RUSAK: Terdapat enam mobil yang ringsek akibat amuk massa dalam kasus Pantai Wedi Awu. (Foto: Humas Resma)
MALANG POST – Manajemen Arema FC bersama organisasi Aremania Utas, resmi memberikan pendampingan hukum bagi empat warga Malang, yang ditetapkan sebagai tersangka dalam insiden pengeroyokan dan perusakan mobil wisatawan di Pantai Wediawu, Kabupaten Malang.
Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral, untuk memastikan proses hukum berjalan adil. Sekaligus menjaga kondusivitas persaudaraan di wilayah Malang Raya.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menegaskan, komitmen bantuan hukum ini bertujuan untuk mengayomi warga yang terlibat, tanpa bermaksud mengintervensi proses penyidikan yang sedang berjalan di Polres Malang. Menurutnya, insiden tersebut merupakan momentum penting untuk melakukan evaluasi bersama.
“Kami hadir bukan untuk membenarkan tindakan yang melanggar hukum. Namun, sebagai keluarga besar, Arema FC dan Aremania Utas ingin memastikan adanya hak pendampingan hukum yang adil bagi mereka. Kami ingin situasi tetap tenang dan semangat kekeluargaan tetap menjadi prioritas utama,” ujar Inal, panggilan akrabnya.
Lebih lanjut, Inal menambahkan, langkah ini juga menjadi sarana edukasi bagi para pendukung dan masyarakat luas.
Tujuannya, agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Mengingat pentingnya kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata di Malang Raya.
Sebelumnya, Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, dalam rilis resminya menyampaikan, pihak kepolisian telah menetapkan total empat orang tersangka dalam perkara ini.
“Kami telah menetapkan tiga orang tersangka sebelumnya, dan pada siang ini (Jumat, 8/5/2026), ditetapkan lagi satu orang tersangka tambahan,” jelas AKBP Muhammad Taat Resdi kepada awak media.
Berdasarkan hasil penyidikan kepolisian, para pelaku yang merupakan warga lokal tersebut memiliki peran yang variatif.
Mulai dari melakukan pelemparan batu, melakukan aksi vandalisme dengan mencoret kendaraan menggunakan cat semprot, hingga oknum yang diduga memobilisasi massa menuju lokasi kejadian.
Pihak manajemen klub berlogo singa mengepal ini berharap, proses hukum dapat berjalan transparan. Arema FC berkomitmen agar peristiwa ini menjadi titik balik untuk merajut kembali rasa persaudaraan dan memperbaiki citra pariwisata daerah.
“Malang adalah rumah yang ramah bagi siapa saja. Bersama Aremania Utas, kami ingin membawa pesan bahwa setiap persoalan bisa diselesaikan dengan cara yang bijak tanpa menghilangkan rasa tanggung jawab hukum,” pungkas Inal. (Ra Indrata)




