MALANG POST – Upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan ramah anak terus digenjot Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Batu. Tidak sekadar wacana, langkah konkret dilakukan melalui sosialisasi masif di seluruh satuan pendidikan.
Fokusnya jelas, membangun budaya positif di sekolah sekaligus menekan potensi kekerasan, perundungan, hingga perilaku negatif lain yang bisa mengganggu tumbuh kembang peserta didik.
Kepala Dindik Kota Batu, Alfi Nurhidayat menegaskan, bahwa tanggung jawab menciptakan sekolah aman tidak bisa dibebankan kepada guru semata. Seluruh elemen harus bergerak bersama.
“Tujuan utama kita adalah menumbuhkan komitmen bersama dalam menjaga keamanan dan kenyamanan sekolah. Ini bukan hanya tugas guru, tapi juga wali murid dan peserta didik,” tegasnya, Minggu (19/4/2026).
Sebagai bentuk keseriusan, Dindik menggelar diseminasi bertema Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kegiatan ini mengacu pada Permen Dikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 serta Kepmen Dikdasmen Nomor 17 Tahun 2026.
Tak tanggung-tanggung, kegiatan tersebut melibatkan 93 kepala SD dan 288 guru se-Kota Batu. Mereka diajak menyamakan persepsi sekaligus berbagi praktik baik yang sudah diterapkan di masing-masing sekolah.

MARATON: Kepala Dindik Kota Batu, Alfi Nurhidayat saat secara maraton melakukan sosialisasi pengimbasan budaya sekolah aman dan nyaman di seluruh wilayah Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menurut Alfi, budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan fondasi penting dalam menciptakan pembelajaran yang kondusif dan inklusif.
“Kita perlu menyebarluaskan praktik baik yang sudah berjalan agar bisa dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah,” ujarnya.
Selain penguatan budaya positif, Dindik juga mulai mendorong pembatasan penggunaan gawai atau telepon seluler di kalangan siswa. Kebijakan ini dilakukan sebagai langkah preventif terhadap dampak negatif penggunaan perangkat digital yang berlebihan.
Langkah tersebut selaras dengan kebijakan Dindik Provinsi Jawa Timur yang tengah melakukan uji coba pembatasan penggunaan gawai bagi siswa jenjang SMA, SMK dan SLB pada April ini.
Dindik Kota Batu pun mengimbau guru dan wali murid untuk aktif melakukan pengawasan penggunaan ponsel, baik di sekolah maupun di rumah. “Pembatasan penggunaan gadget ini diharapkan berdampak positif, terutama dalam meningkatkan fokus belajar siswa,” jelas Alfi.
Ia menambahkan, penggunaan gawai yang berlebihan berpotensi menurunkan konsentrasi belajar, memicu kecanduan, hingga berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Gangguan mata akibat paparan layar juga menjadi perhatian serius.
Di sisi lain, pembatasan ini diyakini dapat meningkatkan interaksi sosial siswa, baik dengan teman sebaya maupun keluarga. Hal itu penting dalam mendukung perkembangan sosial dan emosional anak.
Tak kalah penting, kebijakan ini juga dinilai mampu menekan risiko cyberbullying, baik sebagai korban maupun pelaku. “Harapannya, sekolah benar-benar menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan berkembang secara optimal,” tandasnya. (Ananto Wibowo)




