DI SLEMAN: Joel Vinicius dan Gustavo Franca saat merayakan kemenangan 5-2 Arema atas PSBS Biak di Stadion Sultan Agung, yang menjadi kandang PSBS Biak. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Berakhirnya kompetisi Liga 1 musim 2025/2026, menempatkan Arema FC di peringkat ke-9 klasemen akhir dengan koleksi 48 poin. Namun, sebuah anomali menarik dicatatkan oleh skuad asuhan pelatih Marcos Santos ini, di mana Johan Farizi dan kawan-kawan terbukti tampil jauh lebih digdaya dan kompetitif saat melakoni laga tandang (away) di luar daerah, dibandingkan ketika bermain di hadapan Aremania di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Ada yang aneh dengan Arema FC musim ini. Sangat aneh.
Biasanya, tim sepak bola itu angker di kandang sendiri. Takut kalau main di luar. Arema justru kebalikannya. Skuad Singo Edan musim 2025/2026 ini malah lebih digdaya saat merantau ke markas lawan.
Di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, mereka seperti memikul beban berat. Tapi begitu main di luar Malang? Mereka mengamuk.
Mari kita bedah datanya. Angka tidak pernah bohong.
Dari 17 kali bertanding di kandang lawan, Arema berhasil menang 5 kali. Kalahnya pun sama: 5 kali. Rasio menangnya 29,41 persen. Angka yang lumayan untuk ukuran laga tandang di liga seketat ini.
Yang paling luar biasa adalah jumlah hasil imbangnya. Ada 7 pertandingan berakhir seri. Artinya, draw rate Arema di luar kandang tembus 41,18 persen. Ini bukti sahih: Arema itu sangat sulit dikalahkan kalau sedang bertamu. Mental mereka tebal.
Ingat laga di markas PSM Makassar? Arema pulang membawa tiga poin setelah menang tipis 2-1. Yang paling puncak saat laga tandang ke markas Persija. Macan Kemayoran dikalahkan 2-0 di depan lebih dari 50 ribu penonton di Jakarta.
Bahkan, anak asuh pelatih Marcos Santos ini sempat bikin rekor mentereng di awal musim. Di saat tim-tim lain sudah bertumbangan di kandang lawan, Arema menjadi satu-satunya tim yang belum tersentuh kekalahan (unbeaten).
Tujuh laga tandang berturut-turut mereka tidak pernah kalah. Rekor terlama di putaran pertama. Catatan suci itu baru ternoda di Pekan ke-16. Itu pun kalah tipis 0-1 dari tuan rumah Bali United.
Urusan mencetak gol di luar rumah juga produktif. Dari total 53 gol Arema musim ini, 21 gol lahir di markas lawan. Setara 39,6 persen.
Ada delapan pemain yang gantian menjebol gawang lawan saat laga away. Siapa yang tersubur? Siapa lagi kalau bukan Dalberto Luan Belo. Penyerang asing ini mengemas 8 gol di rumah orang.
Lalu, bagaimana dengan rekor di Stadion Kanjuruhan?
Ini dia masalahnya. Rekor kandang Arema bisa dibilang biasa saja. Malah cenderung mengecewakan Aremania yang datang langsung ke stadion.
Dari 17 laga di Kanjuruhan, Arema cuma bisa mengais 26 poin. Mereka menang 8 kali, imbang 2 kali, tapi kalahnya ngeri: 7 kali!
Rasio kekalahan di kandang (41,2 persen) beda-beda tipis dengan rasio kemenangan (47,1 persen).
Padahal, awal musim di Kanjuruhan sempat menjanjikan. Pada 11 Agustus 2025, Arema mencukur PSBS Biak 4-1. Itu kemenangan sekaligus poin perdana musim ini. Suporter sempat gembira. Berharap Kanjuruhan bakal jadi kuburan bagi tim tamu.
Nyatanya tidak. Sebulan kemudian, tepatnya 13 September 2025, Dewa United datang dan membungkam Arema 1-2. Itulah kekalahan pertama Arema. Setelah itu, penyakit konsistensi kambuh. Total 7 kali mereka keok di depan publik sendiri.
Kalau dihitung-hitung, Arema kehilangan 25 poin di Kanjuruhan. Poin yang hilang di depan mata Aremania.
Akibatnya, kontribusi poin dari laga kandang hanya menyumbang 51 persen dari total 48 poin akhir Arema. Makanya, posisi mereka tertahan di peringkat ke-9 klasemen.
Padahal kalau urusan produktivitas, main di Kanjuruhan itu tidak jelek. Arema mencetak 30 gol di kandang. Rata-rata 1,7 gol per pertandingan. Tapi lini belakangnya rapuh. Gawang Arema kebobolan 25 kali di rumah sendiri. Rasio kemasukan di kandang mencapai 1,47 gol per laga. Jelas bukan angka yang aman.
Musim kompetisi 2025/2026 sudah selesai. Rapor sudah dibagikan.
Pekerjaan rumah terbesar untuk Marcos Santos musim depan sudah jelas: bagaimana menyuntikkan “mental perantau” yang perkasa itu ke dalam rumput Stadion Kanjuruhan. Agar Singo Edan tidak lagi loyo di rumah sendiri. (Ra Indrata)




