MALANG POST – Fenomena El Nino, sebenarnya terjadi di Samudera Pasifik, bukan di Indonesia. Namun dampaknya bisa dirasakan berupa berkurangnya curah hujan, terutama saat musim kemarau.
Karenanya masyarakat tetap diminta waspada. Karena potensi pengurangan hujan bisa memicu kekeringan dan peningkatan suhu terasa lebih panas.
Penegasan itu disampaikan Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Staklim Jawa Timur, Ahmad Luthfi, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk. Yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Sabtu (18/4/2026).
Luthfi menegaskan, istilah ‘Godzilla El Nino’ bukan istilah resmi BMKG. Pihaknya hanya mengenal kategori kekuatan El Nino dari lemah, sedang, kuat hingga sangat kuat.
“Untuk tahun 2026, BMKG memantau El Nino masih berada pada kategori lemah hingga menengah,” imbuhnya.
BMKG Staklim Jawa Timur memprediksi, dampak El Nino akan mulai terasa lebih kuat pada pertengahan tahun. Yakni diperkirakan terjadi mulai Agustus hingga Oktober.
Pada periode tersebut, sebut Luthfi, peluang hujan diprediksi sangat kecil bahkan bisa berlangsung hingga lima sampai enam bulan.
“Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan, penurunan debit air hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.”
“Meski begitu, kenaikan suhu tidak akan terlalu ekstrem secara angka. Namun yang dirasakan masyarakat, cuaca akan terasa lebih panas karena minimnya tutupan awan,” ujarnya.
Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho menyebut, dampak paling nyata El Nino di wilayahnya adalah kebakaran hutan dan lahan.
Hal ini berkaca dari kejadian besar pada tahun 2019 dan 2023, yang menghanguskan ratusan hektar kawasan hutan.
“Secara geografis, Kota Batu dikelilingi pegunungan dengan vegetasi mudah terbakar. Seperti cemara dan alang-alang kering.”
“Kondisi lereng yang curam, juga membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit saat kebakaran terjadi,” katanya.
BPBD mengimbau, masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta lebih berhati-hati saat beraktivitas di hutan.
Selain itu, sebutnya, warga juga diminta mulai menghemat air dan menyiapkan cadangan. Mengingat kebutuhan air bisa mencapai 10 hingga 12 liter per orang per hari saat kemarau.
Pihak BPBD sendiri, juga sudah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau. Salah satunya dengan menetapkan status siaga darurat yang direncanakan mulai diberlakukan pada bulan Mei.
Selain itu, BPBD juga menggencarkan patroli bersama Perhutani, TNI, Polri dan masyarakat peduli api. Langkah ini dilakukan untuk mencegah aktivitas berisiko seperti pembakaran lahan, api unggun, hingga perburuan liar.
“BPBD juga menyoroti bulan Juli hingga September, sebagai periode paling rawan kebakaran. Oleh karena itu, sinergi antar pihak dan kesadaran masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah bencana,” sebutnya. (Nurul Fitriani/Ra Indrata)




