MALANG POST – Transformasi perpustakaan menjadi kebutuhan mendesak guna menjaga relevansi literasi di tengah dominasi platform digital yang kian masif.
Hal tersebut mengemuka dalam talk show di program Idjen Talk City Guide FM, Sabtu (2/5/2026), yang menghadirkan narasumber dari praktisi komunitas, birokrasi, hingga akademisi.
Mereka sepakat, minat baca generasi muda tidaklah menurun, melainkan mengalami pergeseran media. Sehingga diperlukan inovasi layanan, penambahan jam operasional, hingga pengembangan ruang belajar hybrid untuk menarik kembali minat masyarakat terhadap buku.
Ketua Komunitas Duduk Baca, Muhammad Eko Aditya, menegaskan, fenomena yang terjadi saat ini bukanlah penurunan minat baca. Melainkan perubahan gaya hidup digital. Menurutnya, perpustakaan konvensional harus mulai menanggalkan kesan kaku.
“Minat baca generasi muda sebenarnya tetap tinggi, namun medianya yang berubah. Komunitas seperti Duduk Baca mencoba mengemas literasi lebih santai dan fleksibel agar dekat dengan anak muda. Kolaborasi antara komunitas dan perpustakaan menjadi kunci agar ruang baca menjadi lebih hidup dan inklusif,” ujar Eko Aditya, Sabtu (2/5/2026).
Layanan Tanpa Batas: Kota Batu Tambah Jam Operasional
Sejalan dengan kebutuhan masyarakat, Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan terus melakukan terobosan layanan. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan menambah jam operasional perpustakaan hingga akhir pekan (weekend).
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu, Dr. Abdul Rais, menjelaskan, kebijakan ini bertujuan untuk memberikan akses seluas-luasnya, bagi pelajar dan masyarakat umum yang memiliki keterbatasan waktu pada hari kerja.
“Kami ingin perpustakaan lebih mudah diakses. Selain menambah jam operasional, kami juga memperkuat layanan berbasis digital.”
“Perpustakaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi harus menjadi pusat edukasi dan aktivitas sosial masyarakat yang relevan dengan perkembangan zaman,” jelas Abdul Rais.
Perpustakaan Perguruan Tinggi Menuju Ruang Hybrid
Di level akademisi, tantangan literasi dijawab dengan integrasi teknologi. Kepala UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM), Nurenza Yannuar, menyebutkan, perpustakaan kampus kini telah bertransformasi menjadi ruang belajar hybrid.
Saat ini, mahasiswa tidak lagi hanya bergantung pada koleksi buku fisik, tetapi juga diberikan kemudahan akses terhadap ribuan jurnal online dan e-book. Integrasi teknologi ini dinilai sebagai kebutuhan mutlak untuk mendukung riset dan referensi akademik secara cepat dan akurat.
“Tantangan ke depan adalah bagaimana perpustakaan tetap menarik sebagai ruang fisik sekaligus digital. Oleh karena itu, inovasi layanan dan kenyamanan ruang menjadi faktor krusial. Mahasiswa butuh tempat yang nyaman untuk berdiskusi secara fisik, namun tetap memiliki akses digital yang kencang,” tutur Nurenza.
Melalui sinergi antara pemerintah, komunitas, dan institusi pendidikan, diharapkan budaya literasi baru dapat terbentuk. Perpustakaan diharapkan tidak lagi sekadar menjadi gudang buku, melainkan ekosistem pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan mampu mengikuti ritme gerak generasi digital di Malang Raya. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




