Rektor UIN Maliki Malang, Prof.Dr.Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si, menghadiri Halal Bi Halal dan Peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di Aula Rektorat Lantai 5 UIN Maliki, Minggu (19/4/2026). (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menegaskan pentingnya peran perempuan dalam menjawab berbagai persoalan sosial. Khususnya maraknya kasus pelecehan seksual dan bunuh diri di Kota Malang.
Hal itu disampaikannya dalam acara Halal Bihalal dan Peringatan Hari Lahir ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) oleh Pengurus Cabang (PC) Muslimat NU Kota Malang.
Kegiatan yang mengusung tema “Perempuan Berdaya Silaturahmi Terjaga Menghidupkan Nilai Kartini dalam Kebersamaan” ini diselenggarakan di Aula Rektorat Lantai 5 UIN Maliki Malang pada Minggu (19/4/2026). Hadir di kegiatan ini jajaran pengurus serta anggota Muslimat NU Kota Malang.
Prof. Ilfi menyampaikan rasa bangganya sebagai bagian dari Muslimat NU. “Saya bangga menjadi kader Muslimat. Karena organisasi ini telah banyak memberikan kontribusi nyata bagi umat. Khususnya dalam pemberdayaan perempuan, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin,” ujar Prof Ilfi.
Dia tambahkan bahwa keberadaan Muslimat NU tidak hanya sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu menghadirkan kebermanfaatan luas bagi masyarakat. Menurut Ning Ilfi, perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun peradaban, dimulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat.
Lebih lanjut, Prof Ilfi menyoroti fenomena sosial yang masih menjadi tantangan di Kota Malang, seperti meningkatnya kasus pelecehan dan kekerasan seksual, serta kasus bunuh diri. Dia menilai kondisi ini tidak lepas dari persoalan kesehatan mental yang masih kurang mendapat perhatian serius.
“Sebagai seorang perempuan, kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas ini. Masih banyak terjadi pelecehan, kekerasan seksual, bahkan kasus bunuh diri. Ini menjadi alarm bahwa ada persoalan kesehatan mental yang harus kita tangani bersama,” tegas Ning Ilfi.

Suasana Halal Bihalal dan Peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di UIN Maliki Malang. (Foto: Istimewa)
Menurutnya, perempuan memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang sehat secara mental dan sosial. Karena itu, dia mengajak seluruh kader Muslimat NU untuk aktif mengambil peran dalam edukasi, pendampingan, serta penguatan nilai-nilai keluarga.
Prof Ilfi juga berpesan bahwa seorang perempuan harus memiliki bekal yang kuat, baik dari sisi pendidikan, spiritualitas, mentalitas, maupun akhlakul karimah. Hal ini penting karena perempuan, khususnya ibu, merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya.
“Ibu adalah madrasah pertama. Jika ibunya kuat secara pendidikan, spiritual, dan mental, maka akan lahir generasi yang kuat pula. Di sinilah pentingnya perempuan untuk terus belajar dan berdaya,” imbuhnya.
Prof Ilfi juga menegaskan kesiapan UIN Maliki Malang untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Muslimat NU dan organisasi lainnya. Dia menyebut bahwa UIN Maliki Malang memiliki sumber daya manusia yang kompeten untuk bersinergi dalam program-program pemberdayaan masyarakat di Malang Raya khususnya.
Informasi kasus bunuh diri dan pelecehan seksual di Kota Malang telah menjadi perhatian serius di wilayah ini dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data dan laporan terkini hingga April 2026, tren kasus bunuh diri sepanjang tahun 2026, dilaporkan adanya beberapa insiden percobaan bunuh diri di titik rawan seperti Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat). Sebagai contoh, pada 19 Januari 2026, seorang mahasiswi dilaporkan melakukan upaya itu.
Pemkot Malang pun berupaya menggeser fokus penanganan dari sekadar infrastruktur (seperti pagar pembatas) ke pendekatan psikologis dan kesehatan mental sebagai solusi jangka panjang. Masalah kesehatan mental, tekanan akademik, dan masalah pribadi seringkali menjadi faktor yang disoroti oleh para ahli.
Sementara terkait kasus pelecehan seksual, data dari Dinsos P3AP2KB Kota Malang menunjukkan adanya ratusan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang tahun 2025, yang didominasi oleh kekerasan terhadap anak. (Eka Murcahyo)




