MALANG POST– Suara debur ombak dan aroma khas mangrove menyambut puluhan anak muda yang turun dari bus di kawasan pesisir Bajulmati pada Jumat pagi, 24 April 2026.
Mereka bukan sekadar wisatawan biasa. Hari itu, Bajulmati menjadi ruang kelas raksasa bagi peserta Program Better Understanding for a Better World (BUBW) 2.0 – COSMOS, yang berkolaborasi dengan komunitas Putra-Putri Brawijaya.
Sisiwa duduk melingkar di bawah tenda sederhana, menyimak dengan saksama penjelasan seorang narasumber lokal.
Dari telapak tangan yang mungil hingga tempurung keras, dari ancaman predator alami hingga ulah tangan manusia.
Semua dibedah dalam bahasa yang mudah dicerna. Ini bukan perkuliahan biasa di ruang ber-AC. Ini adalah pendidikan berbasis pengalaman lapangan yang langsung menyentuh hati.
“Saya tidak pernah membayangkan bisa melihat langsung proses penyu bertelur dan bagaimana telur-telur itu dijaga dengan sangat hati-hati,” ujar Abdullah, peserta asal Nigeria, dengan mata berbinar.
Baginya, perjalanan ribuan kilometer ke Indonesia terbayar lunas saat ia ikut memegang tukik dan melepasnya ke laut.
“Ini kali pertama saya terlibat dalam konservasi penyu. Saya sangat terinspirasi melihat masyarakat lokal dan lembaga konservasi bergandengan tangan. Ini bukan hanya soal menjaga satwa, ini tentang menjaga masa depan lingkungan,” katanya, tersenyum lebar.

Setelah sesi pembekalan, para peserta tak hanya menjadi pendengar. Mereka diajak menyusuri area penangkaran, mengamati langsung siklus hidup penyu, dan melihat bagaimana upaya perlindungan dilakukan secara nyata.
Tidak berhenti di situ, tangan-tangan mereka kemudian berlumur lumpur saat mengikuti aksi penanaman mangrove di pesisir.
Pohon-pohon kecil itu ditanam dengan keyakinan bahwa akar-akarnya kelak akan menjadi benteng alami yang melindungi habitat penyu dari abrasi dan kerusakan lingkungan.
Naghita, selaku wakil koordinator kegiatan, menjelaskan bahwa semua ini adalah bagian dari rencana besar.
“Kami ingin peserta tidak hanya memahami konsep keberlanjutan secara teoritis. Mereka harus merasakan langsung praktiknya di lapangan. Dengan begitu, semangat keberlanjutan akan tertanam lebih dalam,” ujarnya mantap.
Kegiatan ini seirama dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-14 yang fokus pada pelestarian ekosistem laut, serta tujuan ke-13 mengenai aksi mitigasi perubahan iklim berbasis alam.
Di bawah terik matahari Bajulmati, anak-anak muda dari berbagai negara itu belajar satu hal sederhana namun dalam: bahwa menjaga alam bukanlah beban, melainkan investasi untuk masa depan.
Menjelang sore, beberapa peserta masih duduk di tepi pantai, menatap cakrawala. Ada senyum dan haru di wajah mereka. Lewat kegiatan ini, diharapkan para peserta BUBW 2.0 – COSMOS tak hanya pulang dengan kenangan.
Tetapi juga dengan misi: menjadi agen perubahan yang membawa semangat keberlanjutan ke kampus dan komunitas masing-masing. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




