Pravissi Shanti, Psikolog Universitas Negeri Malang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST— Angin dingin berhembus pelan di kawasan wisata Jembatan Cangar. Pemandangan hijau perbukitan dan semburat kabut pagi yang menenangkan sering kali menyapa siapa pun yang datang. Namun, di balik keindahan itu, tersimpan kisah pilu yang perlahan menguak: semakin banyak nyawa yang memilih titik itu sebagai perhentian terakhir.
MENYUSURI LORONG GELAP PIKIRAN yang RAPUH
Bayangkan seseorang yang setiap hari menjalani hidup dengan senyuman, namun di dalam hatinya tersimpan luka yang tak terlihat. Ia bangun pagi, bekerja, bersosialisasi—tapi di malam hari, sendiri, ia bergulat dengan suara-suara yang terus berbisik bahwa dunia mungkin lebih baik tanpa dirinya.
Shanti, sapaan akrab Dosen Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) Pravissi Shanti, menggambarkan bahwa fenomena ini bukanlah sekadar pilihan pribadi. Jauh di dalamnya, terdapat simpul-simpul rumit yang saling mengikat: luka masa lalu, tekanan hidup yang tak tertahankan, rasa sepi di tengah keramaian, atau mungkin air mata yang tak tertumpahkan selama bertahun-tahun.
“Lokasi seperti Jembatan Cangar yang relatif sepi dan jauh dari perhatian bisa memberikan persepsi aman bagi individu yang sedang dalam kondisi psikologis rentan,” jelas Shanti dengan nada prihatin.
WAJAH GANDA PENDERITAAN: PEREMPUAN dan LAKI-LAKI dalam PUSARAN KRISIS
Di balik angka-angka, ada kisah yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Penelitian menunjukkan perempuan lebih sering melukai diri sendiri—entah dengan sayatan atau cara lain—sebagai bentuk tangisan yang tak terucap. Namun ironisnya, laki-laki justru lebih banyak tercatat dalam angka kematian bunuh diri. Mereka memilih metode yang lebih ekstrem, mungkin karena sejak kecil diajarkan untuk tak boleh lemah, tak boleh menangis, dan tak boleh meminta tolong.
KETIKA MEDIA MENJADI CERMIN atau PEMICU?
Shanti juga mengingatkan bahwa pemberitaan tentang peristiwa bunuh diri memiliki pengaruh besar. Berita yang sensasional, dengan deskripsi rinci mengenai lokasi dan cara, bisa menjadi petunjuk bagi mereka yang rentan. Ini seperti memberikan peta kepada seseorang yang sedang tersesat di tengah hutan—tanpa sadar, kita mungkin mengarahkannya pada jurang.
“Media perlu mengedepankan jurnalisme yang berempati. Perbanyak informasi edukatif, layanan bantuan, dan langkah pencegahan, bukan detail yang justru berbahaya,” pesannya.
STIGMA yang MEMBUNGKAM JERITAN HATI
Di Indonesia, mengaku sedang tidak baik-baik saja kerap dijawab dengan kalimat seperti, “Kurang bersyukur,” atau “Imanmu lemah.”
Tidak sedikit orang yang mengalami depresi justru mendapat penilaian negatif dari lingkungannya. Mereka belajar untuk memendam, memakai topeng kebahagiaan, dan tersenyum meskipun hatinya remuk.
“Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental masih perlu ditingkatkan. Karena stigma, banyak orang enggan mencari bantuan profesional,” kata Shanti.
MENGENALI ISYARAT DIAM: KETIKA SESEORANG MEMBUTUHKAN PELUKAN
Lantas, bagaimana kita bisa menolong? Tanda-tandanya sebenarnya bisa dikenali: perubahan perilaku drastis, seseorang yang tadinya ceria menjadi tertutup, kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukainya, atau mulai berbicara tentang kematian sebagai ‘jalan keluar’. Inilah isyarat diam yang sering terlewat.
HARAPAN yang TUMBUH di TENGAH DINGINNYA KOTA
Berkaca dari peristiwa di Jembatan Cangar, berbagai pihak mulai bergerak. Di Universitas Negeri Malang, misalnya, mahasiswa kini memiliki akses ke Badan Pelayanan Konseling, Konsultasi, dan Pengembangan Karakter (BPK3), Satgas PPK, serta Tim Kesehatan Mental. Layanan ini menjadi ruang aman bagi mereka yang bergumul dengan beban.
Namun Shanti mengingatkan bahwa garda terdepan tetaplah orang-orang terdekat: keluarga, sahabat, dan teman sebaya.
“Walau sudah banyak layanan tersedia, orang yang paling dekat dengan individu rentan tetaplah teman dan lingkungan sekitarnya. Cobalah lebih peduli, karena kepedulianmu bisa menyelamatkan nyawa seseorang,” ujarnya dengan penuh harap.
PESAN di BALIK KABUT
Mungkin Anda tidak akan pernah tahu siapa yang duduk di samping Anda hari ini sedang menyembunyikan luka. Mungkin ia rekan kerja yang selalu ceria, atau teman sekelas yang kerap melontarkan lelucon. Namun di balik senyum itu, bisa jadi tersimpan pertanyaan yang tak pernah berani ia ucapkan: “Apakah ada yang peduli?”
Di ketinggian Jembatan Cangar, di antara kabut yang turun perlahan, ada pelajaran berharga tentang rapuhnya hidup dan arti sebuah kepedulian. Karena kesehatan mental bukanlah tanggung jawab satu orang—ia adalah cermin kemanusiaan kita bersama.
Kepedulian Anda mungkin sederhana: sekadar mendengar tanpa menghakimi, atau menemani dalam diam. Namun bagi mereka yang berjuang sendiri, itu bisa berarti segalanya. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




