MALANG POST – Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur, menjadikan momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5/2026), sebagai titik balik penguatan kolaborasi lintas sektor.
Mengingat besarnya tanggung jawab mengelola 4.688 satuan pendidikan menengah di Jatim, Dindik menegaskan, pemerataan mutu pendidikan hanya bisa dicapai melalui persatuan tiga pilar utama: pemerintah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta kepedulian masyarakat luas.
Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan keterbatasan anggaran negara sekaligus mempercepat peningkatan kompetensi guru agar selaras dengan perkembangan teknologi digital yang kian masif.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menekankan, keterlibatan DUDI dan masyarakat sangat krusial. Saat ini, Jatim mengampu beban pendidikan yang besar, mulai dari 2.158 SMK, 2.132 SMA, hingga 398 SLB, baik negeri maupun swasta.
“Pendidikan tidak bisa hanya diurus oleh pemerintah. Harus ada sinergi dari tiga kekuatan utama: pemerintah, dunia usaha dan industri, serta masyarakat.”

SAPA SISWA: Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai saat menyapa siswa. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
“Jika ketiga komponen ini bersatu dan memiliki kepedulian yang sama, saya yakin pendidikan kita akan melompat jauh lebih maju,” tegas Aries Agung Paewai saat ditemui di Kota Batu, Minggu (3/5/2026).
Fokus pada Kompetensi Guru dan Pemerataan Mutu
Aries mengidentifikasi, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah disparitas kompetensi tenaga pendidik yang belum merata.
Padahal, guru merupakan garda terdepan dalam mencetak generasi unggul. Namun, program pelatihan dan pengembangan kompetensi membutuhkan biaya yang tidak sedikit jika hanya mengandalkan APBD.
“Meningkatkan kompetensi guru memerlukan investasi yang besar. Ini harus menjadi perhatian bersama agar guru-guru kita, mendapatkan ilmu tambahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi terbaru,” imbuhnya.
Guna menjawab hal tersebut, Dindik Jatim melalui Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) terus menggulirkan pelatihan masif.
Selain itu, sertifikasi berbasis Kerangka Kerja Nasional Indonesia (KKNI), juga difasilitasi melalui UPT Pengembangan Teknologi dan Kejuruan (PTKK), di bawah naungan Ditjen Vokasi Kemendikdasmen.

KEBERSAMAAN: Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu saat bersama para pelajar dan guru di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Aries menilai keberhasilan pendidikan, tidak boleh hanya diukur dari prestasi individu segelintir siswa. Melainkan dari pemerataan potensi di seluruh daerah di Jawa Timur. “Tugas kita adalah pemerataan potensi. Jatim harus tetap menjadi barometer pendidikan nasional,” tandasnya.
Persiapan Menuju Indonesia Emas 2045
Senada dengan visi provinsi, Dinas Pendidikan Kota Batu, juga memaknai Hardiknas 2026 sebagai penguatan fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045.
Kepala Dindik Kota Batu, Alfi Nurhidayat, menyebut peran orang tua, guru, dan siswa sebagai pilar fundamental.
“Pendidikan adalah instrumen utama pembentuk daya saing generasi mendatang. Persiapan menuju Indonesia Emas 2045, harus dilakukan secara komprehensif mulai sekarang.”
“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak, yang telah membawa kemajuan signifikan bagi dunia pendidikan di Kota Batu,” ujar Alfi.
Diharapkan dengan sinergi yang semakin erat antara pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya, kualitas lulusan sekolah di Jawa Timur, khususnya di Malang Raya, mampu bersaing di level global tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter bangsa. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




