Giat panitia kurban Idul Adha di Masjid Fatimah Jl Simpang Sulfat Selatan Kota Malang, Kamis 28 Mei 2026. (Foto: Yanuar/Malang Post)
MALANG POST – Setiap Idul Adha, banyak orang ragu menikmati daging kambing atau sapi karena khawatir tekanan darah melonjak dan kolesterol naik. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meluruskan kesalahpahaman ini.
Menurutnya, daging kurban bukanlah sumber masalah. Justru cara pengolahannya yang perlu diwaspadai.
Dalam tayangan edukatif “Budi Gemar Sharing” (BGS), Menkes menjelaskan bahwa daging kurban kaya akan protein, zat besi dan vitamin B12 yang baik untuk tubuh.
Lalu, mengapa banyak orang merasa tensinya naik setelah menyantap daging kurban? Jawabannya, terletak di dapur, bukan di kandang.
Pertama, garam dan MSG berlebih menjadi biang kerok utama. Bumbu rendang, semur atau gulai biasanya mengandung garam dan penyedap dalam jumlah tinggi. Natrium dari garam menarik air ke dalam pembuluh darah, sehingga volume darah meningkat dan tekanan darah ikut naik.
Kedua, santan kental dan minyak goreng ikut memperburuk keadaan. Lemak jenuh dari santan dan minyak yang dipanaskan berulang kali dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah.
Ketiga, kurangnya serat saat menyantap daging membuat tubuh kesulitan membuang lemak berlebih. Serat dari sayuran hijau seperti daun singkong, kacang panjang, atau lalapan membantu mengikat kolesterol dan membawanya keluar dari tubuh.
Keempat, porsi berlebihan juga menjadi faktor. Makan daging dalam jumlah besar sekaligus membebani sistem pencernaan dan metabolisme hati.
Sebagai perbandingan, dalam setiap seratus gram daging kambing tanpa lemak terkandung sekitar 20,6 gram protein, 3,6 gram lemak, dan 75 miligram kolesterol.
Sementara itu, daging sapi tanpa lemak dalam jumlah yang sama mengandung 26,1 gram protein, 2,8 gram lemak, dan 70 miligram kolesterol.
Sebagai pelengkap, santan kental mengandung 24 gram lemak per seratus gram, meski tanpa kolesterol, namun tingginya lemak jenuh justru berbahaya bagi pembuluh darah.
Dari data ini terlihat jelas bahwa daging itu sendiri rendah kolesterol. Justru tambahan santan dan minyaklah yang membuat kandungan lemak melonjak drastis.
Pilihlah teknik memasak rendah lemak seperti memanggang, merebus, atau menumis dengan sedikit minyak zaitun. Hindari menggoreng dengan minyak banyak.
Sebelum dimasak, buang bagian lemak putih yang terlihat pada daging sapi atau kambing, karena langkah sederhana ini bisa mengurangi kadar kolesterol hingga 30 persen.
Jika ingin masakan bersantan, gunakan santan cair dari perasan pertama yang sudah dicampur air, atau ganti dengan susu rendah lemak. Perkaya masakan dengan sayuran seperti wortel, buncis, atau daun singkong agar serat membantu tubuh memproses daging lebih baik.
Kontrol porsi juga penting. Idealnya, konsumsi daging merah per hari tidak lebih dari seratus hingga seratus lima puluh gram, atau sekitar dua hingga tiga potong sedang. Jangan makan daging di setiap waktu makan.
Perbanyak minum air putih karena air membantu ginjal menyaring natrium berlebih dari darah. Terakhir, jangan lupa bergerak, seperti berjalan kaki setelah makan, untuk membantu metabolisme dan mencegah penumpukan lemak.
“Jangan takut daging kurbannya. Takutlah pada santan kental, garam berlebih, dan porsi yang tidak terkontrol. Idul Adha adalah momen berbagi kebahagiaan, termasuk berbagi cara makan yang sehat untuk keluarga.”
Yuk, jadikan Idul Adha tahun ini lebih bermakna: tetap nikmati hidangan, tapi dengan ilmu dan kesadaran penuh terhadap kesehatan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




