengatur dokter, perawat, obat-obatan, hingga mengurus istri, anak, menantu, dan cucu tunggal saya kala itu.
Robert juga mengontrol apakah petugas kebersihan rumah sakit bekerja cukup baik dalam menjaga kebersihan dan higienitas ruangan saya—termasuk toilet dan kamar mandi.
Dialah yang membelikan handuk, sikat gigi, hingga buah-buahan. Dialah yang mengatur saya dan keluarga boleh makan di restoran mana dan mana yang terlarang. Bahkan, ia ikut tidak pernah makan daging babi selama mendampingi saya.
Kadang-kadang, dialah yang mendorong kursi roda saya.
Semua itu ia kerjakan dengan sepenuh hati, secara pro bono. Ia tidak perlu mendapatkan apa-apa dari saya. Rasanya, tabungan uang Robert jauh lebih banyak dari tabungan saya. Persahabatan kami sangat murni. Saya sering meminta maaf kepada Dorothi, istrinya, yang begitu lama ia tinggalkan demi mengurus saya.
“Dia sudah biasa lama meninggalkan saya,” ujar Dorothi lantas tertawa kecil seperti kebiasaannya.
Robert memang menjadi komisaris di beberapa perusahaan di Hong Kong. Ia harus sering terbang ke Hong Kong, juga ke negara-negara tempat perusahaan itu beroperasi. Serta, tentu saja, untuk bermain golf.
“Sudah main golf di negara mana saja?” tanya saya suatu ketika.
“Sebut saja negaranya. Nanti saya jawab sudah atau belum,” kelakar Robert.
Bahkan Robert pernah ‘sekolah’ manajemen lapangan golf dengan cara magang di lapangan golf terbaik dunia: St Andrews, Skotlandia. Momen itu terjadi saat Robert mendapat tugas dari Perdana Menteri Singapura (kala itu), Lee Kuan Yew, untuk mengelola lapangan golf di sana.
Namun, sejak pandemi Covid-19, hubungan saya dan Robert merenggang. Ia tidak mau lagi bepergian ke Surabaya, Jakarta, Beijing, Tianjin, maupun Amerika Serikat. Ia tidak mau diajak ke mana-mana lagi. Padahal, sejak 30 tahun lalu, ke mana pun saya pergi, selalu ada Robert di sebelah saya.
“Saya harus menjaga istri,” ujar Robert. “Saya tidak mau lagi meninggalkan Dorothi sendirian,” tambahnya.
Dorothi memang kurang sehat. Tiga anak mereka sudah mandiri—satu tinggal di Kuala Lumpur dan satunya lagi di California. Anak yang di Amerika itu, Michelle, beberapa kali tampil di podcast untuk diwawancarai soal bitcoin dan artificial intelligence.
Sesekali, sayalah yang menengoknya di Singapura. Saya berutang nyawa kepadanya. Saya juga sering merasa melankolis jika bepergian ke luar negeri sendirian. Tidak ada lagi Robert di samping saya. Padahal, pengetahuan Robert sangat dalam. Kami sering berdiskusi tentang filsafat hidup hingga filsafat bisnis.

Dari Robert, saya memahami perbedaan gaya berbisnis antara pengusaha Hong Kong dan Singapura. Di Hong Kong, bos bertemu bos untuk menyepakati bisnis baru. Setelah itu, anak buah bertugas mencarikan jalan agar kesepakatan tersebut bisa terwujud. Jika ada aturan yang menghalangi, anak buah wajib mencari jalan keluar, termasuk mencari terobosan.
Di Singapura sebaliknya. Anak buah masing-masing bos yang berunding terlebih dahulu secara terperinci. Semua hambatan dibahas. Setelah semuanya clear dan beres, barulah para bos bertemu untuk penandatanganan.
Sepanjang perjalanan di luar negeri, percakapan kami selalu berisi. Semua hal dan semua topik bisa kami bahas dengan asyik. Hanya satu hal yang tidak pernah menyambung: jika ia mulai mengajak bicara soal golf. Saya gagal memahami golf, dan ia pun gagal ‘mendakwahi’ saya soal golf. Saya tidak pernah bisa menjadi ‘mualaf’ golf.
Ke mana-mana ia selalu membawa majalah golf terbaru atau buku bacaan. Saya sering meminjam bukunya, tetapi tidak pernah tertarik melirik majalah golfnya.
Suatu malam, saya masuk ke kamarnya untuk meminjam majalah golf. Robert tampak sangat senang melihat saya mulai ingin tahu soal golf. “Alhamdulillah,” ujar Robert yang fasih mengucapkan beberapa istilah Islam.
“Bukan. Saya bukan mulai tertarik golf. Saya sedang susah tidur. Saya harus mencari bacaan yang membuat saya cepat mengantuk,” jawab saya bercanda.
Beberapa tahun lalu, ketika saya ke Edinburgh sendirian, saya menyempatkan diri naik mobil dua jam ke luar kota. Saya sengaja tidak mengabari Robert. Saya ke sana hanya karena ingin melihat lapangan golf tempat Robert pernah belajar manajemen. Tiba di sana, saya berfoto di lapangannya, museumnya, dan restorannya, lalu mengirimkan foto-foto itu kepadanya.
“Hahaha… St Andrews!!!” komentarnya ringkas.
Lima hari lalu, saya meminta dengan sangat agar Robert mau berkunjung ke Surabaya bersama Dorothi. Saya belum berani menghubungi Melinda dan Alexander Tedja sebelum ada kepastian Robert bisa datang.
Melinda dan Alex, pemilik Pakuwon Group itu, dulu lebih dari dua minggu meninggalkan bisnis mal mereka untuk tinggal di Tianjin menemani saya. Mereka bahkan menjadi ‘tuan rumah’ ketika lebih dari 50 pengusaha besar asal Surabaya terbang ke Tianjin untuk menjenguk saya. Dari Jakarta, Jenderal Hendropriyono juga datang. Bahkan Presiden SBY menyempatkan diri menyapa lewat saluran telepon.
Dua puluh tahun yang lalu—di H-1 sebelum operasi—Melinda dan Alex ikut tidak tidur semalaman. Mereka menunggu kepastian datangnya organ hati milik seorang pemuda yang meninggal dunia untuk ditransplantasikan ke tubuh saya. Itulah hati yang menggantikan organ hati saya yang sudah menghitam akibat kanker dan sirosis.
Maka, saya sangat ingin bisa bereuni pada peringatan tahun ke-20 peristiwa bersejarah itu.
Namun, Robert tetap tidak bisa datang. Ia tidak tega meninggalkan istrinya sendirian. (Dahlan Iskan)



