Muhammad Ibra, wisudawan terbaik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Siapa sangka, bahan dapur sederhana seperti sereh bisa menjadi awal perjalanan akademik yang mengantarkan Muhammad Ibra meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa kedokteran gigi, Ibra melihat sesuatu yang sering luput dari perhatian: potensi tanaman yang sehari-hari digunakan di dapur.
Dari situlah muncul gagasan untuk meneliti sereh dapur (Cymbopogon citratus) sebagai bahan alami yang berpotensi membantu perawatan periodontitis atau penyakit gusi.
Selama kurang lebih lima bulan, ia menghabiskan waktunya di laboratorium untuk menguji ekstrak sereh yang diformulasikan dalam bentuk gel.
Penelitian tersebut berfokus pada kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab periodontitis, yaitu Porphyromonas gingivalis.
“Saya memilih sereh karena mudah ditemukan di Indonesia, tetapi ternyata memiliki kandungan senyawa aktif yang berpotensi sebagai antibakteri,” ujar Ibra.
Periodontitis sendiri merupakan penyakit jaringan penyangga gigi yang cukup sering dijumpai. Kondisi ini terjadi akibat penumpukan plak bakteri yang memicu peradangan, dan dalam jangka panjang dapat merusak jaringan penyangga gigi.
Selain kebersihan mulut, beberapa faktor lain seperti kebiasaan merokok dan kondisi sistemik tertentu, misalnya diabetes, juga dapat memengaruhi keparahan penyakit ini.
Bagi Ibra, penelitian ini bukan hanya soal membuktikan efektivitas suatu bahan, tetapi juga bagaimana membuatnya lebih aplikatif. Karena itu, ia mengembangkan ekstrak sereh dalam bentuk gel agar dapat digunakan secara topikal dan lebih praktis.
Hasil yang diperoleh cukup menjanjikan. Seluruh konsentrasi gel yang diuji mampu menghambat pertumbuhan Porphyromonas gingivalis, dengan efektivitas terbaik pada konsentrasi 3,5 persen.
Meski demikian, efeknya masih bersifat bakteriostatik, yaitu menghambat pertumbuhan bakteri, belum membunuhnya secara keseluruhan.
Di balik hasil tersebut, ada proses panjang yang tidak selalu mudah. Mulai dari tahap perumusan bahan, pengujian di laboratorium, hingga memastikan stabilitas sediaan gel agar dapat digunakan dengan baik.
Dalam formulasi tersebut, Ibra juga memanfaatkan agen antijamur seperti Ketoconazole dalam kadar tertentu untuk membantu menjaga masa simpan produk.
Penelitian ini menjadi langkah awal dalam pengembangan bahan alami sebagai alternatif dalam bidang kedokteran gigi. Bagi Ibra, sereh bukan lagi sekadar bumbu dapur, melainkan simbol bahwa potensi besar bisa datang dari hal-hal sederhana di sekitar kita.
Kini, ia melanjutkan langkahnya sebagai dokter gigi muda di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Brawijaya, membawa semangat yang sama: menggali potensi sederhana untuk memberi manfaat yang lebih luas.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




