MALANG POST – Mengandalkan pesona alam pegunungan di kaki Gunung Banyak, Koperasi Margo Makmur Mandiri sukses menyulap Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menjadi destinasi wisata edukasi susu perah bertaraf internasional. Sentra peternakan ini tidak hanya mengajarkan proses produksi susu dari hulu hingga hilir kepada wisatawan lokal, tetapi keunikan tata kelolanya kini berhasil memikat perhatian akademisi asing dari Jepang hingga Thailand.
Bayangkan sebuah dusun yang jumlah sapinya jauh lebih banyak dari manusianya.
Itulah Dusun Brau. Letaknya di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Di kaki Gunung Banyak. Penduduk dusun ini cuma sekitar 700 jiwa. Tapi jangan kaget, populasi sapi perahnya tembus 2.500 ekor.
Satu orang berbanding tiga ekor sapi. Luar biasa.
Maka jangan heran kalau setiap hari, dari dusun di atas bukit ini, mengalir sekitar 10.000 liter susu segar. Brau adalah raksasa susu di Kota Batu.
Dulu, potensi ini hanya jadi sumber penghidupan biasa. Diperas, disetor, selesai.

EDUKASI: Wisata edukasi susu di Dusun Brau berhasil memikat mahasiswa asing. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sekarang beda. Warga setempat yang tergabung dalam Koperasi Margo Makmur Mandiri punya cara pandang baru. Potensi itu disulap jadi duit baru: wisata edukasi.
Mereka menjual pengalaman. Menjual ilmu dari hulu sampai ke hilir.
“Pengunjung mendapatkan pengetahuan tentang peternakan sapi perah, manfaat susu, hingga melihat langsung proses pengolahan susu di rumah produksi,” ujar Muhammad Munir, Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri, Kamis (4/6/2026).
Skenario wisatanya ditata rapi.
Awalnya, pelancong dikumpulkan dulu di kantor koperasi. Diberi kuliah singkat soal bagaimana warga mengelola ribuan sapi.
Setelah itu, barulah masuk ke menu utama: pelesiran ke kandang.
Di sana, wisatawan melihat langsung kehidupan nyata peternak. Bagaimana memberi pakan yang bergizi, merawat kesehatan sapi, membersihkan kandang, sampai seni memerah susu yang benar.
“Di kandang kami jelaskan semuanya,” kata Munir.
Keluar dari kandang, petualangan belum selesai. Wisatawan diajak mengawal perjalanan susu menuju koperasi. Di sini ada drama sains. Susu yang baru keluar dari puting sapi itu suhunya masih hangat, sekitar 32°C.
Susu hangat ini sensitif. Harus cepat ditangani agar tidak rusak.
Koperasi punya standar ketat. Begitu lolos uji warna dan rasa, susu harus langsung masuk mesin pendingin. Suhunya dipaksa turun drastis sampai tersisa sekitar 1,5°C.
Dari mesin pendingin itulah, kreativitas hilirisasi dimulai.
Wisatawan bisa melihat bagaimana susu murni itu diolah menjadi produk turunan yang bernilai tinggi.
Ada susu pasteurisasi, yogurt yang segar, es krim, permen susu, stik susu, hingga keju premium. Sebagian bisa dicicipi langsung di tempat. Segar sekali.
“Sebagian susu kami olah sendiri. Sisanya baru dikirim ke pabrik industri pengolahan susu skala besar,” tambah Munir.
Siapa yang datang?
Mayoritas memang rombongan pelajar dan mahasiswa dalam negeri. Tapi magnet Brau rupanya sudah memancar ke luar negeri.
Konsep pengelolaan susu berbasis koperasi ini tercium sampai ke mancanegara.
Munir bercerita, lembaganya sudah beberapa kali menerima kunjungan studi dari ilmuwan internasional.
“Kami pernah menerima kunjungan dari Hiroshima University Jepang dan Chiang Mai University Thailand. Mereka penasaran bagaimana kami mengelola susu di sini,” ungkapnya bangga.
Secara geografis, Dusun Brau ini terhitung terpencil. Jaraknya sekitar 7,5 kilometer dari pusat Kota Batu. Berbatasan langsung dengan Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Jalannya menanjak membelah perbukitan hijau.
Tapi begitulah hukum pariwisata modern. Sejauh apa pun tempatnya, kalau punya keunikan yang tidak ada di tempat lain, orang akan datang sendiri.
Bahkan orang Jepang dan Thailand pun rela datang ke Brau hanya untuk belajar dari para peternak lokal.
Sebuah bukti, bahwa dari kandang sapi di pelosok Batu, bisa lahir ilmu kelas dunia. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




