MALANG POST – Direktur Kesehatan (Dirkes) Ditjen Kuathan Kemhan, Marsekal Pertama (Marsma) TNI dr. Mukti Arja Berlian, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Sabtu (9/5/2026).
Dalam Sidang Terbuka yang digelar di Auditorium Pascasarjana Unmer Malang tersebut, perwira tinggi bintang satu ini memaparkan temuan ilmiah, yang menjadi solusi atas fenomena memilukan gugurnya para dokter muda saat menjalani program internship.
Melalui disertasinya, dr. Mukti membuktikan, pola Respectful Engagement atau pola komunikasi berbasis penghargaan martabat manusia, menjadi kunci utama dalam mengelola modal manusia (human capital) di lingkungan rumah sakit bertekanan tinggi, agar tetap sehat secara fisik maupun psikologis. Serta terhindar dari burnout yang berujung fatal.
Respectful Engagement: Solusi Humanis di Tengah Tragedi
Penelitian dr. Mukti yang berjudul “Pengaruh Kepuasan Kerja dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan melalui Respectful Engagement pada RSAU Tipe A di Indonesia”, menyoroti variabel sosial yang sering terlupakan di balik hierarki militer yang ketat.
Berdasarkan sampel 168 responden dari total 957 karyawan RSAU Tipe A di seluruh Indonesia, dr. Mukti menemukan bahwa kinerja medis tidak bisa hanya diukur secara administratif.

“Kita mendengar kabar duka tentang rekan dokter muda yang meninggal saat internship.”
“Ini adalah alarm keras bagi manajemen SDM rumah sakit. Pola Respectful Engagement mengatur bagaimana komunikasi dua arah, dukungan interpersonal, dan penghargaan terhadap martabat individu dilakukan.”
“Ini mencegah perintah hierarki yang kaku berubah menjadi beban psikologis,” ujar Marsma dr. Mukti di hadapan tim penguji.
Kreativitas Jenderal Lintas Keilmuan
Keberhasilan dr. Mukti meraih gelar doktor di usia 56 tahun, mendapat apresiasi luas dari tokoh yang hadir. Termasuk Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, serta Wakil Ketua Umum GM FKPPI, Ir. R. Agoes Soerjanto, MT.
Agoes menyebut, dr. Mukti sebagai sosok jenderal yang sangat kreatif dan inspiratif karena mampu menembus batas lintas keilmuan.
“Beliau adalah sosok dengan dedikasi tinggi. Selain sebagai dokter dan tentara, beliau sangat aktif di aktivitas kepemudaan dan memiliki kreativitas membanggakan sebagai musisi saxophone.”
“Semangat belajarnya membuktikan bahwa bekerja untuk negara harus dibarengi dengan pemikiran ilmiah,” puji Agoes Soerjanto.
Debat Akademik dengan Pakar Senior
Sidang berlangsung dinamis di bawah bimbingan Promotor Prof. Dr. Boge Triatmanto, M.M., dan Ko-Promotor Prof. Dr. Harianto Respati, M.M., Dr. Mukti harus mempertahankan temuannya di hadapan sembilan penguji, termasuk penyanggah eksternal Dr. Ari Hermawan. Para penguji mencecar relevansi social capital theory yang diangkatnya.
Dengan tenang, dr. Mukti menjelaskan, hubungan sosial yang kuat di rumah sakit adalah sumber daya strategis yang lebih mahal daripada alat medis mana pun.
Saat perawat atau dokter merasa dihargai oleh sistem, ketelitian terhadap kondisi pasien akan meningkat secara natural.
Misi Baru di Kementerian Pertahanan
Bagi lulusan FK Universitas Brawijaya ini, gelar doktor bukan sekadar prestasi akademik, melainkan alat pengabdian baru.
Di tengah kesibukannya sebagai birokrat di Kemhan, ia membuktikan bahwa intelektualitas bisa berjalan beriringan dengan tugas negara.
Ia berharap temuannya ini dapat diterapkan di seluruh Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dan rumah sakit umum lainnya untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi.
Daftar Dewan Penguji:
Prof. Dr. Boge Triatmanto, M.M. (Promotor)
Prof. Dr. Harianto Respati, M.M. (Ko-Promotor)
Dr. Ari Hermawan, S.K.M., SM., MM., CHRA (Penyanggah Eksternal)
Prof. Dr. Grahita Chandrarin, Prof. Dr. Widji Astuti, Prof. Dr. Sunardi, Prof. Dr. Bambang Supriadi, Prof. Ir. Agus Suprapto, dan Dr. Mokhamad Natsir.
Biodata Singkat:
Nama: Marsma TNI dr. Mukti Arja Berlian, Sp.PD., Sp.KP., M.M., FINASIM.
Jabatan: Dirkes Ditjen Kuathan Kemhan RI.
Keahlian: Spesialis Penyakit Dalam & Kedokteran Penerbangan.
Hobi: Budayawan dan Pemain Saxophone Jazz. (Ra Indrata)




