MALANG POST- Musim kemarau memang sudah mulai terasa di berbagai daerah, tetapi kini perhatian publik kembali mengarah ke satu fenomena bernama El Nino “Godzilla”.
Istilah ini ramai dibicarakan karena diprediksi berpotensi memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia pada kisaran April hingga Oktober 2026.
Yang membuatnya terdengar “serius” adalah karena “El Nino” dalam skenario ini disebut bisa memicu kemarau lebih panjang dan penurunan curah hujan.
Namun, penting dicatat: hingga saat ini, kondisinya masih berada pada tahap potensi, bukan kepastian.
BMKG menegaskan, “Godzilla” bukan terminologi resmi dalam klimatologi. Secara ilmiah, El Nino umumnya dikategorikan menjadi lemah, moderat dan kuat.
Nah, istilah “Godzilla” lebih merupakan julukan populer untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan dampaknya bisa terasa lebih luas.
Julukan ini mulai dipopulerkan ilmuwan NASA, Bill Patzert, pada 2015 untuk menggambarkan El Nino terkuat dalam sejarah modern.
Di Indonesia, istilah ini kembali mencuat setelah BRIN menyebut potensi El Nino yang kuat bisa bertemu dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang berpotensi memperparah kondisi kering.
El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur menghangat dibanding biasanya.
Dalam kondisi normal, angin di wilayah khatulistiwa cenderung mendorong air hangat ke arah barat, termasuk menuju kawasan yang memicu pembentukan awan hujan di sekitar Indonesia.
Namun saat El Nino terjadi, angin melemah sehingga pusat berkumpulnya air hangat dan proses pembentukan awan hujan bergeser menjauh dari Indonesia. Akibatnya, curah hujan cenderung menurun.
BRIN memproyeksikan potensi kombinasi El Nino dan IOD positif dapat terjadi pada musim kemarau, April–Oktober 2026. Tetapi BMKG mengingatkan: saat ini kondisi ENSO masih netral dan belum dipastikan berkembang menjadi El Nino.
Di sisi lain, outlook NOAA per Maret 2026 menunjukkan peluang El Nino meningkat pada periode Juni–Agustus 2026 dengan probabilitas sekitar 62%.
Artinya, gagasan “Godzilla hingga Oktober” masih berupa kemungkinan yang perlu diantisipasi, bukan kepastian yang bisa langsung dianggap pasti.
Jika El Nino yang kuat benar muncul, dampaknya biasanya terasa paling jelas di wilayah selatan Indonesia, seperti Jawa hingga Nusa Tenggara.
Dampak yang mungkin muncul antara lain: Kemarau lebih panjang dan penurunan curah hujan. Ketersediaan air menurun di waduk, sungai, dan sumur.Gangguan pertanian, termasuk penurunan hasil panen.
Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat. Selain kering, cuaca panas juga dapat memengaruhi kesehatan, termasuk potensi meningkatnya kasus DBD (demam berdarah dengue).
BRIN juga menyebut pengaruh dapat makin kuat bila El Nino bersamaan dengan IOD positif, yang membuat proses pembentukan awan hujan makin berkurang.
Kabar baiknya, potensi El Nino tidak otomatis berarti “tidak ada hujan sama sekali”. Indonesia masih berada dalam fase transisi/pancaroba, sehingga pola hujan bisa tetap terjadi dengan waktu yang tidak seragam.
Dosen IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa awal musim tidak sama di semua wilayah. Selain itu, indikator menuju kemarau tetap terlihat dari kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik, tetapi hujan tetap mungkin turun karena dinamika atmosfer lokal.
Walau “El Nino Godzilla” masih berstatus potensi, indikator musim kemarau yang mungkin lebih panjang cukup menjadi alasan untuk bersiap.
Langkah yang bisa dilakukan antara lain: Menghemat air dan mengatur penggunaan air rumah tangga. Menjaga lingkungan agar tidak memperparah risiko kekeringan dan kebakaran.
Memantau informasi resmi BMKG. Menyiapkan rencana terkait kebutuhan air dan aktivitas pertanian/operasional sesuai kondisi daerah
Karena pada akhirnya, menghadapi cuaca ekstrem bukan soal menunggu kepastian—melainkan soal berani mempersiapkan diri sejak awal. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




