MALANG POST – Gerbong legiun asing asal Brasil di skuad Arema FC, kembali menyusut setelah gelandang serang andalan, Valdeci Moreira (31), secara resmi mengumumkan salam perpisahan melalui akun Instagram pribadinya, Rabu (27/5/2026). Keputusan mendadak pemain bernomor punggung 10 yang baru merampungkan satu musim kompetisi penuh ini, menyusul langkah senyap kompatriotnya, Lucas Frigeri. Sekaligus memaksa manajemen Singo Edan melakukan perombakan total pada komposisi lini tengah, guna menyongsong ketatnya persaingan kompetisi Super League musim depan.
Kamar ganti Arema FC kembali dingin. Belum kering air mata Aremania, melepas kepergian kiper pahlawan Lucas Frigeri, Rabu kemarin, sebuah tulisan di layar kaca telepon genggam kembali memukul batin para pendukung setia Singo Edan.
Pemilik jersi keramat nomor 10, Valdeci Moreira, menulis kalimat pamit. Mengucapkan kata da dadah.
Bagi pencinta sepak bola di Bumi Arema, kepergian gelandang pengatur serangan asal Negeri Samba ini memicu romansa tersendiri. Ingatan publik tentu belum pulih dari laga pemungkas musim 2025/2026 kontra PSIM Yogyakarta di Stadion Kanjuruhan, Jumat (22/5/2026) pekan lalu.
Kala itu, Valdeci mencetak gol penutup yang teramat indah. Sebuah sepakan melengkung (placing) mematikan dari luar kotak penalti yang menghujam deras ke tiang jauh gawang lawan. Stadion bergemuruh.

Namun, ada yang ganjil saat selebrasi terjadi. Valdeci berlari ke pinggir lapangan, melepas jersinya, lalu membentangkan nomor punggung 10 ke arah tribune Aremania. Tiruan gaya ikonik ala Lionel Messi di Camp Nou.
Saat itu, kita mengira itu hanyalah luapan kegembiraan biasa. Ternyata keliru. Itu adalah kode. Sinyal pamit yang sengaja dia titipkan agar namanya tetap hidup di hati sanubari para pendukung.
“Sangat menyenangkan dapat membela warna kebesaran Anda dan menjadi salah satu Aremania selama musim ini. Terima kasih kepada semua staf dan rekan-rekan saya atas rasa hormat dan perjuangannya sepanjang tahun,” tulis Valdeci lewat akun @valdecimoreira_, Rabu (27/5/2026).
Pemain berusia 31 tahun itu jujur menilai rapor dirinya sendiri selama berbaju biru barat. Musim perdananya di Malang disebut sebagai petualangan yang gila. penuh riak gelombang.
“Tahun ini sangat gila, kita menang dan kalah. Saya mencetak gol dan assist, saya bermain dengan baik dan saya juga pernah bermain dengan buruk.”
“Tapi bagi saya, yang paling penting adalah mengagungkan nama Arema hingga detik terakhir saya,” ungkapnya dengan nada emosional.
Sepanjang bergulirnya kompetisi, kontribusi Valdeci sebenarnya terhitung lumayan jernih. Dia turun gelanggang sebanyak 26 pertandingan resmi.
Visi bermainnya yang tajam serta akurasi distribusinya dari lini kedua sukses menyumbangkan lima gol dan empat assist penting untuk skema ofensif tim pelatih.
Tak heran, kepergiannya langsung menuai reaksi dari eks kiper Arema, Lucas Frigeri, yang ikut menyuntikkan semangat di kolom komentar: “Kamu benar-benar luar biasa, bro. Selalu sukses!” tulis akun @lucasfrigeri01.
Hingga laporan ini diturunkan, jajaran manajemen Arema FC di Jalan Mayjen Panjaitan, belum merilis selembar pun rilis resmi terkait status hukum kontrak Valdeci.
Namun, Anda sudah tahu: polanya selalu sama. Manajemen Arema FC biasanya baru akan bersuara setelah sang pemain menyelesaikan seluruh urusan administrasi keluar.
Kasus Valdeci ini setali tiga uang dengan proses hengkangnya Frigeri kemarin; viral dulu di jagat maya, baru stempel rilis menyusul kemudian.
Dengan pamitnya sang jenderal lapangan tengah, Arema FC kini resmi kehilangan dua pilar asing asal Brasil dalam kurun waktu kurang dari sepekan.
Ruang kemudi serangan Singo Edan kini lowong, menyisakan pekerjaan rumah yang menumpuk bagi manajemen untuk berburu playmaker baru yang sepadan sebelum peluit latihan perdana bulan Juli nanti ditiup.
Valdeci telah menuntaskan tugasnya mengharumkan lambang singa di dada, kini dia pergi sebagai seorang Aremania sejati. Obrigado, Valdeci! (Ra Indrata)




