MALANG POST – Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Batu, Heli Suyanto, turun langsung memimpin inspeksi mendadak (sidak), pemeriksaan kesehatan hewan kurban bersama tim dokter hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP), di sepanjang kawasan Jalan Pattimura dan Jalan Sultan Agung, Selasa pagi (19/5/2026). Langkah jemput bola sepekan menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah ini sengaja digencarkan guna menjamin kelayakan syariat dan kesehatan ternak, sekaligus memberikan proteksi total bagi konsumen di Kota Wisata tersebut.
Iduladha tinggal sepekan lagi. Lapak-lapak bambu penyedia kambing dan sapi sudah berderet rapi. Bau khas prengus sudah menyengat jalanan Batu.
Heli Suyanto tidak mau hanya menerima laporan di balik meja nyaman Balai Kota Among Tani. Pagi itu, ia memilih memakai sepatu kets. Ikut blusukan ke dalam kandang darurat pinggir jalan.
Di sampingnya ada lima dokter hewan yang bersiaga penuh. Mereka membawa stetoskop, senter, dan vitamin. Targetnya jelas: memeriksa satu per satu hewan kurban.
Bukan pemeriksaan kilat. Ini pemeriksaan detail. Mata kambing diperiksa—apakah jernih atau berair. Mulutnya dibuka—dilihat apakah ada sariawan atau liur berlebih. Kuku-kukunya dicek. Fisiknya harus sempurna.
“Hari ini kami lakukan pemeriksaan di dua titik tersebut. Hewan kurban diperiksa satu per satu oleh tim dokter hewan untuk memastikan kondisinya sehat,” ujar Heli Suyanto, di sela-sela memegang tanduk seekor kambing Jawa, Selasa (19/5/2026).
Ada Sertifikat di Leher Kambing
Pemerintah Kota Batu tahu cara menenangkan hati warganya yang hendak beribadah. Hewan yang lolos uji klinis dari lima dokter hewan itu tidak sekadar dilewati. Mereka langsung disuntik vitamin gratis agar kondisinya tetap prima menghadapi stres cuaca jalanan.

PEMERIKSAAN: Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto bersama tim dokter hewan Distan-KP Kota Batu saat melakukan pengecekan kesehatan hewan kurban di sejumlah lapak pedagang. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Lalu, ada benda penting yang dikalungkan di leher ternak: Kartu Tanda Keterangan Kesehatan.
Kartu ini ibarat paspor suci. Tanda garansi resmi dari negara. Pembeli tidak perlu lagi ragu atau menebak-nebak apakah kambing yang mereka taksir sedang sakit atau sehat.
“Setelah dinyatakan sehat, hewan akan diberi kartu keterangan kesehatan. Ini sebagai jaminan kepada masyarakat bahwa hewan tersebut sudah melalui pemeriksaan,” tambah Heli. Sebuah langkah komunikasi publik yang cerdas dan menenangkan.
Kepala Distan-KP Kota Batu, Hendry Suseno, yang mendampingi jalannya sidak, tersenyum lega melihat data sementara di papannya. Hingga selasa siang, grafik kesehatan ternak di Batu masuk kategori hijau. Bagus.
“Sejauh ini belum ada temuan penyakit menular. Kondisi hewan yang kami periksa rata-rata bagus. Jika ada yang tidak sehat, tentu tidak diperbolehkan untuk dijual terlebih dahulu,” tegas Hendry.
Sistem Digital Penangkal Hantu PMK
Namun, ketenangan ini tidak boleh membuat petugas lengah. Hantu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih membayangi ingatan kolektif para peternak. Penyakit itu sangat kejam. Bisa merubuhkan industri peternakan dalam hitungan hari.
Batu adalah kota konsumen hewan kurban, bukan produsen utama. Mayoritas pasokan daging hidup ini menyerbu masuk dari tetangga dekat: Kabupaten Malang. Sebagian lagi didatangkan dari Blitar dan Mojokerto.
Maka, pintu gerbang kota dijaga ketat. Aturannya kaku: setiap truk pembawa ternak wajib menunjukkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal.
Hebatnya, birokrasi zaman sekarang sudah semakin ringkas. Hendry menjelaskan, para pedagang kini tidak perlu lagi antre berbelit-belit mengurus kertas di dinas asal. SKKH sudah bermutasi menjadi sistem daring (online). Tinggal klik, verifikasi, beres.
“Kalau ada hewan dari luar daerah masuk ke Kota Batu, kami pastikan harus membawa surat keterangan kesehatan. Jika tidak ada, kami minta untuk dikembalikan dulu. Kami tidak ingin PMK kembali merebak di Kota Batu,” kata Hendry dengan nada serius.
Pasukan UB Siap Jaga Masjid
Perburuan kartu sehat ini dipastikan masih panjang. Ada 13 titik lapak besar dan peternakan yang sudah masuk daftar antrean radar pemeriksaan Distan-KP. Jumlah itu diprediksi akan terus membengkak seiring makin dekatnya hari H penyembelihan.
Hebatnya lagi, pengawasan ini tidak berhenti sampai di lapak pedagang saja (antemortem). Pemerintah Kota Batu sudah menyiapkan strategi pascapenyembelihan (postmortem).
Logikanya begini: fisik luar bisa saja menipu, namun kondisi organ dalam—seperti hati, paru-paru, dan limpa—baru bisa terlihat secara sahih setelah pisau jagal bekerja.
Hendry tidak mau mengambil risiko ada cacing hati yang lolos ke meja makan warga. Pasukan besar disiapkan. Tidak tanggung-tanggung: ada 300 personel gabungan yang akan disebar ke masjid-masjid dan lokasi pemotongan di seluruh pelosok desa dan kelurahan di Batu.
Pemerintah juga membangun koalisi akademis dengan menggandeng para mahasiswa dan pakar dari Universitas Brawijaya (UB) Malang. Mereka akan bertindak sebagai pengawal kualitas daging kurban.
Tahun lalu, perputaran ekonomi kurban di Batu cukup gemuk: ada 1.800 ekor kambing/domba dan lebih dari 100 ekor sapi yang dipotong. Tahun ini angkanya diperkirakan stabil tinggi.
Menjaga tradisi ibadah tahunan agar berjalan aman dan higienis memang butuh kerja kolosal. Dan lewat sinergi dokter hewan, ketegasan SKKH online, hingga pengerahan ratusan relawan kampus, Kota Batu tampaknya sudah sangat siap menyambut berkah Iduladha dengan benderang. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




