ANCAM: General Manager Arema, Yusrinal Fitriandi ketika berbincang dengan Marcos Santos dan Andre Caldas, beberapa waktu lalu. Di sisa empat laga, manajemen menuntut ada koreksi total terhadap tim. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Gelombang amarah suporter Arema FC, Aremania, memuncak usai tim kesayangan mereka menelan pil pahit. Berupa dua kekalahan beruntun dalam laga bertajuk Derby Jawa Timur. Lawan Persebaya kalah 0-4 dan dikalahkan Persik 2-3.
Ratusan suporter pun sempat mengepung kantor Arema FC, atau yang akrab disebut Kandang Singo di Jalan Mayjend Panjaitan Nomor 42, Kota Malang, Minggu (3/5/2026) malam, dengan melakukan aksi bakar ban sebagai simbol matinya karakter petarung Skuadra Singo Edan.
Menanggapi situasi yang memanas tersebut, manajemen Arema FC secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada publik Malang Raya, sekaligus mengeluarkan instruksi keras bagi tim pelatih dan pemain, untuk melakukan evaluasi total demi menjaga martabat klub di sisa kompetisi Liga 1.
Aksi yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB tersebut, sempat melumpuhkan arus lalu lintas di kawasan Betek.
Bau sangit karet terbakar dan kepulan asap hitam membubung tinggi di depan kantor klub, mengiringi nyanyian kritik dan tuntutan perubahan dari para pendukung yang merasa harga diri tim telah dipertaruhkan dalam laga gengsi melawan rival sesama Jatim.
Bakar Ban: Simbol Kekecewaan Mendalam
Aksi bakar ban yang dilakukan Aremania di aspal Jalan Mayjend Panjaitan, menjadi sorotan utama. Bagi suporter, kekalahan dalam Derby Jawa Timur bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan hilangnya identitas “Malangan” yang lugas dan tak kenal menyerah.
Massa menuntut penjelasan konkret dari manajemen terkait performa tim yang dinilai loyo dan tanpa determinasi.
Manajer Bisnis Arema FC, Munif Bagaskara Wakid, yang turun langsung menemui massa di tengah kepulan asap pada Minggu malam, menyatakan, pihaknya sangat memahami rasa sakit hati yang dialami suporter.
“Kami mendengar langsung aspirasi dari teman-teman Aremania. Keluh kesah, kecewa, dan amarah itu kami rasakan juga. Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Malang, terutama pengguna jalan yang aktivitasnya terganggu akibat aksi semalam,” ujar Munif saat memberikan keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Manajemen Haramkan “Zona Nyaman”
Meski secara matematis, Arema FC sudah berada di posisi aman dan dipastikan lolos dari jeratan zona degradasi, General Manager (GM) Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menegaskan, hal itu bukan alasan bagi pemain untuk bersantai.
Kekalahan dalam dua laga derby adalah tamparan keras yang membuktikan ada masalah fundamental di internal tim.
“Apapun bentuk reaksi Aremania, kami sangat menghargai sebagai bentuk kecintaan. Namun, yang terpenting kita tetap jaga kondusivitas dan dijauhkan dari tindakan destruktif. Kami sudah bicara keras kepada jajaran tim. Tidak ada toleransi untuk hasil memalukan seperti kemarin,” tegas Inal Selasa (5/5/2026)
Inal, sapaan akrabnya, menyebut manajemen telah mendesak tim pelatih untuk membongkar kembali strategi dan mentalitas pemain.
Menurutnya, manajemen tidak ingin Arema FC terjebak dalam “kenyamanan semu” hanya karena sudah lolos degradasi.
Instruksi Sapu Bersih Empat Laga Sisa
Sebagai bentuk pertanggungjawaban profesional dan jawaban atas kritik pedas suporter, manajemen mengeluarkan mandat “Sapu Bersih”. Inal memerintahkan agar di empat pertandingan tersisa, tidak boleh ada poin yang terbuang, baik saat melakoni laga kandang maupun tandang.
“Kami instruksikan dengan jelas, empat laga tersisa harus menghasilkan poin maksimal. Kata maaf dan evaluasi saja tidak cukup. Jawaban terbaik bagi Aremania adalah kemenangan di lapangan,” tegas Inal dengan nada bicara yang serius.
Manajemen menginginkan para pemain menunjukkan karakter asli Singo Edan di sisa musim ini. Target menang di semua laga sisa bukan sekadar ambisi mengejar posisi klasemen yang lebih baik, melainkan upaya memulihkan kepercayaan publik Malang yang sempat luntur.
Menjaga Martabat Singo Edan
Di sisi lain, manajemen menyampaikan terima kasih kepada Aremania, yang tetap memberikan kritik secara elegan meski dalam suasana penuh emosi. Aksi bakar ban dinilai sebagai pengingat keras bahwa Arema FC bukan sekadar klub sepak bola, melainkan identitas dan harga diri warga Malang.
“Kami berterima kasih kepada Aremania yang luar biasa respek dalam memberikan evaluasi. Mari kita hadapi sisa musim ini bersama-sama.”
“Kami pastikan komitmen untuk membangkitkan performa tim demi menjaga martabat klub tetap terjaga. Mari kita tunjukkan bahwa Arema adalah tim besar yang mampu bangkit dari keterpurukan,” pungkas Inal. (Ra Indrata)




