MALANG POST – Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem pendidikan tinggi saat ini bukan lagi sekadar tren teknologi. Namun sudah menjadi sebuah kebutuhan esensial untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Hal ini ditekankan oleh Arija Rose Wanodya, Google Education Specialist, dalam agenda Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (12/5/2026).
Dalam paparannya, Rose sapaan akrabnya menegaskan bahwa AI hadir sebagai katalisator untuk memberdayakan pendidik, bukan untuk menggantikan peran mereka.
Melalui pemanfaatan platform Google Workspace for Education, AI generatif berfungsi layaknya asisten kolaboratif tanpa lelah yang mampu mengakselerasi berbagai tugas administratif repetitif.
“Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), perancangan kuis, hingga pembuatan rubrik penilaian yang objektif kini dapat dilakukan dengan sangat presisi.”
“Efisiensi ini memberikan ruang waktu berharga bagi pendidik untuk kembali fokus pada aspek esensial: interaksi langsung, bimbingan emosional, dan pengembangan karakter anak didiknya,” jelasnya.

Sejalan dengan wawasan tersebut, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Dr. Ir. Suyatno, M.Si., menyatakan bahwa dosen dituntut terus beradaptasi dengan teknologi.
Agenda kolaborasi antara Indosat dan Google Education ini secara khusus diikuti oleh 30 dosen muda, sebagai langkah konkret UMM dalam merespons disrupsi digital.
Lebih jauh, Suyatno sapaan akrabnya menyoroti fenomena mahasiswa masa kini yang semakin mahir teknologi namun cenderung pasif di ruang kelas. Menurutnya, sejak masifnya penggunaan AI, mahasiswa bisa menggali informasi dengan sangat cepat.
“Kalau kita menulis judul di papan tulis, misalnya tentang animal breeding, mereka sudah mencari sendiri di internet. Jika dosen tidak meramu metode mengajar yang lebih cerdas, kita pasti akan tertinggal,” ungkapnya.
Ia juga turut mengkritisi pemberian tugas berupa makalah ketik yang tingkat kesamaannya kini bisa mencapai 80 persen.
Ia mengingatkan bahwa raga mahasiswa sering kali terlihat ada di kelas, tetapi jiwa dan pikiran mereka sepenuhnya tertuju pada layar gawai pintar masing-masing.
“AI ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah tuntutan nyata kebutuhan zaman. Sama seperti taksi konvensional yang dulu sempat menolak kehadiran transportasi online, jika kita terus bermusuhan dengan AI, maka kita sendiri yang akan kolaps,” tegas Suyatno.
Acara pelatihan intensif ini dilanjutkan dengan ujian sertifikasi pada sesi kedua. UMM sangat berharap, melalui sertifikasi Gemini AI ini, para dosen muda mampu menularkan virus positif literasi digital kepada rekan sejawat lainnya.
Melalui langkah tersebut, diharapkan tercipta ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif, inovatif, serta senantiasa relevan dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan global.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




