REKOR: Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi, ketika menerima pengalungan medali Rekor MURI atas rekor penjualan jajanan pasar varian terbanyak menggunakan QRIS. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Perpaduan apik antara memori masa lalu dan kecanggihan teknologi masa kini, tersaji dalam gelaran Kenduri Lawasan, yang menjadi puncak rangkaian QRISMA-FEST 2026.
Acara yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang bersama Pemerintah Kota Malang ini, berlangsung khidmat sekaligus meriah di Gedung Kesenian Gajayana, Jumat (8/5/2026) malam.
Acara bertema “Memorabilia: Dari Tradisi ke Transaksi” tersebut, menandai komitmen kuat Kota Malang dalam mempercepat digitalisasi ekonomi, tanpa meninggalkan akar budaya.
Selain menjadi kado untuk HUT ke-112 Kota Malang, ajang ini juga mencatatkan sejarah baru dengan raihan Rekor MURI, melalui penjualan 112 tumpeng jajanan jadul menggunakan QRIS.
Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi, mengungkapkan, kegiatan ini merupakan refleksi perjalanan Kota Malang.
Terinspirasi dari sejarah kepemimpinan dan transformasi budaya di Kota Pendidikan ini, BI Malang tertantang untuk mengolaborasikan nilai historis dengan sistem pembayaran modern.
“Digitalisasi saat ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban. Kita harus ikut atau akan hanyut.”
“Namun, pilihan untuk maju tidak berarti melupakan tradisi dan keagungan nilai-nilai leluhur di Kota Malang,” ujar Indra dalam sambutannya.
Indra menjelaskan, angka 1.120 merchant yang terlibat dalam Malam Merchant-QRIS, sengaja dipilih sebagai simbol keramat penghormatan terhadap usia Kota Malang yang ke-112.

PENUTUP: Wali Kota Malang, memotong tumpeng HUT ke-112 Kota Malang, yang perayaannya ditutup dengan gelaran Kenduri Lawasan. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Selain itu, rangkaian acara juga menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kompetisi lingkungan bersih di 34 RT, Amazing Race untuk 210 siswa SD, hingga workshop digitalisasi bagi UMKM.
Apresiasi Wali Kota Malang atas Capaian Rekor MURI
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang hadir langsung dalam acara tersebut, memberikan apresiasi tinggi atas keberanian Bank Indonesia Malang, menjawab tantangannya untuk menghidupkan kembali Gedung Kesenian Gajayana.
“Gedung ini memang tua, tapi memiliki nilai sejarah luar biasa. Memilih tempat ini sebagai lokasi penutupan rangkaian HUT Kota Malang, adalah keputusan tepat untuk mengingatkan kita pada akar budaya. Sembari melangkah ke masa depan yang lebih modern,” tutur Wahyu.
Ia juga menyoroti pencapaian Rekor MURI penjualan tumpeng jajanan tradisional via QRIS, sebagai bukti nyata kemandirian ekonomi.
Menurutnya, inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi digital kini telah merambah ke sektor kuliner tradisional, bukan hanya milik usaha besar.
“Sinergi ini membuktikan bahwa tradisi dan teknologi bisa berjalan beriringan. Saya harap kolaborasi ini terus berlanjut agar Kota Malang maju secara ekonomi namun tetap memegang teguh jati dirinya,” pungkas orang nomor satu di Pemkot Malang tersebut. (Ra Indrata)




