KOMPAK: Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi; Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dan Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, dalam peluncuran QRISMA di Kayutangan Heritage. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Digitalisasi keuangan di Kota Malang, menunjukkan lonjakan drastis hingga menjadi kiblat transaksi nontunai di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Malang.
Merespons tren positif tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Malang, resmi meluncurkan program QRISMA (QRIS untuk UMKM dan Masyarakat) Volume Pertama, Senin (4/5/2026).
Inisiatif yang digelar dalam rangka menyemarakkan HUT ke-112 Kota Malang ini, menjadi ajang transformasi besar-besaran dari pola transaksi tradisional menuju digital. Sekaligus memperkuat posisi Kota Malang, sebagai kota ‘Mbois’ yang modern dan berkelas.
Peluncuran QRISMA yang berlangsung di kawasan Kayutangan Heritage ini, dihadiri langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, bersama Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi. Kegiatan ini direncanakan berlangsung mulai 4 hingga 7 Mei, dan akan ditutup secara resmi pada 8 Mei 2026 mendatang.
Dominasi Transaksi Digital di Kota Malang
Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi, mengungkapkan alasan kuat di balik pemilihan Kota Malang, sebagai lokasi peluncuran perdana QRISMA. Berdasarkan data per Maret 2026, volume transaksi digital di Kota Malang, mencatatkan angka yang fenomenal.
“Dari total 28 juta transaksi di tujuh kabupaten/kota wilayah kerja kami, sebanyak 20 juta transaksi terjadi di Kota Malang. Artinya, 73 persen aktivitas nontunai di wilayah BI Malang, berasal dari kota ini,” ujar Indra.

SIMPLE: Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, saat scan QRIS senilai Rp112, untuk membayar tiket masuk ke kawasan Kayutangan Heritage. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Tak hanya dari sisi volume, pertumbuhan penggunaan QRIS di Kota Malang pada Maret 2026 melonjak hingga 182 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi nominal, Kota Malang menyumbang Rp1,27 triliun atau sekitar 60 persen dari total nilai transaksi di wilayah BI Malang yang mencapai Rp2,13 triliun.
“Data ini membuktikan, QRIS sudah mendarah daging dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Di usia ke-112 ini, Malang telah matang sebagai kota yang terdigitalisasi.”
“QRISMA adalah persembahan kami untuk mendukung Malang tumbuh menjadi kota yang ‘Mbois’ dengan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” imbuh Indra.
Dari Tradisi Menuju Transaksi
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyambut hangat inisiatif QRISMA sebagai langkah strategis literasi keuangan bagi UMKM. Ia menekankan filosofi “Dari Tradisi ke Transaksi”, di mana nilai-nilai sejarah dan heritage Kota Malang, kini dibalut dengan kemudahan teknologi masa kini.
“Kota Malang terkenal dengan heritage-nya. Kita jadikan aset peninggalan masa lalu ini bermanfaat bagi masyarakat melalui sentuhan digitalisasi.”
“Dulu transaksinya tunai atau tradisional, sekarang melalui QRISMA, semua beralih ke nontunai menggunakan QRIS,” terang Wahyu.
Wahyu mengapresiasi perubahan pola pikir (mindset) masyarakat. Terutama para pelaku usaha di kawasan Kayutangan Heritage.

HADIAH HUT: Kepala KPwBI Malang, Indra Kuspriyadi dan Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menunjukkan aplikasi QRIS yang bisa digunakan di kawasan Kayutangan Heritage dengan harga khusus. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Ia mengakui, mengubah kebiasaan dari tunai ke nontunai memerlukan pendekatan humanis yang tidak mudah. Namun, saat ini manfaatnya sudah dirasakan langsung oleh warga lokal maupun wisatawan.
Multiplier Effect: Kuliner Serba Rp112
Sebagai bentuk perayaan HUT Kota Malang, program QRISMA juga menghadirkan promo unik bagi masyarakat. Wisatawan dan warga dapat menikmati berbagai kuliner di kawasan Kayutangan Heritage dengan harga spesial hanya Rp112 melalui pembayaran QRIS, yang berlaku saat peluncuran tersebut.
“Kami tadi sudah membuktikan sendiri, masuk ke gerai UMKM dan membeli makanan hanya seharga Rp112. Ini adalah bentuk kolaborasi nyata yang memberikan dampak ekonomi (multiplier effect) langsung kepada warga,” tambah Wahyu.
Melalui sinergi antara BI, OJK, perbankan dan Pemkot Malang, digitalisasi kini bukan lagi sekadar pilihan. Melainkan kewajiban untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah Kota Malang berkomitmen untuk terus memperluas penggunaan QRIS hingga ke pasar tradisional, tempat wisata, hingga transaksi keuangan pemerintah daerah. (Ra Indrata)




