MALANG POST— Ilmu Teknik Industri ternyata tidak hanya terpaku pada sektor manufaktur besar. Hal ini dibuktikan oleh Dwi Apink Dela Nesfian, lulusan terbaik Teknik Industri S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).
Melalui skripsinya yang bertajuk “Optimasi Industri Peternakan Ayam Broiler di UD Sumber Urip Kabupaten Jember”, Apink biasa disapa memberikan dampak nyata bagi usaha peternakan milik keluarganya sendiri.
Apink menjadi bagian dari wisudawan Fakultas Teknologi Industri (FTI) yang dijadwalkan akan mengikuti prosesi wisuda ke-75 periode I, tahun 2026, pada Sabtu, 25 April 2026. Dalam risetnya yang dibimbing oleh Dr. Ir. Nelly Budiharti, MSIE., dan Mariza Kertaningtyas, ST., MT, Apink menggunakan metode yang tergolong cukup berat untuk level sarjana.
Yakni kombinasi tiga metode sekaligus: FTA (Fault Tree Analysis), FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) dan Linear Programming. Ia berupaya memecahkan masalah operasional yang sering dihadapi oleh usaha yang dikelola Pakde-nya tersebut, terutama mengenai bobot ayam yang sering meleset dari target.
“Saya menemukan bahwa manajemen pakan dan tingkat kepadatan kandang memiliki risiko tertinggi terhadap kualitas ternak. Lewat ilmu yang saya dapat di kampus, saya ingin usaha keluarga ini bisa berkelanjutan dan hasilnya lebih optimal,” jelas Apink.

Berdasarkan analisisnya, faktor pakan memiliki pengaruh yang sangat penting karena melibatkan tiga jenis pakan dengan fase berbeda yang harus pas komposisinya. Selain itu, kepadatan kandang yang berlebih terbukti membuat ayam stres sehingga nafsu makan turun drastis.
Melalui pengolahan data menggunakan software POM-QM dan usulan perbaikan 5W+1H, Apink merekomendasikan penyeimbangan nutrisi pakan serta luas ideal kandang.
Bagian paling menantang bagi Apink adalah saat menyusun model matematika untuk bidang peternakan yang cukup berbeda dengan industri manufaktur biasa. Namun, berkat ketekunannya, riset ini berhasil memberikan pemahaman mendalam bagi keluarganya dalam mengelola bisnis secara lebih profesional.
Pencapaian akademik dengan IPK 3,78 dalam waktu 3,5 tahun ini merupakan pelunasan janji Apink kepada almarhum ayahnya, Imam Zunaedi Salaf, yang berpulang pada 2019.
Pesan sang ayah agar semua anaknya menjadi sarjana dan menjaga nama baik keluarga menjadi penyemangat bagi gadis asal Jember, Jawa Timur ini. Apalagi, sang ibu, Endang Sulastri, kini harus berjuang sendirian sebagai petani palawija
Selama kuliah, ia justru sangat aktif sebagai Koordinator Asisten Laboratorium yang membawahi empat lab sekaligus: Lab. Perancangan dan Sistem Informasi, Lab. Manufaktur, Lab. Komputer, serta Lab. Perancangan Teknik Industri.
“Jadi asisten lab itu manfaatnya besar untuk soft skill seperti manajemen waktu dan berbicara di depan publik. Secara hard skill juga lebih terasah karena harus paham materi lebih dalam sebelum mengajar mahasiswa lain,” tutur alumnus SMA Negeri Balung tersebut.
Selain aktif di organisasi daerah FKMJM (Forum Mahasiswa Jember di Malang), dan penelitian Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bersama dosen Dr. Ir. Nelly Budiharti, MSIE, Apink bahkan sempat bekerja part-time dan freelance di bidang food & beverage (F&B) untuk menambah uang saku.
Meskipun sempat merasa stres pada semester lima karena beban kuliah dan organisasi yang menumpuk, disiplin dan konsistensi menjadi kuncinya.
“Jaga kepercayaan orang tua dan ibadah, itu yang membuat saya tetap stabil,” pungkasnya.
Kini, dengan gelar sarjana di tangan, Apink siap membawa ilmu Teknik Industri untuk memajukan sektor-sektor usaha di masyarakat. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




