RKT: Farmscapping dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas lingkungan pertanian dalam jangka panjang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Mengkhawatirkan, ketergantungan petani terhadap pestisida kimia mendorong sivitas akademika Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan inovasi pertanian ramah lingkungan melalui metode farmscaping.
Pendekatan ini memanfaatkan tanaman berbunga dan musuh alami hama untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menekan penggunaan bahan kimia di lahan pertanian.
Pendekatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa serta dosen UM melalui riset dan pendampingan langsung kepada petani di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Metode farmscaping dinilai menjadi solusi alternatif untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia yang selama ini dianggap sebagai jalan pintas dalam pengendalian hama.
Naufal Wima Al Fahri menjelaskan, penggunaan pestisida secara berlebihan justru menimbulkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan produktivitas pertanian.
Menurutnya, residu bahan kimia dapat memicu resistensi hama, mencemari tanah dan air, serta menurunkan populasi serangga penyerbuk yang berperan penting dalam ekosistem.
“Penggunaan pestisida secara berlebihan dapat merusak keseimbangan ekosistem dan mengancam produktivitas jangka panjang,” ujarnya dalam kajian yang difasilitasi UM pada Sabtu 14 Februari 2026 di LSP Pertanian Presisi.
Melalui metode farmscaping, petani memanfaatkan tanaman refugia seperti bunga matahari, kenikir, dan bunga kertas untuk menarik musuh alami hama, di antaranya kumbang koksi, laba-laba, dan tawon parasitoid.
Kehadiran predator alami tersebut membantu mengendalikan populasi hama tanpa harus bergantung pada bahan kimia sintetis. “Farmscaping adalah cara bekerja sama dengan alam, bukan melawannya,” kata Naufal.
Penerapan metode ini mulai menunjukkan hasil positif di sejumlah daerah. Di Kabupaten Malang, penggunaan tanaman refugia terbukti meningkatkan keberagaman arthropoda pengendali hama di lahan pertanian.
Sementara itu, petani di Pamekasan mulai mengombinasikan tanaman hortikultura dengan tanaman berbunga guna menciptakan ekosistem pertanian yang lebih seimbang dan sehat.
Praktik serupa juga diterapkan Kholifah, Ketua P4S Tani Makmur Pasuruan. Ia memanfaatkan musuh alami sebagai agens hayati untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia di lahan pertanian.
“Tidak semua serangga harus dimusnahkan. Ada yang justru membantu petani,” ujarnya.
Pendekatan ekologis tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas lingkungan pertanian dalam jangka panjang.
Namun, penerapan farmscaping masih menghadapi tantangan karena sebagian petani menganggap pestisida kimia lebih praktis dan cepat digunakan dibandingkan metode alami yang memerlukan proses bertahap.
Meski demikian, UM terus mendorong pengembangan pertanian berkelanjutan melalui riset, edukasi, dan pendampingan kepada masyarakat.
Dukungan pemerintah melalui program Genta Organik juga dinilai penting untuk mempercepat transisi menuju sistem pertanian yang produktif, sehat, dan ramah lingkungan.
Penerapan farmscaping sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 2 tentang Zero Hunger, poin 12 tentang Responsible Consumption and Production, serta poin 15 tentang Life on Land karena mendukung pertanian berkelanjutan dan menjaga keseimbangan ekosistem. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




